Kamis, 09 Juli 2020

Persahabatan Botol Dan Tasbih.


Menurut produsen obat anti mabuk yg sangat legendaris itu, mabuk ada 3 jenis, yaitu mabuk darat, laut, dan udara. Tapi kalau kau mengenal Nurdin, kau akan tahu mabuk itu lebih banyak lagi jenisnya. Melihat Zulekha mencuci baju di sungai, mabuk. Melihat Zulekha kecipratan air sungai, mabuk, kepala berputar putar pusing 7 keliling ditambah 100 keliling lagi. Sudah itu biasanya Nurdin akan lari pada mabuk jenis berikutnya yaitu mabuk minuman.

Ini bukan salah Zulekha, karna bagi Nurdin, apa pun bisa jadi bahan untuk mabuk. Sedih,mabuk. Gembira, mabuk. Jatuh cinta, mabuk. Patah hati, mabuk. Punya duit tidak punya duit, mabuk.
Bahkan mendengarkan ceramah agama saja sambil mabuk. Tunggu dulu! Jangan kau bayangkan ceramah di mimbar2. Ini ceramah dalam lagu dangdut yg liriknya..

"Insyaflah, wahai manusia jika dirimu bernoda. Dunia hanya naungan tuk mahluk ciptaan Tuhan"

Ceramah yang indah sekali bukan? Tapi dasar Nurdin lagu semulia itu dinyanyikan sambil bergoyang dan menggenggam botol.

Nurdin punya sahabat dari kecil namanya Ma'il. Berbeda dengan Nurdin yg gemar menggenggam botol. Ma'il menggenggam tasbih. Maklum dia pengurus masjid, jebolan pesantren, sekarang jadi asistennya Kyai Bukhori. Nurdin sayang bukan main pada Ma'il. Ma'il pernah diganggu oleh preman pasar, Nurdin langsung pecah botol dan menempelkannya di leher orang itu.
Sebaliknya Ma'il juga sayang pada Nurdin. Pernah Nurdin minta uang, orang tahu untuk mabok, Ma'il tetap memberikannya.

"Kalau tidak kukasih, nanti dia nyuri. Dosanya jadi dua, dosa mabuk sama dosa nyuri," begitu jawaban Ma'il membuat si penanya geleng2.

Semua orang juga geleng2 kepala menyaksikan kedekatan Mail dengan Nurdin. Pengurus masjid Baiturrahman bahkan memusyawarahkannya secara khusus karna banyak jamaah yg merasa gerah.

"Ada yang melihatmu bersama Nurdin di depot Minuman Keras malam minggu kemarin, betul?" Selidik Pak Qodar kepala urusan humas masjid.

"Betul. Tapi saya tidak minum" Jawab Ma'il tenang.

"Kalau tidak minum buat apa di sana?"

"Saya hanya menemani."

"Kau ini pengurus DKM. Kalau kau berada di sana, nama masjid kebawa-bawa. Buat apa menemani orang seperti itu?"

Ma'il menunduk tak berani beradu pandang dengan Pak Qodar yang keningnya mulai mengeras.

"Nurdin sahabat saya. Memang saya belum bisa menghentikan kebiasaannya. Saya baru bisa menemani, menjaga agar mabuknya tak melebar kemana-mana, merembet ke perbuatan yang bukan-bukan."

Peserta musyawarah menghela nafas secara berjamaah. Gelas gelas teh manis yang masih isi tiga seperempat tak ada yang menyentuhnya. Akhirnya Kyai Bukhori sendiri yang mengambil alih ketika semua sudah pulang.

"Kalau gara gara kau berdekatan dengan Nurdin, lalu banyak jamaah yg tak nyaman dengan masjid kita, menurutmu bagaimana?" Pancing Kyai Buchori. Teh panas diseruput lagi untuk mendinginkan suasana.

"Bagaimanapun,  jamaah harus diutamakan, Kyai," Jawab Ma'il sangat sopan.
"Jadi sikapmu bagaimana?"

Setiap membicarakan Nurdin, Ma'il merasakan matanya hangat, terkenang suatu peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Waktu itu ia masih kelas 2 SD. Pulang sekolah melewati jembatan bambu yg licin setelah diguyur hujan. Ma'il terpeleset dan jatuh ke sungai yang airnya sangat deras.

Tak ada orang dewasa saat itu, kawan kawan sekolahnya pun tak berani berbuat apa apa selain berteriak teriak ketakutan. Untunglah ada Nurdin, si murid bengal yg paling rajin membolos. Di satu sisi dia memang paling nakal, di sisi lain dia paling lincah bermain dan berinteraksi dengan alam. Baginya sungai hanyalah taman sekaligus teman bermain saja.

Ma'il tak bisa membayangkan, jika saat itu Nurdin tak membolos dan bermain main di dekat sungai. Ternyata, Tuhan  tidak mengutus anak pintar atau orang yang rajin ke masjid untuk memberikan pertolongan, Tuhan justru mengutus anak bengal dan tukang bolos untuk bertarung melawan derasnya arus sungai demi menyelamatkan nyawanya.

"Ngapunten, Kyai, kalau saya mundur dari sini, banyak gantinya. Tapi kalau saya mundur dari Nurdin, kasihan dia. Saya berhutang nyawa."

Dengan takzim Ma'il meraih dan mencium tangan Kyai Buchori. Sejak pembicaraan itu, Mail tak datang ke masjid. Sampai di satu malam,  ketika jamaah baru menyelesaikan ba'diah isya, seseorang lari tergopoh gopoh menemui Kyai Buchori membawa kabar buruk. Ma'il kecelakaan ditabrak mobil box pengangkut minuman. Sekarang sedang dirawat di RSUD, keadaannya kritis.

Langsung sesak dada Kyai Bukhori mendengar kabar itu. Lebih sesak lagi mendengar kasak kusuk sebagian jemaah yang mengaitkan kecelakaan ini sebagai teguran keras dari Allah atas sikap Ma'il membela si tukang minum.

Perjalanan ke RSUD yang harusnya memakan waktu 1 jam, malam itu hanya setengahnya. Sayang, mereka tak diperbolehkan menjenguk karna Ma'il dalam penanganan serius.

Dari pada menunggu dengan pikiran tak menentu, Kyai Bukhori mengajak rombongan ke mushola rumah sakit, niatnya sambil bermunajat pada Allah untuk keselamatan Ma'il. Kalau pun Ma'il bersalah, semoga masih diberi waktu untuk memperbaikinya. Kalau sikapnya benar, semoga kebenaran itu ditunjukkan seterang terangnya.

Mushola sudah sangat sepi, sampai sampai suara isak yang begitu lirih bisa terdengar dari jarak 10 langkah. Isakan itu membuat Kyai Bukhori dan rombongan tercekat di pintu. Mata mereka terpaku pada sosok lelaki yang sedang bersujud sambil menangis : Nurdin. Suaranya terbata bata, berselingan antara sengal nafas, isak tangis dan do'a.

"Ya Allah, Aku tobat.. Aku nggak akan mabuk mabukan lagi. Janji. Tapi tolong selamatkan Ma'il. Kalau Kau ambil dia sekarang, aku tak punya siapa siapa lagi. Tak ada lagi orang baik yang mau menemaniku. Jangan hukum dia karena dosa dosaku. Beri dia umur lagi agar bisa melihatku jadi orang baik."

Isakannya makin mengiris iris, melelehkan hati Kyai Bukhori dan kawan kawan. Seperti ada yang mengkomandoi, bibir mereka bergerak dan tangan menengadah, "Aamiin.."

Nurdin menoleh dan terkejut melihat orang orang masjid. Ia bergegas mendekat dan tersungkur di kaki Kyai Bukhori sambil tersedu sedu.

"Inyong tobat, Kyai. Nyong kapok ora bakal mendem maning. Tulung sampeyan sing matur karo Gusti Allah, suarane Kyai mesti diringokna. Suarane Nyong mambu Ciu."

( Saya tobat, Kyai. Nggak akan mabuk mabuk lagi. Tolong Kyai yang bicara sama Gusti Allah. Suara Kyai pasti didengar. Suaraku bau Minuman keras).

Hati Kyai Bukhori bergetar hebat. Tiba tiba ia sangat menyayangi si tukang minum ini dengan sayang yang sama pada Ma'il.

"Gusti Allah mesti krungu. Umpamane dosamu sak gendul, sak krat, sisa sak pabrik, pangapurane Gusti Allah isih luwih amba kayak banyu segara"

( Gusti Allah pasti mendengarmu. Jika dosamu sebotol, sekrat, atau sepabrik sekalian, pengampunanNya luas melebihi lautan.)

Gerimis turun, dalam hitungan menit menderas menjadi hujan sedang. Seorang perawat menerobos tanpa payung menjumpai mereka, mengabarkan masa kritis Mail sudah lewat. Seketika ada lagi yang menderas tapi bukan hujan, mengalir dari sudut mata. Kyai Bukhori yakin kabar ini juga merupakan kabar gembira dari langit bahwa Allah berkenan menurunkan ampunan.

Betapa indah alam semesta menuliskan hukumNya, siapa menyelamatkan orang lain, sesungguhnya ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri.

"Alhamdulillah Ma'il selamet, kowe yo selamet, Le," kata Kyai Bukhori sambil memeluk Nurdin.


*Mengabadikan cerita
 sahabat: M.Deddy V


Senin, 29 Juni 2020

Kalimat Berakar


Seorang ibu pingsan beberapa kali di rumah penuh duka. Putra tercintanya terbujur kaku di ruang tengah padahal baru beberapa jam lalu mereka saling bicara.

Kerabat bertangisan. Tak dinyana , mendadak kehilangan sosok anak shaleh. Siang tadi sepulang mengantar ibunya  ke satu tempat ia ditugasi lagi menjemput tantenya di bandara.
Dalam perjalanan itulah ia mengalami kecelakaan.

Sang ibu menyesal, andainya tak menyuruh. Saudara menyesal kenapa tidak menolak dan memilih naik kendaraan umum saja? Banyak andai... Banyak kenapa .

Khawatir akan kondisi kesehatan dan kejiwaan ibu tersebut, dipanggillah kakaknya yang 'alim meski tinggal jauh dan harus datang dengan pesawat.

Meski larut dalam sedih kakak  'alim tetap tenang sesampainya di rumah duka.  Jenazah sudah dimakamkan . Orang orang menunggu apa yg akan dilihat pada derik detik berikutnya. Si adik sudah lemas tak sanggup lagi menghambur ke pelukan kakak.  Hadirin melihat mereka saling peluk , mengira ngira sendiri mungkin akan meluncur pujian dan  kebaikan almarhum, mengingatkan sabar  ini sudah ajal, dan lain lain..

Pelukan kakak kelihatan lembut, tapi kata katanya tegas , jauh dari membujuk adik.

"Untuk apa menangis sampai tak sadar?
TIDAK ADA YANG HILANG KARNA SEMUA AKAN DIHIMPUN. TIDAK ADA YANG PERGI KARNA SEMUA AKAN MENYUSUL!"

Cuma sepotong kalimat. Tapi kekuatannya luar biasa untuk batin adik dan pelayat.
Kontan duka berlebihan jadi surut.

Saya selalu rindu dengan kata kata yang berakar kuat. Pokoknya menjulang menembus langit. Berbuah ranum dinikmati banyak orang. Daunnya rindang tempat berteduh musafir. Ranting ranting aman tak berduri tempat burung bercengkrama dan berlagu.

Kalimat yang saya selalu tunggu dari mulut siapa saja hingga kemana pergi tas saya selalu ada buku kecil untuk mencatatnya. Pun meja sudut yang selalu ada pulpen dan buku. Tiap kajian di youtube atau Materi kelas online   selalu ada potongan kalimat penting. Seolah dapat  password terbukanya ruang baru.

Kalimat di atas saya abadikan di  Fb setelah setahun lebih melompong tanpa status apalagi koment.
3 hari setelahnya seorang teman kirim pesan WA.
Alhamdulillah..
Rerimbunan daun pohon  kokoh itu jadi peneduhnya pas di saat duka. Beberapa hari lalu wafat kakak tercinta.

Kagum pada mereka yang jauh dari perkataan sia sia.  Bicara sedikit tapi sekali bicara kayaknya kita mau tampung cepat cepat hawatir kehilangan. Apa yg keluar dari mulutnya buah  sabar dan cerna tajam.Tahu betul kepada siapa, kapan dan di mana lisannya ditempatkan.

Mereka ada juga di dalam kelas. Dulu saya  anggap kurang gaul, tertutup, pelit bicara, jaim, becandanya datar, lebih sering ketawain becandanya saya.
Sampai ahirnya saya malu dan baru eungeuh, ternyata menertawai diri sendiri adalah humor kelas tinggi.








Kamis, 25 Juni 2020

Ingat 'Mbok.





Hari ini hari buang-buang barang yang sudah nggak guna. Rumah tu kayak badan juga. Selalu ada daki kalau nggak mandi. Makin sedikit barang makin rapih, waktu bebenah jadi singkat karna sedikit yang dilap-lap. Kurang debu, kurang capek, dan cari apa apa pun jadi mudah.
Eh, nggak sangka ketemu diary tua yang tintanya sudah mleber, di kantong besar isi buku dan kertas siap bakar.
Catatan lama banget sampe lupa kalau pernah nulis begini..



25 Agustus 86


Waktu cuci piring pagi2 sempet meweq dikit.

Sedih lho... Kalo inget Mbok. Sayang banget sama dia. Berapa tahun terima enak dari keringetnya, tangan2nya yang menyingkirkan semua halangan yang menutupi jalan kegiatan di luar.


Dia yang pilih setia sama rumah waktu kami semua pergi senang2.
Kalau dia punya salah selalu ketahuan, tapi kesalahan kami nggak pernah dia hitung.
Memang dia punya kesalahan juga tapi bukan berarti yang lain lepas dari kesalahan. Materi nggak bisa tebus semuanya.


Mbok... Aku kangen!
Aku ingin mbok juga kangenin aku.
Inget kan? Waktu kita ngobrol mbok bilang kalo aku nikah nanti Mbok mau saksi-in dan mbok juga janji mau membantu merawat anak anakku.


Sayang ya Mbok, hayalan yang pernah kita bikin nggak terlaksana.
Mbok nggak salah tapi keluarga juga nggak salah. Keadaan yang bikin kita pisah.


Aku ingat betul hayalan kita yang lain waktu di dapur. Aku temani mbok strika sambil makan siang sepulang kuliah. Waktu itu mbok pakai daster bunga2 biru yang kubeli di Pasar Senen.


Lucu ya... Kita ketawa2 kalo Mbok cerita tentang laki laki/suami. Sudah tentu aku ketawa hebat, abis ceritanya suka rada gimanaaa gituh. Tapi buatku itu pelajaran yang susah dicari . Bisa didapat seandainya Ibu mau terbuka. Tapi itu juga kayaknya kurang karna ibu menikah cuma 1x. Ibu cuma tahu 1 watak bapak saja.
Nah, Mbok nikah 4x! Kok nggak kapok kapok ya?


Mbok..

Mungkin sekarang mbok sudah betah kerja di rumah Enny Beatrice yang dulu pernah Mbok rawat . Dia sekarang jadi artis pasti daster mbok banyak dan lebih bagus dari yang pernah aku kasih.
Aku cuma bisa doa. Sebab hanya melalui Allah saja aku bisa memberi untuk Mbok.
Mudah2an di tempat Mbok yang baru ini mbok betah, nggak dibentak bentak/dimarahin. Perlakuan mereka sama dengan perlakuan kami di sini yang sudah menganggap Mbok seperti keluarga.

Dan yang penting..
Mbok punya kesempatan untuk beribadah


*Sayangku untuk Mbok.

Senin, 15 Juni 2020

Sahabat Baru



Ibarat huruf kau adalah Nun niswah yang bersifat mabni. Mengiringi kapan pun di mana pun. Pada keramaian hingga senyap ruang  mimpi.

Tak berciri, namun hadirmu adalah Mahlul i'rab yang tempat keberadaannya sesuai dengan perintah amil.

Kau seperti alif wau dan ya.
Ada... Tapi tak terbaca semua mata kecuali berasbab.

Suaramu jelas nyaring, kadang rahasia.  Perlu mencerna layaknya huruf muqata'ah .
Sesekali salah baca
Seolah sedang bertemu dengan ayat ghoribah

Berteman denganmu teduh menakjubkan ...
Mengingatkan cahaya hijau berselimut kapas lembut
di sudut bilik

Berdarah darah mempertahankan hadirmu.
Sementara kau tenang membujuk seperti membujuk anak kecil yang takut suntik.
"Tak apa, cuma sakit sedikit seperti digigit semut!"

Berulangkali ketaksempurnaan menghempasku ke lumpur
Kau tetap menunggu..
Menunjuk  5 mata air
Agar kukenal diri dan makna sejuk murni

Berjuta beton menghimpit bathin.
Berkerak, berlumut, berkarat!
Terangkat sudah.
Gelisah ribuan malam  terbayar dalam 1 pejaman.

Tetaplah di sini...
Tetap menemaniku makan, berkebun, tidur, hingga mimpi jadi bermakna
Tatap iba  muka pucat basahku.
Jangan jadikan aku huruf illat.

Hibur saatku sakarat
Temani sampai ke lahat.





Jumat, 29 Mei 2020

Untukmu



Duhai adikku.. Kau masih lincah menari dengan tawa lepas di mataku.
Kusimpan rapih dalam lipatan kertas suratmu yang makin menguning (Tahun 1989)

Ku harap
Kau bukan bara yang kukira asap.
Mungkin kau sedang rapuh
Seperti kertasmu dalam sampul coklat yg kukumpulkan bersama surat ibu.
Pelan sekali kubuka
Sepelan kususuri cerita lama.

Mungkin hatimu menyimpan gaduh
Tapi kau masih yang dulu
Yang pernah kulumuri rindu
Saat menatap jajaran nyiur pantai Pariaman.

Kau tak pernah tahu.
Biar saja begitu.

Kuhibur hatiku
Pada hijau aurora
Yang  pernah datang sekejap.
Berkabut... Tak menyilaukan.
Mengapung di sisi sajadah.

Aku  mendoakanmu..
Di sana.







Sabtu, 02 Mei 2020

Sahabat Di Garis Depan



Masa seperti ini sepertinya cuma kesehatan yang jadi fokus dan jadi daftar panjang doa.

Ada kecemasan saya waktu lihat  kiriman foto sahabat baik, sama sama aktif di Masjid Sunda Kelapa tahun 80an dan masih sering bertemu. Kami ngobrol ringan di perpustakaan Kampus UI bulan bulan lalu.
Dalam tugasnya melayani pasien di klinik  dia cuma pakai kacamata biasa! Teman2  jadi sedih bareng.
Nggak tega lihat dia berbalut mantel hujan tebal warna biru laut yang nggak menutup rapat pergelangan tangannya :(

Punya 5 sahabat dokter sebetulnya, tapi 3 dokter gigi dan satunya Dr Ossy punya tugas semacam mengaudit medis atau meninjau prosedur medis.
Berkeliling Rumah Sakit beresiko juga kalau Imun tubuh lemah.

Di WA grup Dr.Ossy ini banyak  informasikan Rumah Sakit mana  yang paling kekurangan APD,   petugas UGD dan pegawai kebersihan pun kadang kekurangan makanan.

Gerak cepat teman teman dalam seminggu alhamdulillah dapat terkumpul sekian juta. Kedekatan dan kehangatan persahabatan kok makin terasa ya di saat ujian Allah datang.

Uang ada tapi kalau barang tak tersedia buat apa? Dari teman ke teman ahirnya dapat juga penyedia APD meski harganya wow banget!
Makanan dari Katering pesanan alhamdulillah lancar datang. Salutnya perawat perawat itu  kok ya sempat sempatnya  kirim ucapan dan dokumentasi apa saja yang mereka terima. Padahal nggak kirim juga nggak apa apa. Dengar mereka baik baik dan tercukupi saja sudah gembira.






Tapi memang ada efeknya sih...
Berasa hadir di sana dengan lihat kondisi lokasi. Maka waktu 2 dokter ahlinya meninggal perih banget lihat ambulance berspanduk RS Pasar Rebo keluar perlahan melewati barisan perawat dan pegawai RS yang terisak. Doa dan air mata sampai di gerbang pintu keluar, setelah itu entah dibawa ke pemakaman mana??


Cukup ngaduk ngaduk hati 2 bulan lalu. Skarang dokter Fifi berbaju mantel sudah berpakaian lengkap. Entah, diam diam saya berharap dia dapat keringanan tugas supaya bisa istirahat banyak di rumah. Saya hawatir dengan kondisi kesehatannya.

Dokter yang baik hati. Tempat saya konsul jika kondisi lagi nggak sehat. Kami punya kesamaan sebisa mungkin jauhi obat, jadi dia kasih resep obat yang super ringan atau solusi lain tanpa obat.
Ingat bagaimana dulu dia curhat dimarahi suaminya karna obat yang sudah ditebus nggak diberi ke anak balitanya. Itu obat obat disimpan dibawah kasur dan ketahuan!!
Berdua ketawa kalau cerita itu lagi. Ya iyalah! Ia tahu efek samping apa yang mengintip di balik obat2an.

Dia sensitif, cepat luruh hati kalau datang pasien lansia apalagi dhuafa.
Satu hari dia bilang, "Kok saya dokter tapi   lemah begini?"
Dokter yang semangat belajar agama dan banyak tanya padahal yang ditanya nggak lebih tau dari dia.

"Fi, kamu enak bisa maju ke garis depan, bisa syahid. Trus saya bisa apa?
Dalam krisis begini kok saya nggak ada sumbangsihnya sama sekali?
Dia cuma jawab, "Kamu kan bisa nulis, himbau masyarakat saja lewat tulisan"

Semoga Allah beri perlindungan dan kesehatan untuknya. Hati berbunga lihat dia sudah berpakaian lengkap sebagai ihtiar. Tetap berteman tanpa bertamu, berdo'a tanpa bersua.

Big hug! Kangen dan sayang buatmu Fifi , Rossy dan pejuang pejuang medis lainnya. Terimakasih buat teman teman donatur.
Hanya menguatkan IMAN dan IMUN cara menghadapi keadaan.

Seberapa besar apa pun Allah turunkan balaa dan wabaa, tetap nikmat Allah lebih banyak. Nggak terbilang , nggak terukur. Ibarat 1 pohon khuldi doang di luasnya syurga yang nggak bersudut.

Menahan sabar, tahan makian, tahan  mencandai musibah, tahan dumelan karna ada hak yang terambil, akan lebih baik dari pada menahan lapar, haus, keringat  di padang penantian.








Kamis, 09 April 2020

Sebuah Pesan


Gemuruh mencengkeram awan
Pintu pintu terkatup di sepanjang jalanan basah
Cahaya kilat menyelusup di bilik hening
Beri pesan dari kerajaan langit

Menggigil di tepi jendela
Dan gelap semakin mengelam
Dalam kekerdilan, jiwa tertoreh
Pilu mengeja pesan

Dalam keterisolasian
Dalam ketakutan
Takjub akan caraMU
memadukan mahluk maha debu
dengan gelegar langit

Seketika taubat rapuh
Ritual nyatanya berdinding keegoisan
Beringsut payah menemuiMu
Namun menguap di keramaian

Maka layak mulut mulut Kau bekap
karna terlalu banyak kata sia sia
Kau kurung raga
sebab dunia berpenyakit
Putuskan diri dengan penyakit



Maka layak tangan tangan Kau ikat
Selaksa zaman telah buruk menimbang
Berjabat hanya untuk kepentingan
Menepuk dada mengakbarkan diri
Mudah menulis kedekatan2 semu dengan Mu


Maka layak Kau buat jarak dengan segala
Setelah kaki enggan rapat luruskan saf

Kau senyapkan rumah rumahMu
Yang selama ini diramaikan hanya untuk memuja diri
Kau sunyikan tempat kesibukan yang membanggakan kelompok

Hingga ahirnya tak ada yang lain
Tak ada yang bersisa
Hanya Engkau

Biar...
Mahluk kecilMu mengajari
Berpisah dengan panggilan agung adalah pilu

Semoga ini karna Cinta dan RinduMu
agar  cepat terkumpul bekal perjalanan abadi
Semua pintu boleh tertutup
Asal  pintu taubatMu tetap terbuka



















Sabtu, 21 Maret 2020

Daun Kering



Bukan,
Bukan karna pohon tak memintanya untuk tinggal

Daun  bisa terhembus angin
Atau
Luruh perlahan 
Berbaring manis di sela rumput


Ada juga daun setia pada ranting
Memilih terbang beriring
maupun tumbang bersama pohon.

Saat bumi muram
Senja kehilangan jingga
Pucuk puspa merunduk

Selembar daun kering
Ringan kendarai angin
Sapa langit pucat
Lalu
Membuat lorong pelangi



Jumat, 20 Maret 2020

Cuci Tangan Jadi Kebiasaan




Sejak jaman iklan Mandomnya Charles Bronson dan majalah kecintaannya Kuncung sudah diajari cuci tangan yang benar.  Yang diajari bu guru cuma supaya hilangkan kuman tapi efeknya jadi waspada di mana saja.
Tiap pulang dari bepergian berasa kurang kalau belum cuci tangan.
Kepinginnya sih di teras rumah ada wastafel. Tapihh  saya dan pak suami berbeda kayakinan. Saya yakin tamu juga butuh, sementara beliau bilang cukup di dalam rumah.Yasud!

Di tempat umum anak anak masih ingat pesan saya. Pegang  pagar tangga penyeberangan di tempat yang nggak biasa orang  pegang, lebih baik di bagian bawah ( Jeruji ).
Kalau terpaksa harus makan dan tidak ada air cuci tangan, sisakan ujung makanan tempat jari menggenggam.

Tugas masak pun senang kalau siap air. Supaya kran nggak cepat aus karna keseringan diputar, saya sediakan  air 1 baskom ukuran sedang husus cuci tangan.

Melakukan sesuatu karna biasa sungguh beda dengan melakukan karna takut saat wabah datang.
Semoga kejadian luar biasa ini banyak yang dipetik. Punya kebiasaan baru yang bertahan meski sudah berlalu. Bukan sebatas cuci tangan doang. Tapi mau tutup mulut saat batuk, bersin, atau menguap. Ngantri jangan terlalu dekat jarak dengan badan orang, langsung ganti baju dan jemur di panas begitu pulang dari pergi pergi. Nggak usah baper kalau ada jamaah yang nggak salaman.
Seperti Bu Gubernur bilang "Tanpa Salaman Kita Tetap Berteman"

Cuci Tangan yuk, 20 detik yang baik. Sebab virus berlapis lemak, kurang dari itu cuma lemak yang luntur. Selisihi jemari seperti yang Rasul contohkan.

Cuci tangan dan tutup mulut banyak manfaat. Kecuali... Cuci Tangan dan Tutup Mulut yang pakek tanda kutip itu tuu ! :)











Selasa, 10 Maret 2020

Jangan Takut, Jangan Sedih


                                        Dok.indopos.co.id


Kenapa takut?
Kenapa sedih?

Yang membentuk trilyunan sel dalam tubuh kita amat mengasihi, Maha Cinta , Maha Halus, Lembut.
Dia tak akan tega memberi kasus baru hingga hamba terbelalak di tiap kejadian.
Semua yang terjadi hanya pengulangan sejarah.
Kalau sekarang anak anak kecil diculik untuk diambil organnya, dahulu anak perempuan dikubur hidup hidup olah ayahnya sendiri.
Kalau sekarang ada wabah Corona dulu ada Tho'un.


Tak ada sakit yang menyebabkan kematian melainkan kematian itu memang sudah jatah.
Penyakit cuma alat menuju titik akhir.
Muncul dan berpindah atas izinNya


Duhai
Bahagianya mereka yang berwajah tenang
Perkara muslim selalu baik
Pesan Laa Takhaf wa laa tahzan melalui malaikatNya
Terletak rapih dalam batin.

Duhai
Bahagianya mereka yang sakitnya jadi berkat
Dalam kepayahan melantunkan huruf
Diiringi deru dan tawaf 70 triliun sel di sepanjang 75 km neuron.

Ia yakin yang dilantunkannya adalah penawar dan penghibur.
Iya yakin lebah serta tumbuhan adalah penerima titah terbaik .
Wujud ihtiar dan tawakkalnya tak cacat

Duhai
Indahnya yang berhati tenteram
Bersandar pada yang kokoh
Merasa cukup dengan wakilnya
Tanpa menuduh lemah atau pun kurang