Rabu, 31 Oktober 2018

Boston Brownie Buat Bu Guru


Sudah lama saya niat berkunjung ke rumah guru ngaji.
Guru sederhana,  sabar, Qanaah (Selalu merasa cukup). Rajin mengajar ngaji anak anak tetangganya.

Masih ingat betul bagaimana tawanya  waktu saya utarakan keinginan untuk belajar , dia anggap saya bercanda. Yakin betul saya sudah kuasai hukum bacaan dan bunyi huruf.

"Betul memang saya pernah menamatkan kelas  tahsin, tapi saya tetap butuh guru yang mau teliti mendengar dan membetulkan makhraj bacaan saya" Saya berusaha meyakinkan.
Barulah beliau bersedia serta minta  saya menganggapnya adik, bukan ustazah.

Pertemuan 3x seminggu. Setelah sholat isya saya segera siapkan makan malam buat Pak Suami . Setelah itu susuri jalan kecil lewati 2 area pemakaman.
Beberapa kali ia membuat saya haru, dalam remang kelihatan  ia  menunggu di tangga pintu masuk ruang majelis sebelah masjid. Padahal saya sudah berusaha datang lebih awal.

Kalau membenarkan kesalahan  sangat hati hati seperti takut menyinggung perasaan saya. Perbincangan selalu ada setelah quran ditutup. Kadang berbagi resep masakan, berbagi pengalaman, hingga konsultasi mengenai  keluarga dan lain lain *  Makin berasa tuanya, saya 😀

Target 12x pertemuan ahirnya sampai di penghujung. Kami ketemu terahir beberapa bulan lalu saat besuk suaminya yang baru mengalamai kecelakaan motor. Niat bersilaturrahmi  lagi selalu batal.Undur lagi ... undur lagi!
Penyebabnya karna keinginan saya membawa buah tangan yang spesial. Cake Lemon kebisaan saya bertekstur lembut dan tidak bikin haus alias seret. Tapi saya belum sempat juga belanja bahan.

Alhamdulillah. Kebetulan  saya dapat kiriman produk baru dari Bika Bogor Talubi. Namanya Boston Brownie. Untuk kali ke 2 Talubi memberi nama kota di Amerika setelah New York Style.
Brownies Kukus berbahan dasar Ketan Hitam pada lapisan dasar  ini punya 2 rasa yaitu Original  ( Ungu- Hitam), dan rasa pandan (Hijau-Hitam).






Kotak pertama saya buka Brownies Kukus Ketan Hitam Talas Original. Pak Suami ingin cicip sebelum difoto. Iringannya teh hangat. Sementara saya menikmati rasa pandan yang harumnya memikat dengan minuman jeruk segar sambil ambil gambar.

Tekstur kue lebih lembut dari produk sebelumnya. Manis sedang cocok untuk semua lidah.
Yang bikin ketagihan taburan kacangnya itu lho! Crunchy gurih berkaramel. Krim yang mendasarinya selain enak juga membuat taburan kacang tetap di tempatnya alias tidak  rontok.

Brownies yang sudah terdaftar kehalalannya di MUI ini di jual dengan harga 38.000 rupiah dengan berat 550 gram. 4 Hari bisa tahan di suhu ruang. Jadi dari harga dan ketahanannya benar-benar pas buat buah tangan. Tanggal expirednya pun tidak perlu repot mencari. tertulis besar di bagian belakang.

Outlatenya mudah didapat. Dipinggir jalan utama dengan parikiran luas.

- Jl. Padjadjaran 20 M, Bogor
- Jl. Sholeh Iskandar 18B, Bogor
- Jl. Surya Kencana no 278, Bogor
- Jl. Raya Gadog sebelah Vimalla Hills-Puncak Bogor

Info jelasnya bisa lihat
Line: @bikabogor
Instagram: @bikabogor
Whatsapp: +628884829626


Selesai sudah hutang niat saya. Bisa bersilaturrahmi sesuai keinginan.
Keluarga juga dapat menikmati. Alhamdulillah, terimakasih Talubi-Bogor :)

















Kamis, 25 Oktober 2018

KARISKA Di Antara Bukit Sampah



Dok. /megapolitan.kompas.com


7 oktober pagi sekali, motor yang membawa saya sudah membelah aroma sampah buangan warga Jakarta  6500 ton per hari
Entah asap sisa bakaran atau kabut pagi  yang selimuti bukit-bukti sampah ini ? Kelihatan sama warna. Anggap saja kabut membawa embun, toh dingin masih terasa meski nggak menggigit.


Anak-anak tukang pulung sudah duduk berjejer di depan musholla.
Batul kan? Anak anak selalu hadir sebelum waktunya kalau ada acara lomba.
Kerudung warna pink membalut wajah-wajah halus jernih.  Dengan tangan dingin serta senyum malu mereka cium tangan. Sebetulnya nggak tega kalau ada yang cium tangan, tapi nggak apa apalah kalau dengan itu mereka happy dan saya tambah sungguh sungguh mendoakan .
Setelah itu mereka menyebar cari tempat masing-masing sambil bercanda tertawa.


Lihat senyum mereka jadi ingat lirik lagu favorit saya...

Bocah bocah bercanda dengan lugu
Wajah tanpa dosa bagai salju
Coba dengar suaranya, bening tak penuh debu
Kata hati jujur lugu tanpa punggu tipu

Matanya bening, bibir sebersih mega
Damai damai dunia ini, hidup seperti mereka





Puncak Muharram sudah berlalu, tapi gaungnya masih mampu mengumpulkan kami Kariska di sini . Insya Allah 2x  pertemuan dengan warga  Sumur Batu-Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang.
Pertemuan pertama ini mengajak anak anak usia SD lomba mewarnai, hafalan surah pendek dan doa sehari hari. Sedang para ibu dapat ilmu Craft mengolah limbah kain (Majun).


Waktu berjalan cepat. Pembagian tugas dan arahan kepada para juri selesai sebelum rombongan panitia lain tiba.
Terimakasih buat yang sumbang makanan sarapan. Risoles mayo yang bertumpuk jadi nggak ragu nambah. Lontong gurih isi oncom dan rebusan ubi Cilembu yang harum. Jazakumullah khairaan.

Sambil ditemani alunan marawis santri At Taubah kami duduk di depan ruang ta'lim yang dulunya kumuh.  Kamar mandi nggak memenuhi sarat kesehatan, sisa ruang berlantai  tanah beri kesan sempit.

Kini ruang ta'lim berkaca besar dengan frame  alumunium.  Ruang berlantai tanah  jadi aula terang terbuka, bersih, setelah terpasang keramik. Atap nggak bocor lagi bahkan  tempiasan hujan pun nggak ada kalau jamaah melimpah.

Jihad punya banyak bentuk. Ada yang dengan harta, tenaga, waktu.
Bersyukur Kariska punya banyak sahabat siap dana. Saya tersentuh  lihat daftar donasi yang masuk disambut tangan tangan sahabat yang sudah siap mengeksekusi sesuai keahliannya masing-masing.
Ada sahabat yang biasanya mengurusi proyek-proyek besar  dari tower  gagah di pusat kota, namun dengan ihlas mau bersa'i antara toko bahan bangunan ke lokasi pengecoran, menyatu dengan para santri . Masya Allah.

Sahabat lain yang biasa sibuk kasih kuliah Ekonomi Islam, berkedudukan penting di Bank Syariah, mau mengelola aliran dana hingga  mempertanggung jawabkannya dengan detil.
Belum lagi peran di balik layar yang namanya enggan disebut. Padahal organisasi yang dipimpinnya sering nampak di media saat bencana alam atau konflik luar negeri. Dan masih ada lagi.

Kita tahu banyak proyek amal yang besar-besar di tempat lain. Namun ukuran bukan utama, apa yang di depan mata itulah tawaran Allah. Kecil ukuran mata biarlah, asal besar di mata Allah.
Semoga semua usaha ini jadi washilah di yaumil hisab. Amiin ya Rabb.


Acara formilnya singkat saja. Anna selaku ketua Panitia membuka disusul pembacaan  kalamullah oleh seorang santri.
Sambutan awal disampaikan oleh Ustad Adul Aziz.  Ustad sabar pemersatu anak anak  pemulung. Rumah kecil dan penghasilan ngojeknya direlakan asal mereka mau mengaji , jauhi maksiat di jalan dan menghambur waktu.
 Mereka  punya semangat belajar sekarang. Penampilan bikin adem dengan baju muslim bersih duduk rapih di belakang pak Ustad. Diantaranya sudah bisa jadi juri tahfiz, sebagian lagi tengah bersiap mengikuti Paket C Gratis atas kelapangan dan kemudahan dari Bang Fuddin yang alhamdulillah berstatus sebagai Kasi Dikmen dan Paud Dikmas, Sudin Pendidikan Kepulauan Seribu.




Pada sambutan ke dua, Bang Cheppy ( Muhammad Syahrial) berpesan agar santri tetap semangat. Ingat  akan janji Allah  untuk hambaNya  yang ihlas berjihad ilmu dan harta di jalan Allah.
Selain anggota Kariska beliau juga penasehat yayasan Attaubah ini. Bermula dari tugasnya menyebar luaskan infaq karyawan Gobel tempatnya bekerja. Barakallah.
Pahalanya besar ya, sampe dapet balasan bisa mempersunting putri pak Boss. :)

Anak anak peserta lomba mewarnai sudah resah ingin cepat mulai. Tapi crayon masih dalam perjalanan. Untuk mengisi waktu kosong saya dan Hiromii diminta kasih pesan. Haha, nggak siap! Kok kayak Tahu Bulat Digoreng dadakan, ya?

 Yang kami sampaikan intinya...
 Apa pun yg kita lakukan hendaknya selalu dalam rangka syukur.
Saat melihat gambar tumbuhan ingat akan kekuasaan Allah.
Dalam kecantikan warna  ingatlah bahwa Allah maha indah dan menyukai keindahan.
Bisa pilih warna artinya indera penglihatan kita sehat. Jemari lincah bergerak tanda sayang Allah dengan mengizinkan otak mengatur saraf halus hingga kita bahagia melakukan.
Dapat berkumpul pun atas kemurahan Allah. DigerakkanNya hati para donatur, di mudahkan langkah penyelenggara. dan lain-lain.
Meski di antara bukit2 sampah hati harus syukur, bukankah di belahan pulau lain saudara-saudara kita tengah bersedih kehilangan keluarga sementara perut kosong berhari-hari?


Masih ada sisa waktu. Beruntung ada Nadia puteri bungsu Bang Fuddin, mahasiswi keguruan jurusan PAUD. Cocok betul memimpin acara ceria.
Terimakasih Nadia, sudah sedia jadi "Panitia Cabutan". Semua gembira lihat permainan seru anak-anak. Saling mencari, kejar, dan memeluk kawan. Nggak terasa di parkiran berdatangan panitia lain.

Pukul 9 ibu ibu mulai belajar bikin keset. Karna Mbak Dorry batal hadir, saya jadi motivator "Cabutan". Ibu-ibunya enak sih, komunikatif banget jadi saya santai saja menyampaikan. Intinya sama dengan yang  disampaikan ke ibu-ibu dhuafa Klender sebelumnya.

Membuat sesuatu karya berdaya jual bukan hanya menambah uang belanja, tapi mengajarkan kemandirian, dan kreasi buat anak. Waktu jadi berkwalitas, hidup lebih fokus, dan terhindar dari ghibah.




Karna waktu pendek ibu ibu cukup puas belajar bikin Cempal ( Pengangkat Panci) dulu.
Saya, adik saya Dhany dan Vina murid di Klender yang sekarang sudah lihai sama-sama  bahagia lihat antusias mereka. Anak anak kecilnya sampai ikut bantu dan menyemangati.

"Bu,bu, cepetan doong! Yang lain sudah hampir jadi" Tangan mungilnya ikut pegang bahan.


Di ruang musholla anak anak sibuk memadu warna tanpa suara.
Sementara juri juri santri  serius menilai makhraj, tajwid, adab dan kelancaran hafalan. Pada sudut sudut lain masih ada peserta lomba yang menggunakan waktu tunggu dengan muroja'ah.




Para juri (Santri) cantik berembug nilai ahir



Keset jadi, lomba mewarnai juga kelar. Pembagian hadiah anak anak paling meriah. Salut deh, sama panitia yang kebagian tugas blanja blanji. Pinter dan tau betul selera anak-anak, dan ada unsur edukatifnya.
Bantal-bantal aneka rupa yang lagi nge-trend bikin suprise. Deg-degana menunggu siapa peraih juara yang bakal bawa pulang.  Tiap nama disebut, pecah suara mereka tanpa cemburu. Memancing tawa hadirin ikut seseruan. Apalagi acara dipandu Anna dan Achfa yang nggak kalah seru dengan anak anak.

Juzamma cantik yang semula diduga  hanya untuk juara hiburan ternyata  semua mendapat. Anak anak serentak tepuk tangan gembira. Apalagi ditambah goodybag cemilan.





Alhamdulillah satu satu acara usai. Bersyukur dari kejauhan lihat ibu-ibu menjinjing goodybag sembako dan hasil karya mereka.
Putra pak ustad bertubuh kecil mungil kelihatan  repot bawa 2 hadiah lomba dan 1 tas bingkisan.

Nggak ada pesta yang nggak usai, begitu kata orang. Kumandang azan menyisihkan semua kesibukan dan kepenatan. Usai sholat berjamaah dengan wajah segar, tenaga terbarukan, kami santap  bersama nasi bakar komplit nikmat  pesanan Bang Cheppy untuk selanjutnya pamit kepada keluarga pak Ustad dan para santri.
Insya Allah kembali lagi minggu depan untuk  melaksanakan janji ke dua.

Syukur dan pujian tak terhingga padaMu ya Rabb
Masih berkenan memberi waktu dan kemampuan untuk kami semua. Mohon ridhoMu.























































Senin, 01 Oktober 2018

Pentingnya Journal Harian




Ada yang menarik saat saya perkenalkan buku Journal untuk murid pengajian.

"Kenapa buku journal penting dan menghibur?
Karna bukan hanya menulis daftar rencana dan hutang janji saja. Tapi kita bisa bebas menulis keinginan dan impian. Yang hobby menggambar bisa menghiasinya dengan doodle  warna warni supaya nggak bosan mencatat  hikmah dari kejadian yang ditemui hari itu" Jelas saya.

Tahun ini saya punya buku journal harian warna ungu.  Apa adanya menulis daftar kesalahan, catat  ilmu baru, idea unik, tugas rumah yang belum dikerjakan, hingga masalah ibadah. Misalnya lajur jadwal sholat. Jika kolom bertinta merah, itu tanda sholat nggak tepat waktu atau nggak mengerjakan yg sunnat.
Selain itu mewajibkan 1 hari  mencatat ringkasan sejarah 1 ulama besar plus pendapatnya yang terkenal.

Mencurahkan pikiran dan perasaan dengan menulis bikin hormon kortisol malas mendekat, demikian kata psikolog universitas California, Lyubomirsky.
Benar, menulis planning yang tercapai, memotivasi ( Menasehati) diri,  otomatis jadi fokus pada rasa syukur . Tulisan  singkat tapi selalu memercikkan perasaan baru dan hidup jadi ramai berwarna.

Coba lihat journal harian orang-orang "Luar" sana yang lebih detil lagi mencatat.
Misalnya referensi film yang sudah ditonton, daftar makanan sehat/ harus dijauhi, tempat  yang sudah dikunjungi , daftar kegiatan bebersih rumah, dan perkembangan hasil diet.
Yang terakhir ini buat saya nggak perlu deh. Berat badan nggak jauh-jauh  dari 54- 55 terus.


Jadi begitulah.
Sonja mengungkapkan, menulis perasaan adalah salah satu cara membuat hati bahagia.
Dan saya lihat murid-murid suprise  menerima buku mungil bercover tebal. Sambil senyum senyum dan takut tulisannya terlihat, mereka urai impian, cita-cita  hingga makanan yang nggak disuka.

Waktu temannya menulis kejadian yang nggak menyenangkan di sekolah, Varrel diam nggak mencatat.

"Nggak apa Varel, tulis saja! Siapa tau nanti hati Varrel jadi lega?" 

"Aku nggak ah, Bu! Soalnya setiap hari aku udah siapin maaf untuk siapa saja"

Jawaban manis itu jadi catatan hati saya . Indeed!


















Minggu, 23 September 2018

Kata Bapak Di Suatu Sore





Pasti tengggelam di samudera waktu
Walau pun umurku seribu tahun, tiada arti.

Apa arti seribu tahun?
Umur dunia siapa yang tahu?
Umur alam siapa yang tahu?
Kita pasti tenggelam karna seribu tak bermakna dalam masalah umur alam

Pasti tenggelam di samudera waktu

Kupandang semesta alam
Tujuh lapis langit dengan rahasianya
Kalau ditulis seluruh laut tinta dunia
Tak bisa jadi tinta untuk menulisnya
Aku adalah abunya semesta alam

Tetapi kusadar, mensyukuri diriku
Walau laksana debunya alam
Aku ada dalam jalan pencipta alam

Diri dilihat dengan kejadian ciptaan Allah
Tidak ada apa apanya

Seumpama ilmu
Allah memberi hanya sedikit
Tapi Allah memberi kalimah Laa ilaha ilallah

Dengan ilmu sedikit, banyak orang bertitel
Ada yang punya puluhan predikat
Tapi hakikatnya hanya...
Laa ilaha ilallah.

Dengan Subhanallah Walhamdulillah
Walaa ilaaha ilallah
Pahalanya memenuhi langit dan bumi

Aku...
Walau pun debu
Tapi dicipta tuk menghamba
Aku rahasia Allah
Aku Bahagia

Kamis, 20 September 2018

Ujung Kehidupan



Cukup mengaduk aduk perasaan  menyaksikan beberapa orang yang saya kenal dekat pergi satu persatu memenuhi panggilan Rabb.
Kebaikan mereka masih hangat , kenangan masih bermain,  lalu satu lagi menyusul.
Tante yang saya kagumi wafat di hari jumat , hari mulia dambaan banyak orang karna pertanda baik. Pelayat memenuhi masjid ingin mensholati. Doa doa ihlas melangit di pemakaman

Hadiah layak buat tante lembut, sabar, berani, dan disiplinnya jadi panutan. Tahun 80-an mendapat predikat ibu teladan dari Bapak Soeharto mantan presiden RI.
Pensiunan kepala sekolah SMP Negeri Teladan kota Depok ini 20 tahun membesarkan 9 anak sendirian sejak suami wafat. Terkenal di kalangan kerabat sebagai ibu yang pandai menjaga silaturrahmi. Di usia senja nggak pernah merasa repot membawa semua anak, cucu, cicit keliling ke rumah saudara-saudara di hari raya.

Saya pernah merasa diri teramat spesial. Waktu itu hari wisuda,  beliau datang mengucapkan selamat dan memberi bingkisan bahan baju motif bunga warna kesayangan. Kado semata wayang di moment penting nggak akan pernah terlupa.

Pertemuan terahir sebelum ramadhan, dalam keadaan rapih segar habis mandi tante menyiapkan makanan siang. Bentuk sedekahnya yang nggak pernah ditinggal. Tamu keluar dari rumah itu harus dalam keadaan kenyang! Siapa yang pernah menyangka bahwa itu pamit saya terahir berbekal nasehat yang membekas.

"Jangan pernah berprasangka buruk pada anak!"

Begitu jawabnya saat saya tanya apa resepnya mendidik anak hingga semua berilmu dan berahlak baik?

Ya Rabb...
Saya bersaksi atas semua kebaikan dan nasehatnya. Jadikan semua pengantar ke tempat mulia di sisiMu dan sanggupkan diri ini melaksanakan  uswatun hasanahnya.

Ah, kalau sudah begini jadi malas melakukan sesuatu yang keduniawian. Kembali saya buka buka  postingan blog. Apa harus saya tutup? Apa bisa jadi pemberat timbangan?

Macam macam keadaan ujung hidup seseorang nampak jelas. Setiap melihat deretan nisan selalu timbul kata, hidup kayak gini aja?? Kemana perginya keringat dan seabreg gelar?
Rugi berat bagi yang menyia-nyiakan. Tak termaafkan bila nafas gratis ini nggak bernilai.
Dikira hidup akan lama padahal setiap helaan nafas artinya mengurangi jatah nafas.
Mau menahan nafas supaya panjang jatah? Yang didapat malah sebaliknya.
Senang waktu perut kenyang dengan menu sedap, padahal hanya membuat kaki kuat menuju "Tempat Pertemuan" yang dijanjikan

Nisan boleh sama, atau sama juga status soasialnya, tapi berbeda saat berbangkit.
Iman fluktuatif, debet kredit selalu terjadi, yang penting saldo akhir besar kan?


Jika manusia bosan dan merasa direcoki dengan banyak permintaan.Untungnya  Allah kita malah makin cinta jika dirongrong, diserahi segala urusan, dan dimintai pertolongan.
Semoga Allah membimbing hati agar mampu menomor satukanNya di atas segala, ahir hidup dengan husnul khatimah, dijauhkan dari sifat buruk dan didekatkan dengan orang orang shaleh.
Amiin ya Rabb..
















Jumat, 13 Juli 2018

Terus Berdoa



Apa yang dirasa?
Bila seseorang menggenggam indahnya susunan doa, harap, dan mimpi kita?


Dia sahabat muda kala dulu.
Berlesung pipit, ceria sedikit tomboy.
Suaranya riuh di lapangan basket.

Kadang asik bercanda di sela pilar taman masjid meski berpeluh.
Sambil sesekali memantulkan bola.

Ramadhan lalu..
Tubuhnya terbujur di pintu multazam
Tertutup kain hitam berkaligrafi putih.
Usai bimbing umroh ia tertidur panjang dalam sholat magribnya yang terakhir.

Ku susun terus doa tuaku











Minggu, 08 Juli 2018

Sambal Enak Menurutmu Seperti Apa?



Pelancong asing yang datang seringkali takjub dengan kebiasaan kita.
Salah satunya menu sambal yang kerap tampil di tiap hidangan.
Hitung punya hitung, kita punya 322 lho!
Jangankan yang enak maknyus, sambal  biasa-biasa saja bikin bule Australia rela antri di salah satu warung di Bali buat bawa pulang.

Sambal yang kamu suka seperti apa?
Sambal favorite saya seperti ini,nih! Pedasnya bikin penasaran, warna merah terang, tekstur agak kasar, nggak kering, manis dan rasa terasinya sedang. Apalagi kalau rada rada berminyak sampai cipratannya nempel di pinggir piring  putih sela sela nasi. Wuihh!
Meski bukan penggila sambal, tapi bagi saya sambal itu bukan sekedar  pelengkap melainkan  pembangkit selera  makan.

Mbak Almazia mengirimi saya sambal UTI . Terimakasih, Mbak cantik...
Kemasan berlabel tak biasa ini langsung terlihat teksturnya.  Persis sambal rumahan dengan sedikit biji cabe. Kalau nggak ingat ini harus saya ambil gambarnya dulu, pasti sudah saya icip. Minyaknya itu lho! Haha.. Merona merah. Asik kali ya, kalau disiram ke dendeng padang.



Si UTI mudah diingat namanya. Teman bilang  nama itu bagus untuk produk usaha saya. Amiiin ya Rabb.
Taplak husus saya gelar di halaman rumput sisi kiri rumah. Biar terkesan lagi piknik. Karna sambal UTI praktis dibawa ke mana mana selain buat oleh-oleh.

Bayangkan udara dingin puncak, rumput hijau segar, udara bersih, trus kita duduk rame rame di bawah pohon nikmati makan siang menu Timbel.
Lalapan hijau cerah ketemu si merah UTI!

Motret ini jelang siang, cukup makan waktu.
Begitu kelar langsung santap obyek foto. Terus terang, nasi bagian atas agak garing ketimpa  panas tadi :))  Untuuung si Uti menghibur.

Sekian laporan dari dunia persambelan.












Senin, 25 Juni 2018

Problem Tarik MoneyGram

Foto Su Rima.




MoneyGram salah satu cara pengiriman uang antar negara. Bisa ditarik melalui bank atau Kantor Pos.
12 tahun saya pilih via bank karna bisa langsung masuk rekening. Rasanya nggak tenang kalau terima cash seperti di Kantor pos selain banyak antrian.

Sebulan dua kali bertemu jadi kenal baik dengan custumer service dan pernah bangun tidur dapat telepon bahwa saya dapat hadiah kejutan *lumayan lah barangnya, karna pelanggan.

Tapi bulan lalu dapat masalah waktu adik saya kirim buat bapak.
Uang nggak bisa ditarik karna ada kode XXX di depan nama adik.
Cukup alot saya terangkan bhw xxx itu tanda kolom nama panggilan tidak diisi.
Hanya terisi first dan last name. Yang sudah-sudah nggak pernah dipermasalahkan.

Esok harinya saya diminta print buku kas tabungan. Dia mau lihat MG  yg pernah masuk
Lebih ngeselin dia minta supaya saya hubungi adik saya utk mengubah si xxx.
Bagaimana bisa? Bukan adik saya yg menulis tapi pihak Bank Paris. Pegawai dalamnya pula, yang nggak mudah ditemui.

Setelah dia serahkan berkas saya ke petugas lain. Kelar! Alhamdulillah.
Tapi kunjungan ke bank selanjutnya bikin nggak enak. Kalau pas nomor saya dipanggil oleh si Mbak  itu, kami sama sama nggak enak.
Untungnya dia masih sopan minta saya ke petugas lain.

Saya cuma berusaha berhusnuzon saja. Mungkin dia pegawai yg terlalu takut dengan peraturan, atau mungkin  pegawai baru?

Pengalihan ke petugas lain saya gunakan untuk bertanya apa solusinya.
Alhamdulillah dia petugas cerdas dan nggak ribet. Dia bilang cukup tambahkan xxx saja dibelakang nama adik saat isi isi form. Mudah kan?
Kesimpulannya, jangan cepat menyerah, mau bertanya. Yakin masih ada manusia yang mapu menyederhanakan masalah.
Apa jadinya kalau saya nggak sabar lalu  nulis kekecewaan di sosmed?

Semoga jadi pembelajaran.
Dan semoga pembaca terhindar dari problem tarik MoneyGram





Sabtu, 23 Juni 2018

Kehilangan



10 cahaya
Persembahan cinta sang raja
menerangi bilikku

Kemilaunya berbulir bening
Berirama haru.
Laksana gita rinai mengetuk kaca jendela
Tak butuh penterjemah

10 cahaya
Satu satu pamit

Bagaimana kukisah?
Lelehan sesal, menyakitkan

Aku hanya bocah
Berkaki kotor, akrab dengan mentari
Pulang tergesa jika ibu memanggil
terkadang datang dg setengah hati

Atau harus kuhibur diri?

Mentari  beringsut
Rembulan tak sepanjang masa
Agar tetap merindu















Kamis, 21 Juni 2018

Vakum Menulis


Lama ya, blog ini nggak terupdate.
Mulanya kesal karna foto-foto postingan banyak lenyap, saya harus banyak memback-up pict dari ponsel dan google plus ke media lain.
Lalu kesibukan datang. Selesaikan kerjaan rumah, ngajar, bimbing ibu-ibu pengrajin keset, tengok bapak dan sambut kegiatan rutin ramadhan.
Sok sibuk yah!

Banyak moment yang enak diabadikan sebetulnya, tapi lewat begitu saja. Misalnya waktu acara Baksos warga dhuafa pinggiran kali. Panitianya sedikit dan diluar dugaan masjid tempat acara dipakai buat mensholatkan jenazah.
Usaha keras supaya acara tetap berlangsung di lantai 2 tanpa suara. Anak anak lho yang disuruh silent! Ibu ibu peserta Cerdas Cermat saja harus saya peringatkan berulang ulang.

Bu Ma'ruf penjual makanan mateng di sampaing masjid meninggal. Baru kemarin siang kami saling senyum dan sapa. Begitulah, acara manusia terjadwal tapi bisa berubah cerita. Sedang kematian nggak berjadwal namun pasti.

Moment lain ketemu  Boncel lagi. Anak yatim itu sehari hari duduk dekat bangunan MCK dengan kaki terikat. 3 tahun menghilang sudah bikin ibunya trauma.
Baru saya sadar, dekat kakinya ada 3 boneka yang semua terikat. Manusia memperlakukan benda atau orang seperti dia diperlakukan.


Perjalanan ke BSD (Bumi Serpong Damai)  membesuk teman sakit juga bawa kesan. Lewati lahan yang dahulu sepi  mengerikan kini jadi kota modern , damai dan tertata rapih. Bikin malas masuk Jakarta.
Saya menamakannya Kota Internasional. Banyak flat, apartemen dan pemukiman warga asing dari  Jepang, China, Jerman, Afrika bahkan Palestina.

Anak2 kecil berhidung mancung  nikmati sore dengan bersepeda dan jajan di minimarket.Sebagian lagi bermain dengan pengasuhnya di pinggir rumput.
Wajah wajah cantik  yang mengisi lembar media.  Mereka ada di antara  debu puing serta tangis kehilangan.


Ok, semoga hari2  ke depan kesibukan saya mereda. Ingin menikmati lagi kegiatan menulis.
Btw Selamat Hari Raya Idul Fitri. Semoga ibadah ramadhan dan silaturahiim kita dapat ridho Allah.
Dan paska ramadhan amal kita makin berkwalitas. Amiin ya Rabb..
Love you all