Senin, 02 Desember 2019

Ranjau Pencari Ilmu


Mengais ilmu  tu ranjaunya banyak. Perlu strategi kalau ilmu mau terserap dengan baik.
Apalagi udah usia segini. Konsentrasi gampang buyar, pikiran bisa tiba-tiba pergi ke tempat lain, daan mata ! Berasa digelayuti batu, apalagi kalau belajar 2 sesi diselingi makan siang. Ya Allah...Tolllong!
Usaha kecil yang bisa dilakukan...


1. Jauhi teman duduk yang hobby ngobrol.

2. Dekat dengan anak muda. Kalau seumuran suka banyak tanya, ketinggalan mencatat, ustad ngebahas..dia ngebahas juga

3. Pengalaman saya bersanding dengan anak muda tu nikmat. Dengan penuh maklum dia mau bantu menjelaskan apa apa yang kita nggak faham. Respek dg orang sepuh yang masih mau belajar.

Kadang mereka berdoa dan minta didoakan supaya bisa seperti kita di hari tuanya. Mereka nggak tau justru yg tua bangga plus sesal lihat mereka.
Umur segitu dulu kemana aja sayaa???
Asyik masyhuk dengan Barbara Cartland dan Pearl Buck. Syukur ruh saya nggak ditarik waktu itu.

4. Dalam tas saya selalu ada kipas dan payung. Kipas jadi andalan di kendaraan dan kajian besar.
Gumbira kalau ruang dilengkapi AC  standing / kipas angin. Melipir ke sana  biar nyaman nyimak dan mencatat.

5. Atasi ngantuk dengan wudhu atau keluar sebentar cari pemandangan baru tapi tetap bisa dengar kajian.

6. Kalau masih ngantuk juga makan saja cemilan yang pedas atau asam biar melek! :)))

7. Saat jeda sholat bisa tidur sebentar. Niatkan, ya Allah...Semoga tidur saya berkwalitas seperti tidurnya Rasulullah SAW. Beliau tidur cuma 10 menit tapi rasa berjam jam.

Itu strategi buat ranjau zahir yaa..
Ranjau bathinnya lebih penting (Penting untuk diperhatikan maksutnya)
Ustadz Nuzul bilang...

Kalau dengar kajian langsung evaluasi diri sendiri. Jangan malah mengevaluasi orang lain.

"Wahh! Nasehat ini tepat untuk si fulan nih! Ah, andai dia hadir. Habiss lah dia!"

" Aku sih sudah mengamalkan, kesian tuh si nganu... nganu.. belum juga faham"

Sebenarnya apa pun yang kita dapati hari itu adalah nasehat buat diri. Baik eksident apalagi nasehat.

Semakin belajar semakin merasa diri bukan apa apa. Takut jangan sampai ketularan ucapan si iblis... Anaa khairum minhuu  (Aku lebih baik darinya)













Sabtu, 30 November 2019

Belajar Sabar


Kerap kali minta diberi sifat sabar.  Mohon agar Allah ingatkan saat ingiin sekali bertindak bar bar ketimbang sabar.

Kalau sudah ketelepasan, baru menyesal. Janji nggak mau mengulangi lagi lalu bertanya tanya, apa Allah masih mau dengar doa minta sabar ?

Sebab sabrun jamiil pahalanya nggak terukur, nggak terbilang, luas tanpa batas.
Kenapa nggak coba belajar dan meraihnya?
Siapa tau dosa segunung bisa terhapus dengan sabar se-pohon?

Nggak mudah, apalagi kalau dizalimi kerabat atau orang terdekat. Why Me??
Bisa saja kan, Allah jawab...Why Not?
Kan kamu minta dibimbing. Harus mau diajarin!

Ilmu sabar seperti apa?
Teory sih banyak.
Tapi yang langsung dari Engkau yang mana??

Lho, bukan kah tiap hari ada pelatihannya?
Sabar dalam wudlu.  Jangan berlari meski masbuq, nggak mendahului gerak imam.
Mau ngalah kalau saf depan kosong, maju ke depan, gratis !
Meski punya posisi wenak di belakang.

Trus apa lagi ya Allah?

Itu saja dulu !
Blajar nggak gampang koment, atau tahan mulut dari pertanyaan yang nggak perlu, bisa nggak?

Kan situ langsung keringetan kalau disuruh mingkem!





Sabtu, 23 November 2019

Anakku




Ingat kah, Nak?
Kita pernah bertukar kisah

Kau berkisah tentang Ayyub
Dan aku cerita tentang
Pemilik wajah tampan, bangsawan,
Keturunan 2 Nabi
Tiba2 terbuang dan turun derajat
jadi budak

3  bajunya menyimpan sejarah
Yang satu berlumur darah dusta
tercabik nafsu perempuan cantik ...
Dan 1 baju mengembalikannya kepada ayah yang lama merindu


Nak.
Mari berteduh dari terik tipu daya
Duka adalah berlian kehidupan

Tengadahkan wajah kita ke langit
Mari kita belajar
Merayakan kesedihan





















Selasa, 19 November 2019

A K U


Aku ini rumus
Aku ini formula
Aku ini resep
Aku adalah ringkasan, hukum, patokan,
dan tanda yang diyakini kebenaran,
dilambangkan oleh huruf angka dan tanda.

Aku menjadi bagian yang tak terpisahkan dari deretan semua itu

Terjerat
Tak bisa lepas lagi

*
Banyak wajah berusaha menangkap makna lirih eyang

Malam hampir larut..
Mata ku dan mata eyang berbenturan
Aku bahagia
Eyang melihat ada taman bunga di mataku.

Semoga cepat sembuh Eyang SDD


Senin, 18 November 2019

Allah Selalu Mengganti


Pikir-pikir, singkat benar kebersamaan dengan anak-anak. Lepas Sekolah Menengah mereka sudah punya keinginan sendiri demi masa depan dambaan. Kesibukan beruntun, banyak yang harus dipenuhi bikin orang tua lupa kala itulah jatuhnya  masa-masa kebersamaan secara utuh berakhir.
Berasa-berasanya pas beresin tempat tidur mereka di hari pertama kost... Kenapa sprei rumah ada di tempat asing gini?

Apalagi waktu meninggalkan anak di Asrama Pesantren. Meski luar biasa bahagia karna ada salah satu anak memilih jalan agama, tapi tetap saja sedih meninggalkan dia di tempat paling jauh dengan waktu tidur yang sedikit, sementara apa apa harus antri.
Perjalanan pulang di Bis ngerembeng air mata sambil menatap jendela Bis.

Sekarang setelah 2 berumah tangga makin jarang lagi bertemu. Jangan berharap lebih, yang penting mereka sehat dan baik baik saja rumah tangganya.
Rumah besar jadi lengang. Lihat kamar kosong paling nggak asik meski tetap rapih bersih. Kenapa dulu cerewet ya kalau liat kamar mereka berantakan?

Alhamdulillaaahh..
Allah masih izinkan anak no 3 masih bersama. Jadi pengobat sepi. Nikmat rasanya masih ada yg salaman rutin setiap dia mau berangkat ke kajian. Tetap ada kangennya juga sih, kalau dia  bermalam di gunung atau pantai dengan teman2 pecinta alamnya .

Allah pasti mengganti sesuatu jika ada yang berkurang. Hari kehari berdatangan terus ilmu baru, perasan baru, pengalaman baru.
Makin jelas pembuktian firman Allah yang intinya...

"Dulu kamu sendiri, kemudian  berpasangan dan Allah jadikan beranak pinak, lalu akan kembali sendiri sebelum dihimpun"

Kelak kita akan kembali sendiri meninggalkan yang ramai. Kepergian tak pernah sia-sia karna pasti Allah ganti dengan hikmah/nasehat  buat anak keturunan.
Anjuran berumah tangga sampai2 Rasul bilang bukan ummatku bila menolak untuk menikah.
Bisa jadi karna hasil dari berumah tangga akan jadi jalan atau alat yang Allah gunakan untuk "Mengganti" bila kita sirna. Doa-doa mereka jadi kendaraan terindah bagi orang tua dalam meraih ridhoNya.


Hiburan Allah selalu hadir. Ahlak anak yang cinta agama, cinta Allah dan RasulNya adalah anak yang Qurrota A'yun. Cahaya mata bagi kedua orang tuanya. Amiin ya Rabb.








Senin, 11 November 2019

Kalau Ibu Lagi Kangen


Jam 10 malam lewat sedikit buka WA, nulis...

Assalamu'alaikum  sayang..
Bagaimana kabarnya?
Ma harap kalian sehat2 saja seperti Ma, Pa, dan adikmu di rumah.

Ma cuma kangen..

Pulang kerja jam berapa,Nak?
Hati-hati di jalan ya..Fii amanillah.

Sayang dan doa Mama dr jauh.


Pegawai negeri yang bisa pulang sore bukanlah cita2 mereka sejak SMA.
Yg satu sempat kerja di Qatar, menyukai hospitality dan berlanjut di hotel Jakarta.
Adiknya fokus disain lighting. Karyanya  membuat saya haru , lampu2 warna warni menghiasi  jembatan Youtefa - Papua yang diresmikan Presiden tgl 28 Oktober 2019 lalu.

Trus melamun bayangkan mereka letih di atas motor menembus malam
Ahh!!  Tiba tiba berasa ngupas bawang merah banyak.

Gitulah rasanya punya anak lelaki yang jarang ketemu karna waktu mereka kini penuh untuk 2 tanggung jawab.
Beruntung istri2 mereka shalihah. Hati meleleh kalau lihat 2 mantu itu.
Nggak pernah berharap perlakuan husus dari mereka.
Asalkan bisa menghargai anak lelaki saya, memposisikan mereka sebagai pemimpin, cukup.

Seringkali iblis siapkan kayu bakar untuk hati saya saat selisih pendapat dengan suami.
Peredamnya cuma 1, saya hawatir polah buruk saya berbalas ke keluarga anak-anak.
Pasti shiook lah  lihat anak laki2 kita dilawan istrinya.

Sebelumnya siang jelang sore, WA pula ke si putri bungsu yang kost pas di sebelah kampus.


Mama kangen...
Lagi apa,nak?

Baru habis turunin jemuran,Ma.
Nanti jam 3 ada kuliah...

Lalu curhat curhit :)

Kata "Kangen" selalu saya ungkap. Melatih mereka agar mudah /terbiasa mengekspresikan perasaan cinta.

Inginnya tiap minggu saya ke kostnya. Bawa Abon, serundeng, atau sambal goreng kentang supaya tenang belajar nggak usah pikir makanan.
Ingin lihat dia di antara teman nya kerjakan karya seniman Thailand yang akan pameran di Musium seni.Tapi kalimat Papanya menahan langkah...

"Jangan perlakukan mereka seperti anak-anak!"

Duh!































Semoga kehidupan mereka penuh berkah.
Tetap menjadi cahaya dan penyejuk mata.







Senin, 28 Oktober 2019

Tulisan Tak Bernama


Entah siapa yang menulis, saya senang dan berulang membacanya.
Semoga anak anak faham ..
Orang tua punya cara tersendiri dalam mengungkapkan cintanya.



*SEBUAH KISAH TENTANG CINTA*
Ayah di dalam kamar, beberapa kali batuk².
Sementara di ruang tamu, ibu sedang ngobrol dgn anak perempuannya.
"Cinta ayahmu kepadamu luar biasa, tetapi lebih banyak disimpan dalam hati karena kau perempuan", kata ibu.
Aku mendengarkan ibu dengan heran.
"Ketika kau melanjutkan kuliah ke Jakarta dan aku bersama ayahmu mengantarmu ke stasiun, kau dan aku saling berpelukan.
Ayahmu hanya memandang. Dia bilang juga ingin memelukmu, tapi sebagai laki² tak lazim memeluk anak perempuan di depan banyak orang, maka dia hanya menjabat tanganmu, lalu berdiri sampai kereta itu menghilang", kata ibu.
"Ibu memang sering menelponmu.
Tahukah kau, itu selalu ayahmu yg menyuruh dan mengingatkan.
Mengapa bukan ayahmu sendiri yg menelpon?
Dia bilang, "Suaraku tak selembut suaramu, anak kita harus menerima yg terbaik".
"Ketika kamu diwisuda, kami duduk di belakang.
Ketika kau ke panggung dan kuncir di togamu dipindahkan rektor, ayahmu mengajak ibu berdiri agar dapat melihatmu lebih jelas.
"Alangkah cantiknya anak kita ya bu," kata ayahmu sambil menyeka air matanya.
Mendengar cerita ibu di ruang tamu, dadaku sesak, mungkin karena haru atau rasa bersalah.
Jujur saja selama ini kepada ibu aku lebih dekat dan perhatianku lebih besar. Sekarang tergambar kembali kasih sayang ayah kepadaku. Aku teringat ketika naik kelas 2 SMP aku minta dibelikan tas. Ibu bilang ayah belum punya uang.
Tetapi sore itu ayah pulang membawa tas yg kuminta.
Ibu heran. "Tidak jadi ke dokter?" tanya ibu. "Kapan² saja.
Nanti minum jahe hangat, batuk akan hilang sendiri"
Kata ayah.
Rupanya biaya ke dokter, uangnya untuk membeli tasku, membeli kegembiraan hatiku, dengan mengorbankan kesehatannya.
"Dulu setelah prosesi akad nikahmu selesai, ayahmu bergegas masuk kamar.
Kau tahu apa yg dilakukan?" tanya ibu.
Aku menggeleng. "Ayahmu sujud syukur sambil berdoa untukmu.
Air matanya membasahi sajadah.
Dia mohon agar Allah melimpahkan kebahagiaan dalam hidupmu.
Sekiranya kau dilimpahi kenikmatan, dia mohon tidak membuatmu lupa zikir kepada-Nya.
Sekiranya diberi cobaan, mohon cobaan itu adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidupmu.
Lama sekali dia sujud sambil terisak.
Ibu mengingatkan banyak tamu menunggu.
Dia lalu keluar dengan senyuman tanpa ada bekas air di pelupuk matanya".
Mendengar semua itu, air mataku tak tertahan lagi, tumpah membasahi pipi.
Dari kamar terdengar ayah batuk lagi.
Aku bergegas menemui ayah sambil membersihkan air mata.
"Kau habis menangis?"
Ayah menatapku melihat sisa air di mataku.
"Oh, tidak ayah!" aku tertawa renyah.
Ku pijit betisnya lalu pundaknya.
"Pijitanmu enak sekali seperti ibumu", katanya sambil tersenyum.
Aku tahu, meski sakit, ayah tetap ingin menyenangkan hatiku dengan pujian.
Itulah pertama kali aku memijit ayah.
Aku melihat betapa gembira wajah ayah. Aku terharu.
"Besok suamiku menyusulku, ambil cuti seminggu seperti aku.
Nanti sore ayah kuantar ke dokter", kataku. Ayah menolak. "Ini hanya batuk ringan, nanti akan sembuh sendiri".
"Harus ke dokter, aku pulang memang ingin membawa ayah ke dokter, mohon jangan tolak keinginanku", kataku berbohong.
Ayah terdiam. Sebenarnya aku pulang hanya ingin berlibur, bukan ke dokter.
Tapi aku berbohong agar ayah mau kubawa ke dokter.
Aku bawa ayah ke dokter spesialis.
Ayah protes lagi, dia minta dokter umum yg lebih murah. Aku hanya tersenyum.
Hasil pemeriksaan ayah harus masuk rumah sakit hari itu juga.
Aku bawa ke rumah sakit terbaik di kotaku.
Ibu bertanya setengah protes. "Dari mana biayanya?".
Aku tersenyum.
"Aku yg menanggung seluruhnya bu.
Sejak muda ayah sudah bekerja keras mencari uang untukku.
Kini saatnya aku mencari uang untuk ayah.
Aku bisa! Aku bisa bu!".
Kepada dokter aku berbisik; "Tolong lakukan yg terbaik untuk ayahku dok, jangan pertimbangkan biaya", kataku. Dokter tersenyum.
Ketika ayah sudah di rumah dan aku pamit pulang, aku tidak menyalami, tetapi merangkul dengan erat untuk membayar keinginannya di stasiun dulu.
"Seringlah ayah menelponku, jangan hanya ibu", kataku.
Ibu mengedipkan mata sambil tersenyum.
Dalam perjalanan pulang, aku berfikir, berapa banyak anak yg tidak paham dengan ayahnya sendiri seperti aku.
Selama ini aku tidak paham betapa besar cinta ayah kepadaku.
Hari² berikutnya aku selalu berdoa
Namun kini dengan perasaan berbeda.
Terbayang ketika ayah bersujud pada hari pernikahanku sampai sajadahnya basah dengan air mata...betapa besar cinta kasih seorang ayah Tidaklah jauh berbeda dgn cinta kasih seorang ibu.
Semoga Allah masih memberikan waktu yg cukup, untuk aku bisa lbh lama lagi memijit kaki ayah, memeluk dan menumpahkan cintaku pada Ayah. Spt cintaku pada Ibu....aamiin..
Rabbighfir lii wa li waalidayya warhamhuma kama rabbayaani shagiira...
Ya Allah ampunilah dosaku juga dosa orangtuaku, jagalah mereka seperti mereka merawatku di waktu kecil...
Aamiin

Jumat, 25 Oktober 2019

Pemaksaan di Angkot


Jadi, jam 5 sore tadi saya naik angkot ke pasar induk Bogor. Baru setengah jalan naiklah seorang bapak muda memperagakan dagangannya, alat masukkan benang ke jarum dengan cepat dan mudah. Ini manfaat buat bu ibu berkacamata plus kayak saya.
Saya beli doong, lalu tanya cara dan harganya.

Dia sodorkan 2 barang, "Nih,Bu... 10 ribu!'

"Saya mau alat masukkan benang saja, kalau jarum sudah banyak di rumah"

"Nggak bisa bu, Harus beli semua!"  Air mukanya mendadak galak

( Gimana sih? Demonya 1 barang tapi ngedadak keluarin 2 barang. Mau dagang apa meres?)

5 perempuan muda berhijab di sebelah saya sudah resah. Yang satu mukanya kepengen marah banget. Tapi karna saya tenang, dia perlahan tenang.
Sementara si pedagang makin kesal dan terus memuntahkan kata-katanya untuk saya,hususon!

"Coba mikir ! Kalo buat tukang ngamen mau ngasih. Kalo buat yang dagang nggak mau ngasih!"

(Mau sih, ngasih. Asal jujur dong dr awal. Kamu jual apa yang kamu peragakan. Pengamen masih ngehibur, nggak nodong kayak gitu! ) Saya jawab dalam hati.

Eh, dia ngelanjut.

"Denger ya bu! Banyakin sedekah. Jangan pelit-pelit. Mikir sampe rumah !!"
Lalu dia turun.

Lepas itu, semua penumpang legaaa. Tapi serentak kesal dengan macam macam komentnya.

"Haduuuh, untung ibu sabar" Kata yang persis duduk di sebelah kanan saya.

Sebenarnya saya bukan sabar sih, cuma saat dia ngoceh saya malah  asik mikir.
Kesian, dia bersandar pada sesuatu yang lemah. Yakin rejekinya dari barang, bukan Allah.
Andainya dia kasih pilihan buat pembeli, pasti mereka senang bahkan sengaja beri uang lebih .
Apa pun pekerjaan kalau ihlas akan baik untuk dirinya dan berimbas pada orang-orang disekelilingnya.

Perih?
Nggak juga.
Kalau ada orang yang menyakiti selalu saya niatkan semoga jadi penebus dosa yang tersembuyi. Mungkin kecil di mata saya tapi besar di mata Allah.

Apa saja selalu saya niatkan. Contoh lain kalau murid2 saya  ngeyel, pikiran saya otomatis ke masa sekolah dahulu. Semoga jadi penebus kesalahan-kesalahan saya pada  guru /dosen yang entah di mana mereka kini?








Kamis, 24 Oktober 2019

Tembang Malam




Tembang malam melintas perlahan
Menyeberangi jembatan kenangan
Meliuk tarian cinta, seiring irama rasa 
Kurasa cuaca bukanlah penghalang 

Aneka wajah di larik larik nada
Selendang lembut warna warni bertabur wangi kisah
Hijau melambaikan damai
Biru meluasnya rindu
Ungu gambaran kehangatan
Jingga nan syahdu tanpa luka

Ingin kembali bercumbu
Dengan ketulusan dan senyum dalam satu bingkai

Duhai wajah2 penuh cinta
Yang mengisi lembar catatan usia
Kita jangan dulu bertemu
Aku justru sedang menikmati rindu

Cintaku tak kenal jarak
Jarak hanya nama pohon!

Selasa, 15 Oktober 2019

Buat Yang Sedang Letih


Allah berkehendak mencabut rejeki /nikmat seseorang.
Kapan pun dalam sekejap Allah kuasa.
Gambarannya seperti  peristiwa  seorang ibu  di video. Naik motor kencang hingga hijabnya berkibar. Tiba-tiba terlempar ke aspal tak bergerak karna hijab terlilit.
Padahal jalan sepi! Baru beberapa menit lalu si  ibu cantik, sehat, segar itu meluncur dengan gagah.

Dahulu dikerumuni sodara. Tanpa halangan, tak perlu diraba, dia faham maksud tamu yang datang  dengan beragam ekspresi. Ujung-ujungnya pasti...

Kristal bentuk ikan di meja sudut harganya cukup untuk uang masuk kuliah. *Bukan kuliah subuh lho!
Perangkat makan sehari hari cuma sedikit orang yang tahu besaran harganya. Di rumah orang lain itu barang masih terpajang rapi dalam lemari kaca, minimal turun saat hari raya, itu juga berkali kali ingatkan ART supaya hati hati mencuci.

Bukan cuma tahu yang digoreng dadakan. Nasib pun bisa berubah dadakan.
Hanya secuil kesalahan memaksa pemiliknya harus terima seluruh harta terancam habis.
Salah memilih teman bisnis, salah perhitungan, salah memberi amanat, salah ambil keputusan.
Untuk menutup hutang harus berhutang. Hidup jelita jadi jelata.
Kalau Allah tega, pasti bisa dibuat lebih singkat lagi dengan koleksi caraNya yang tak pernah habis.

Kepada sahabat yang sedang letih berkeringat mengais rejeki sambil hitang hitung tuntutan hidup, syukuri saja! Ingat yang enak-enak.
Silahkan cari dan hitung harta yang kelihatan, tapi jangan lupa hitung rejeki yang tak kelihatan.

Alhamdulillah sapu tangan masih melap bening keringat.
Bagaimana kalau berwarna merah?
Allah membuka kran Kapiler, pembuluh darah  terkecil  ukuran 5-10 um yang mengalirkan darah ke kelenjar keringat. Dengan Maha Sayang dan CintaNya, Dia tahan agar tak merembes ke pori-pori kita.

Bagi bu ibu yang suka bengong cari inspirasi menu di depan gerobak tukang sayur. Yang kepanasan di dapur saat mengolah, bersyukur yang dimasak bukan batu seperti dhuafa masa khalifah Umar.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. *Dalam rangka menasehati diri sendiri