Sabtu, 21 September 2019

Claudia Emmanuella Santoso





Gadis sederhana berambut panjang asal Cirebon. Wajah tanpa polesan, segaris lipstik pun tidak.
Berjuta mata terpaku menunggu suaranya.
Entah kekuatan dari mana yang mampu mendobrak rasa minder orang  Asia ini di laga adu suara Eropa ?
Langkahnya tenang dan lembut selembut gaun beludru yang menutup lengan.
Judul lagu masih asing, bikin tambah penasaran sajian apa yang akan dia beri untuk 4 juri Jerman .
Di sudut stage seorang sahabat memegang notebook. Lewat skype keluarga di Cirebon menyemangati dan berfoa. Dada mereka pasti bergemuruh melebihi saya.

Never Never Again adalah petikan dari sinema nge-hit  tahun 2017.
Nada ceria kah?  Atau seromantis back sound  film2 yg dihiasi vokal  Phil Collins dan Elton jhon?
Eh, sudah lama banget saya tdk nonton bioskop, hehe  takut kalau malaikat maut tiba tiba dapat tugas menjemput saya di sana.

Jeda waktu cukup panjang sejak gadis itu berjalan, berhenti dan menatap juri, tenang ia memastikan mikrophon pd posisi tepat, lalu  samar kedengaran  4x ketukan sebelum tuts piano disentuh.

Suara lembut membuai.
..Hening.

I'm trying to hold my breath...

Lirik pertama sudah membawa saya ke alam rasa dia
denting henti ... suara gadis  menyelam dengan cantik ke semua hati.

ku mencoba menahan nafas..


  Kadang lagu tak hanya lagu. Ia dapat  menjelma jadi puisi indah di telingan .

Can't late this moment end..

Gilak! suara rendahnya terkontrol lurus! Lalu menyambung dengan nada harap penuh cinta...

Take my hand.

Mulai menyeret perasaan perempuan2. Tak hanya si  juri cantik itu!
Serasa  kami lah yg mengulurkan tangan pada kekasih pujaan sambil bilang

Aku tak sanggup
membiarkan moment ini berlalu
Tidakkah kau dengar?
Gema mimpiku semakin membahana

Semua kilau
Seluruh gemintang

Semua tak pernah cukup

Menara emas terlalu sedkit
Tangan mampu menggegam bumi
Tapi semua tak akan pernah cukup
 Tak akan pernah...
Tak akan pernah...

Vibranya  tak tajam, mengayun halus  meski ke high not !
Dan yang bikin salut,  dia tak terpengaruh suasana sekitar. Hanya asyik berenang di gema mimpi tadi. Hentakan tombol juri pertama yang cukup bikin saya kesal karna takut mengganggu konsentrasinya, ternyata tak mempengaruhi kestabilan suara Claudia Immanuela Santoso..

Coba perhatikan bagaimana dia beru tekanan di lirik Never...Never ...Enough! Lantang tapi mbulet dan masih tetap kontrol.

Tiap penyanyi punya ciri has masing  masing dalam mengolah rasa ke dalam lagu .
Claudia punya sesuatu yang tak ada pada penyanyi orignal ( Loren Allred)  mau pun penyanyi di film ( Jenny Lind)  Claudia lebih dalam penjiwaannya. Perasaan orang Asia memang tdk bisa dibohongi yaa...lebih halus, lebih sensitif.
Tampilannya beri pesan, bhw pernak pernik  kemasan adalah penipu dan perusak konsentrasi.

Detik detik ahir bakal temui nada tinggi. Apa sanggup?
Dengan manis, tidak jomplang, tanpa bocor, Claudia beralih dari  (Head Voice) ke Falset voice tanpa mampir dulu ke chest voice. Manteepp!! Layaknya sungai tenang menerima air dari puncak gunung.

Terimakasih Claudia pembawa nama bangsa di sela kesibukan menuntut ilmu.
Tampil memukau. Ada madu dalam lagumu sejak lantunan awal  hingga pecah air matamu.
Jarang ada  juri menangis dan hadirin minta ulang.
Kini kau bukan lagi perantau kesepian. Banyak mata dan harapan tertuju padamu.

Ah, gara gara kamu pekerjaan rumah saya terbengkalai, asik nonton film lama ..THE GREATES SHOWMAN. Menyaksikan dua tangan bertaut di sana.


















Rabu, 18 September 2019

Lembutnya Spikoe Kuno's, Cake Legendaris







Aneka ragam makanan Indonesia banyak dipuji wisatawan Eropa mau pun Asia.
Tak sedikit vlog atau youtube bertema kuliner jajanan Indonesia  mendapat banyak subcriber.
Mengapa makanan kita menarik dan cepat cocok untuk lidah siapa saja sampai-sampai dirindukan?
Ternyata tak lepas dari sejarah.

Kedatangan Belanda ke sini membawa resep resep mereka yang tak asing di telinga, misalnya kue Kaasatengels, Klappertaart, yang lainnya telah berganti dengan nama khas Indonesia.

Kini ada cake nikmat teman minum teh atau kopi. Tak terlalu manis dan harum rempah terasa.
Namanya Spikoe Kuno's . Terinspirasi dari kue  tradisional Eropa. Harumnya berasal dari campuran Kapulaga, Kayu Manis, Cengkeh, Bunga Pala dan  Adas Manis.

Cake seharga Rp 90.000 ini  berbahan baku istimewa yaitu Talas asli Bogor.
Resep kuno 1952 dipadu dengan talas menjadikan Spiko Kuno's berwarna ungu dan kuning. Tampilan menarik dan  aroma rempahnya menggugah selera.


Tak terasa Outlet Tallubi dengan bayak pilihan cake ini sudah memiliki 4 tempat..

- Jalan Pajajaran 20 M Bogor.

- Jl.Soleh Iskandar 18 B Bogor

- Jl Raya Gadog Bogor

- Jl.Surya Kencana 278 Bogor




Beberpa hal yang saya suka dari kue kue produk Tallubi

* Memanfaatkan komoditi lokal. Sudah saatnya masyarakat mengalihkan ketergantungan pada bahan makanan dari gandum hasil impor

* Berlabel MUI hingga tak meragukan kehalalannya.

* Menyehatkan.
Hasil penelitian 2 dosen Ubaya Endang Srihari  dan Farid Sri Lingganingrum, talas memiliki kandungan kalori dan  lemaknya rendah sekitar 0,2 % sedangkan seratnya tinggi 5,3 gram. Cocok buat yang sedang diet bahkan anti diabetes.

* Lembutnya menyenangkan karna tekstur talas yang pulen membuatnya beda dengan cake tepung gandum.

* Kemasan kokoh dengan disain  menarik

* Aroma dan rasanya enak, cukup awet karna terjaga kelembabannya.

* Cocok untuk  hadiah, antaran, oleh-oleh, atau snack seminar. Dibawa piknik pun aman karna terjaga dalam kemasan.

Satu lagi! Cakenye bergaris mempermudah pemotongan. Kan saya bukan orang Libra, sulit potong dengan adil !  :)

Cepat beli ya, mumpung dapat discount 20% bagi yang menggunakan kartu debet Bank MANDIRI.


Untuk keterangan lebih rinci, klik saja medsosnya.

Line  :  @bikabogor

IG     :  @bikabogor , @warunktallubi

FB    :  Bika Bogor, Warunk Tallubi

WA  :  0888  4829  626














Selasa, 10 September 2019

Jadi, Tak Usah Kecewa


Kenapa ada manusia berpendidikan tinggi lulusan Univeraitas Islam disertasinya malah melecehkan hukum Allah?

Kok ulama ternama dari organisasi besar malah menganggap remeh malaikat dan siksa kubur?

Mengapa lahir manusia macam Abu Janda yang setiap muncul kata2nya berbau busuk, menikam setiap jantung muslim?

Kecewa...Pedih.. Ingin berontak melawan.

Tapi teringat..

Manusia seperti mereka memang harus hadir di bumi agar isi Quran terbukti benar. Perkataan Allah adalah kebenaran.

Kita duga ini kejadian luar biasa zalim, gejala ahir zaman di mana banyak penantang Tuhan.
Padahal hanya sejarah yang berulang.

Hidup singkat dan tak enak.
Tak satu pun ayat mencantumkan pujian Allah pada dunia.
Maka cukup 1 skenario saja diberi untuk mahluk kreatif ini.





Jumat, 30 Agustus 2019

Percakapan Sore



Wajah renta itu maju mendekat

Apa?
Kau  sudah menulis buku wasiat?
Mengapa?

Bayangkan jika badan kita sudah terbujur kaku, bibir rapat terkunci, sementara  banyak pesan di kepala yang belum sempat disampaikan.
 Kata maaf  tak mungkin lagi terucap,  ungkap  sayang terahir hanya menggenang, amanat dan janji belum terlunasi.


Lalu apa lagi yang kau tulis?

Kutulis  surat cinta dan nama2 orang yang banyak jasa dalam kehidupanku,
Tak lupa beberapa nama yang kelak memandikanku.
Mereka  kupilih bukan karna tahu  ilmunya saja, tapi juga pandai menjaga rahasia.
Sudah semestinya tiap keluarga punya 1 orang yang faham.

Fikiranmu terlalu jauh !

Bukankah masa rahasia itu pasti datang cepat atau lambat?
Benci membicarakannya berarti tak suka pada "Pertemuan" .
Dan pasti, yang akan ditemui pun enggan berjumpa


Meski tertatih menjaga keseimbangan  Roja' dan Khauf
Rindu pertemuan harus selalu dilatih


Mata renta penyimpan seribu peristiwa itu tak bertanya lagi




Selasa, 27 Agustus 2019

Jiwa Merdeka


Pemilik jiwa merdeka bangun pagi seperti senyum matahari
Suka ria simpan susah sedih.

Hanya pemilik jiwa merdeka yang mampu berkata benar.
Sanubari sesak dengan cinta
Membuat benci jadi malu

Ia telaga jernih di kokoh puncak bukit
Bertaburan semerbak sari sari fikir
Tetap teduh di riuh percakapan
Di kerumunan aneka sifat
Atau belantara duri debat tak berkesudahan

Jiwa merdeka tak kelu lidah
pengendali keadaan
Menenangkan dan memenangkan yang tersudut

Kemerdekaan nikmat terbesar
Tidakkah kau ingin jadi telaga?
yang kilaunya cantik tertimpa cahaya firman?

Kemerdekaan tak merasa istimewa
Ia tampil beda hanya karna banyak hati lalai
terbawa sandiwara pendek di siang hari

Hati merdeka selalu ingin menyesatkan teman
Sesat ke jalan yang benar








Selasa, 20 Agustus 2019

RINDU



Kala sepotong nada menjumpai sunyi
kata kata berserakan
memory menguasai


Aku jadi rindu menulis senja di sisa hari
Ridu yang rona
Rindu yang temaram
Rindu mengajarimu sepenggal doa

Cintaku dari musim ke musim
Iringi lengkung paruh ketabahanmu
menganyam sarang yang akan mengahangatkan
anak anak bersayap jingga

Sepertinya aku harus belajar
menghadapi kata kata rindu membisu
Semacam pesan yang tak pernah sampai

Senin, 05 Agustus 2019

Meski Mungil, Jadikan Rumahmu Nyaman Dan Dirindukan.





Hasil gambar untuk interior rumah minimalis sederhana
Dok: dekoruma




Sebetulnya saya sudah membatasi diri mengikuti event event Blogger.
Dari tahun 2013 meramaikan temu dan tulisan rasanya sudah cukup. Sekarang bermunculan blogger muda yang lebih layak bersaing tulisan, kaya ide mendisain template dan halaman kontent.

Tapi undangan dari Mbak Ani Berta selaku Moderator di event yang bertema SERBA SERBI MENATA RUMAH ini benar benar menarik saya untuk kembali.
Passion saya memang menata rumah dan  ilmu ini amat bermanfaat untuk 2 putera saya yang baru menginjakkan kakinya ke kehidupan berumah tangga.
Mereka belum terlambat untuk merencanakan lebih matang tema design rumah mereka kelak sesuai dengan kemampuan keuangan.

Awal berumah tangga saya seperti mesin Pom Bensin, dimulai dari Nol! Cara Allah memberi rejeki sangat halus sampai tak terasa ruangan demi ruangan terisi. Dari mulai bapak yang tiba tiba datang bawa meja makan, tempat strika, gantungan handuk, dan 1 set kursi tua. Lalu suami tiba tiba timbul semangat membuat tempat tidur sendiri, menyusul juga hadiah2 perlengkapan ringan seperti taplak meja, sprei, sarung bantal dan lain lain. Jadi hunian tanpa tema.

Tinggal PR slanjutnya adalah kreativitas saya menyiasati barang yang ada agar tidak terlalu ramai dengan warna yang saling bertabrakan. Referensi saya ambil dari majalah ditambah feeling seadanya.
Singkatnya feel and learn gitu lah, supaya ruang terkesan adem dan kalem.

Selera Hunian Kekinian

Akhir akhir ini semakin terang kita lihat generasi Babby Boomers telah mendominasi pasar jual beli properti dan menempati hunian baru di beberapa kota mandiri. Sementara generasi milenial memiliki daya beli yang tinggi pula di antara perubahan budaya dan lingkungan sosial.

Mayoritas generasi ini memilih hunian sesuai dengan kebutuhan mereka. Rumah type 33-60 banyak disukai. Alasannya harga terjangkau, bersifat ringkas,fungsional, perawatan ringan, tak memakan banyak waktu untuk membersihkan.

Semua terlihat pada penyelenggaraan Indonesia Properti Expo 2019 (IPEX 2019) yang berlangsung
dari tanggal 27 Juli hingga 4 Agustus kemarin.
Pengembang  menawarkan promo dengan kisaran harga ada yang di bawah 400 juta-an. Hebatnya ditawarkan pula rumah bersubsidi

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Ani Berta, teks

Gambar mungkin berisi: 1 orangGambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, berdiri


Konsep Tiny Housenya Adelya Vivin

Di ruang lain gedung JCC tersebut designer Interior muda yang cantik membuka Talk Show ini dengan kalimat menarik."Jadikan hunian kecil nyaman dan dirindukan"
Memilih rumah mungil otomatis membutuhkan gaya hidup yang disederhanakan. Karna lebih sedikit  ruang berarti lebih sedikit space untuk barang tambahan.


Penting menentukan apa saja kebutuhan keluarga. Ibu menulis perlengkapan apa saja untuk diruang dapur karna banyak kegiatan ibu di sana.
Ayah menentukan barang barang di ruang kerja, sedangkan anak anak kita pikirkan kamar tidur dan tempat bermainnya.

Mengenal karakter diri masing-masing akan tercipta ruangan yang bikin betah dan dirindukan saat pergi jauh. Banyak referensi melalui media atau pengalaman kita bermalam di villa atau hotel.
Adelya Vivin yang acapkali ke Kedai Kopi karna addict kopi ini membawa suasan kedai ke dalam rumahnya. Ia lengkapi ruang dengan tumbuhan penghijauan. Olive tree, Palm, Kaktus tanaman yang tidak merepotkan. Kesan ruang jadi segar dan tidak kaku.


Jangan lupa menghitung budget. Dengannya kita bisa menentukan lampu lampu seperti apa, jendela  dan plafon yang bagaimana agar lalu lintas  cahaya dan udara bisa lancar.
Perlu diingat bahwa  rumah mungil harus mengutamakan pencahayaan natural agar ruang tidak panas dengan cahaya lampu di siang hari.

Ruang dapur yang menyenangkan adalah yang segar, tak berasap, dinding bebas minyak. Untuk menghindarinya pasang Coocker Hood atau Exhaust House yang lebih ekonomis.


Bagaimana dengan pemilihan warna cat?
Tentu tak kalah penting. Warna akan meninggalkan kesan luas atau sempit.
Putih, abu abu muda, coklat muda bersifat netral. Warna yang cocok dengan tema rumah apa pun baik Rustic, French Country, Bohemian, Modern Japanesse, atau Scandinavian. Dipadukan dengan warna furniture apa pun cocok.

Bagi saya warna netral ini tidak lekang oleh waktu dan menciptakan kesan tenang pada suatu ruang.
Pilihan saya selalu jatuh pada warna soft untuk ruang tidur. Meski dengan warna agak strong pun saya mudah  rilex dan langsung nyenyak.

Waktu bahas soal storage dan bagaimana penempatannya saya lebih fokus. Karna saya senang memudahkan siapa saja dalam mencari sesuatu. Penyimpanan yang baik dan keren buat saya adalah yang seorang tamu pun bisa mudah mencarinya.


Storage adalah perangkat penyimpanan. Ada yang suka dengan model terbuka (Open Storage), ada juga yang suka dengan model laci-laci, box, atau keranjang etnic seperti saya. Sortir barang-barang kenangan agar jumlah storage tak berlebihan .
Bagi yang kurang telaten bebenah pilih storage tertutup lalu letakkan di tempat tersembunyi atau sisa ruang misalnya bisa di atas pintu, bawah tangga, belakang sofa, atau di bawah meja makan.

Zata Ligouw Dengan Ide Sederhananya

Blogger muda yang pernah menjuarai lomba blog hingga menikmati hadiah perjalanan ke Jepang ini menuturkan pengalamannya membuat sudut tempatnya bekerja dengan biaya ringan.
Sadar betul bahwa kamar kerja harus menimbulkan rasa privasi selain nyaman. Anak anak akan belajar bahwa daerah itu milik Mamanya berkarya.



Saya senyum senyum waktu dia kisahkan  membuat ruang keja di sudut dapur dengan pertimbangan anggota keluarga lebih banyak beraktifitas di ruang tamu dan TV. Selamatlah ia dari gangguan.
Lho kok sama dengan saya ?

Tapi saya pilih ruang kerja di dapur karna bisa menulis sambil menunggu masakan yang proses matangnya lama dan lebih tenang sebab jauh dari suara kendaraan yang lewat.


Terkesan juga dengan idenya membuat meja kerja dari barang bekas yang dipoles, atau dari meja belajar anak yang sudah tak terpakai. Yang penting kan fungsinya, demikian jelasnya.
Agar menwan dan enak dipandang bisa letakkan koleksi pena aneka warna, atau Papan Mood tempat  kita bisa menaruh barang-barang Favorite, foto tokoh idola mau pun foto karya sendiri.
Pokoknya yang membuat mood kita tersegarkan kembali sesegar tanaman mungil yang ada di situ.


Sebagai penulis Zata Ligouw berpesan, buatlah ruang kerja yang rilex dan nyaman karna  akan membangkitkan mood dan kreativitas. Bila perlu letakkan kebutuhan di meja seperti minuman dan cemilan agar sesekali saja kita meninggalkan tempat.

Acara penuh kesan meski ada pertanyaan saya yang belum sempat dilontarkan karna waktu habis.
Bagaimana menyatukan ide kita dengan pasangan bila berbeda selera ?
Tentu jadi petunjuk untuk anak anak saya saat merencanakan hunian mereka.



                                                                                   Keterangan foto tidak tersedia.


























Senin, 08 Juli 2019

Kopi Sang Penyair

Gambar terkait



Aku curiga,
cairan kopi ini
mengandung senyawa rindu

Setiap kuteguk
ingatanku meluncur deras padamu.





Rabu, 26 Juni 2019

Kesah



"Ia akan mengayuh sampan ke tengah samudera, tembus badai kabut!
Bukankah terlalu rumit angka angka kehidupan?
Bukankah terlalu banyak tunas pilihan?
Ia belum sesempurna pinus yang ramping dan kokoh!"

Kesahku bersama derasnya luncuran hangat

"Ia bukan camar belajar terbang
Percayalah!
Ia bintang kecilmu juga kunang-kunangmu
Bermain...Menari...Melintasi rimbunan pohon,
ribuan pucuk dedaun
yang bertasbih di malam hening bening.
Ia dikelilingi cinta dari dada2 seputih pualam"

Demikian katamu
Bukan kata-kata kering berhamburan, hilang di desau angin
Bukan kata-kata di sesobek kertas

Kau ..
Sumber mata airnya air mata
Memancar lembut
Bermuara hikmah
Lebih manis dari air susu Ibu
Lebih sejuk dari embun


"Akan selalu ada awan putih dan awan hitam di langit sebagaimana adanya.Ihlaslah!"

Kau berlalu sembari meninggalkan senyum.

Mataku hangat
Tubuhku ringan

Selasa, 18 Juni 2019

NEGERI KEBENARAN


oleh Idries Shah

Ada seseorang yang ingin berahlak baik, arif bijaksana, meski ia tahu manusia tak ada yang sempurna.
Ia pun pergi mencari Guru Zaman yang sejati. Banyak kitab-kitab yang telah dibacanya dan banyak kalangan-kalangan yang telah diterjuninya, sehingga ia dapat mendengar ucapan-ucapan dan menyaksikan perbuatan-perbuatan dari berbagai guru. Dilaksanakannya perintah-perintah yang keras beserta latihan-latihan spirituil yang sangat menarik hatinya.

Ia sangat gembira karena mendapatkan pengalaman-pengalaman. Namun kadang-kadang ia bingung karena ia sama sekali tak tahu tingkatan apa yang telah dicapainya dan dimanakah atau kapankah pencariannya itu akan berakhir.

Pada suatu hari ketika sedang mengkaji segala tingkah lakunya ia mendapati dirinya telah berada di dekat rumah kediaman manusia-manusia arif bijaksana yang sangat terkenal. 
Di dalam rumah itu ia bertemu dengan Khaidir, penunjuk-jalan rahasia yang menunjukkan jalan ke arah kebenaran.
Khaidir membawanya ke suatu tempat di mana ia dapat menyaksikan manusia-manusia penuh duka dan sengsara.

Kepada mereka ia bertanya, siapakah kalian ini sebenarnya?
Mereka menjawab:

 "Kami adalah manusia-manusia yang tidak mengkuti ajaran-ajaran sejati,  tidak setia kepada tugas yang dibebankan ke atas pundak kami, dan kami hanya memuliakan guru-guru yang kami angkat sendiri."

Kemudian ia dibawa pula oleh Khaidir ke suatu tempat di mana setiap orang mempunyai wajah yang berseri-seri dan berbahagia. " Siapakah kalian sebenarnya?"

Mereka menjawab:
 "Kami adalah manusia-manusia yang tidak menuruti petunjuk-petunjuk jalan yang sebenarnya."

"Tetapi bila engkau telah mengabaikan petunjuk-petunjuk itu mengapa kalian bisa berbahagia?" bertanya si pengelana.

"Karena kami lebih senang memilih kebahagiaan daripada kebenaran. Seperti orang-orang yang memilih guru-guru mereka sendiri sebenarnya memilih kesengsaraan pula." Jawab mereka.

"Tetapi bukankah kebahagiaan itu adalah cita-cita yang paling tinggi dari ummat manusia?" bertanya pula si pengelana.

"Tujuan yang terakhir dari ummat manusia adalah kebenaran. Kebenaran itu lebih daripada kebahagiaan. Namun seseorang yang telah mendapatkan kebenaran dapat pula memiliki perasaan-perasaan yang bagaimanapun ingin sesuai dengan keinginannya.

Kami telah berpura-pura bahwa kebenaran itu adalah kebahagiaan dan kebahagiaan itu adalah kebenaran. Orang-orang percaya kepada kami, termasuk engkau sendiri. 
Padahal kebahagiaan akan memenjarakan dirimu sebagaimana yang dilakukan oleh kesengsaraan."


Kemudian sang pengelana rnenemukan dirinya telah berada kembali di halaman itu dengan Khaidir di sisinya.

"Aku akan mengabulkan sebuah permintaanmu," kata Khaidir.

"Aku ingin tahu, kenapa aku gagal dalam mencari dan bagaimana caranya agar berhasil?" jawab si pengembara.

"Engkau telah menyia-nyiakan seluruh hidupmu," kata Khaidir, "karena engkau adalah manusia pembohong. Sebenarnya engkau mencari kepuasan pribadi dengan dalih mencari kebenaran."

"Namun aku sedang mencari kebenaran itu ketika aku bertemu denganmu. Dan hal ini tak terjadi terhadap setiap orang."

"Ya, engkau telah dapat menemuiku karena ketulusan hatimu cukup besar untuk menginginkan kebenaran demi kebenaran itu sendiri walaupun untuk sesaat saja. Ketulusan hatimu yang sesaat itulah yang menyebabkan aku datang untuk memenuhi keinginanmu"


Pengelana merasakan keinginan yang menggelora untuk menemui kebenaran meskipun ia akan tenggelam. Namun Khaidir telah beranjak pergi dan ia pun mengejarnya.

"Jangan engkau ikuti aku ", seru Khaidir, "aku akan kembali ke dunia yang penuh tipu, karena disitulah  aku seharusnya berada untuk melakukan tugasku!"

Ketika si pengelana melihat ke sekelilingnya, sadarlah ia bahwa ia tak lagi berada di halaman rumah sang guru arif bijaksana tetapi sedang berada di tengah-tengah negeri kebenaran.