Sabtu, 26 Januari 2019

Mengunjungi Ibu Aisyah




Harusnya hari ini bertandang ke rumah seorang sahabat yang baru pulih dari sakit dan akan kembali ke New Zeland.
Rencana sudah  tersusun rapih sejak hari selasa. Jam 10 pagi ketemuan di Junction Mall Cibubur, bawa potlock makan siang biar nggak merepotkan.

Qadarullah, malam hari dapat kabar ia  harus bermalam di tempat  mahal berinterior studio apertemen mewah, tapi tetap namanya Rumah Sakit, nggak enak!
Belum boleh ditengok pulak krn jalani observasi.

Sekotak Pizza untuk dinikmati skarang tergeletak di meja teras Lotteria - Bogor  tempat titik temu.
Saya dan 2 teman akan mengunjungi ibu Aisyah yang namanya tengah viral di medsos.
Rencana bisa rubuh kapan saja ya.
Tarik jangkar, lalu layar yang berkeinginan.

Dulu saya heran ibu bapak seperti danau
kala keriaan telah ranum siap petik.
Sementara saya debur gelombang yang lena pada halusnya panggilan rembulan.
Cerita bisa berubah sedikit atau banyak. Biasa biasa saja atau  mencengangkan. Skenario Allah tetap terdepan dan akan terus berjalan meninggalkan kita yang terpana tak mengerti, terengah-engah. Mesti diakui niat dan amal  bukan properti kita.
Cari posisi tepat agar dapat sinyal, gunakan password.. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Timur Bogor mendung waktu kami susuri gang sempit .
Entah kenapa kami seperti diburu buru sesuatu sampai batal membeli susu di warung tempat bertanya tadi.
Mungkin sudah nggak sabar ingin ngobrol dengan bu Aisyah.

Beliau  dhuafa berwarga negara Colombia.
Memilih agama islam sejak menikah dengan suaminya asal Bandung. Pertemuan romantis mereka di atas kapal ahirnya ahirnya berujung pahit  sejak sang suami menikahi Asisten Rumah Tangga mereka. Dan lebih sakit waktu dipisahkan dari putri semata wayangnya.

Bak ditelan bumi mereka menghilang. Belasan tahun Bu Aisyah mencari dan berhutang. Pemilik mobil sewaan sampai terenyuh dan ahirnya mengihlaskan.

Usaha berbuah manis. Dan tetap manis meski harus menerima kenyataan sang putri berambut ikal legam, bermata boneka, kulit terang campur pink itu sudah lumpuh. Kaki bengkok karna lama dipasung ibu tiri.







Kami sampai di belokan ke 2, ada area  rongsokan tempat Ibu Aisyah Annisa menimbang dan terima hasil pulungannya. Lumayan buat makan dan mencicil bayar  hutang.

Seorang bapak turun tergesa dari motor. Entah kenapa dia bisa tangkap maksud kedatangan kami.
"Ibu, Bu Aisyah sudah dijemput mau ke Jakarta!"

Nggak pikir panjang, langkah nggak seiring lagi. Apalagi pas lihat mobil ambulans siap brangkat. Hahh!! Gagal! Gagal ketemu deh!
Ada kereta dorong mendekati ambulans, Ya Allah, izinkan sebentaaar saja kami menyapa  ibu dan anak itu. Sebentaar saja!
Tapi ibu Colombia itu nggak ada di sana.

Segera setengah lari kami  ke rumah kontrakan yang bersih meski di gang sempit. Ibu Aisyah di teras membelakangi kami. Dia sibuk mencari cari sandal.
Ya Rabb alhamdulillah. Seolah Engkau menahan dia 😢😢

Meski kesehariannya memulung, tumitnya halus, bersih putih. Kontras dengan jilbab panjang warna jingga tua. Begitu berbalik wajah cantiknya tersenyum. Wajah khas Amerika Latin yang sering mengisi pentas pentas Miss Universe.
Seolah baru kemarin kami berpisah, seolah sudah bertemu sebelum turun ke rahim ibu kami, de javu!
Rasanya saya pernah ada di rangkaian kisah ini sejak di ujung gang dekat warung tadi!

Berulang ulang kata maafnya. Ingin lebih lama lagi bersama kami sebenarnya.

"Doakan saya,Bu. Hari ini saya mau ke Kantor Imigrasi dan Rumah Sakit. Semoga saya cepat dapat status WNI. Saya cinta dan mau tinggal di negeri ini saja demi ibadah dan anak.  Saya tidak  hiraukan permintaan keluarga besar  untuk pulang ambil warisan asal pindah ke agama lama!"

Dengan penuh syukur dia terima titipan donasi teman teman. Matanya ke arah tetangga yang melepas dengan lega bahagia krn ahirnya datang bantuan ambulans dari BAZIS.

"Bu, maaf saya bawa pizzanya ya"
Ia sederhana, adab membentuknya menjadi lux , cemerlang.

Alhamdulillah meski semua dilakukan dengan teegesa gesa namun sempat menulis nomor rekening sementara dan nomor WA org yg ia percaya. Status WNA belum memungkinkan buka rekening Bank.

"Jangan kirim ke rekening atas nama ZAINAL ABIDIN ya bu. Dia penipu!"Pesannya tegas.

Sambil jalan kami saling peluk, menguatkan dan saling mengingatkan. Ah, islam itu indah banget ya. Allah maha indah, menanamkan keindahanNya di tiap hati. Menggugurkan air mata sahabat saya yang sangat sensitif.

"Ibu..Hapus air mata ibu! Kita kuat, sandaran kita kuat, Allah kita maha kuat!"

"Saya haru melihat ketegaran ibu" Kata teman saya lirih.

Bu Aisyah pamit sambil peluk seorang ibu,   tetangga 1 dinding. Pizza telah masuk ambulans begitu juga sajadah bersih dan tasbih teman akrabnya.

Perjalanan Pizza cukup panjang ya. Dari Cimanggis harusnya ke Cibubur dimakan oleh pasien A. Eh, malah jadi rejeki pasien B di kota lain.

Semoga Allah mudahkan urusan beliau dan melapangkan rizkiNya.
Luaskan dada saja. Penulis skenario tahu ke mana arah layar  membawa Ibu Aisyah. Toh perjalanan kita pun bukan tak mungkin akan mencengangkan.

Jika teman mau bantu, bisa lihat IG saya ya..














Minggu, 13 Januari 2019

B I R U


Di bentang biru tanpa angin
Riak buih hanya menatap
Perahu nelayan bersandar lesu
bambu penjemur ikan pun serupa

Kemarin
satu sapuan ombak menasehati
Remang romantis , suka ria, mendadak pecah
berganti  jerit pedih , kehilangan , dan sirine.


Villa-villa etnik artistik merata dengan rumput
Bilik kontainer disain arsitektur menawan
sekejap jadi sampah

Padamu,biru
yang menyatu dengan langit
Sewarna dengan jiwa
Masih  kueja misteri 3 permintaanmu...

Labuan, Tanjung Lesung
Januari 2019







Hasil Rapat Aksos Kariska





Assalamu'alaikum sahabat-sahabat Kariskaku tersayang.
Mohon maaf, saya terpaksa menyalin hasil rapat kita di halaman ini. Penyebaran informasi akan mudah dan cepat dengan dengan menshare link.

Notulen Rapat Aksi Sosial KARISKA


Hari : Selasa
Tanggal : 1 Januari 2019
Tempat : Resto Cwie Mie Jl.Simatupang Jakarta Selatan


Topik Raapat :

- Sumbangan 500 buku Iqro ke beberapa Pesantren
- Wakaf Quran untuk korban Bencana
- Persiapan Pelaksanaan Paket A,B,C untuk santri Bantar Gebang.
- Rencana memindahkan Toilet Mt.At Taubah Bantar Gebang.

Jumlah Peserta: 14 orang

- Cheppy
- Eman
- Abu
- Ibam
- Herry
- Dewi
- Mirna
- Hiromii
- Dara
- Dhany
- Anna
- Nining
- Indry
- Otty





Susunan Acara :

1. Pembukaan dengan doa
2. Membahas Sumbangan Iqro, Wakaf Quran, Bantuan logistik
    bencana alam Banten, Paket A,B,C santri Bantar Gebang, Pemindahan toilet Majelis Ta'lim Bantar Gebang

3. Makan Siang
4. Sholat berjamaah
5. Merangkum materi rapat
6. Penutup dengan doa



Inti Rapat

1. Sumbangan Buku Iqro

Koordinator :  Dewi,Dhany,Otty.

Sumbangan paket Iqro 500 exp akan dikirim ke Pesantren di Padang Sidempuan.
Tiap 1 paket berisi 3 buku Iqro metode Asy-Sayfii  (72 halaman, ukuran 19,5x25 cm) yang mengajarkan cara praktis baca Al-Quran dan Ilmu Tajwid praktis.

Rencana anggaran 8 juta Rupiah namun alhmdulillah yang terkumpul 13. 332.000.
Harga 1 paket buku 45.000,- Sisa 5000 untuk stiker dan ongkir.

Saldo 5 juta sekian untuk pembelian quran.





2. Wakaf Quran untuk Korban Bencana

Dibutuhkan  Rp 11.000.000,-  guna membeli  200 pcs Quran terjemahan Al Ikhlas, Penerbit: Samad. Ukuran 14.5 x 21 cm , hard cover , berat 700 gram.

Quran diberikan kepada para korban tsunami Banten. Pemda setempat berencana mengaktifkan kembali majelis2 ta'lim ibu-ibu mau pun para bapak di tempat tinggal sementara. Insya Allah mampu mengatasi dampak psikologis paska bencana.
Informasi datang dari Relawan dan Koramil setempat.

Pengiriman sumbangan Sembako dan non sembako dilakukan parsial (2 termin)
Termin pertama berangkat insya Allah berangkat tanggal 12 atau 13 Januari 2019. Sedangkan termin selanjutnya tanggal 19 atau 20 Januari.

Koordinator : Bang Cheppy
Mediator   : Mirna Bassalamah bekerja sama dengan Bapak Andre dari Kantor Perikanan Banten.

Kirim lebih dulu bantuan lauk awet untuk relawan. Alasannya, relawan kerap mendahulukan korban, padahal mereka harus jaga stamina. Tenaga mereka dibutuhkan setiap saat.

Bantuan Sembako, peralatan sekolah, seragam dan pakaian dalam untuk warga daerah Labuan, berpenduduk nelayan.

3.  Persiapan Pelaksanaan Paket A,B dan C santri Bantar Gebang Bekasi

Koordinator : Bang Fuddin
Peserta  : 10 orang
Penanggung Jawab : Dara
Tempat Ujian : Pulau Seribu.
Pelaksanaan : Bulan Mei 2019  insya Allah

Kebutuhannya:

-  1 unit Computer LCD untuk latihan mengerjakan soal
-  Mengundang beberapa orang instruktur
-  Menyiapkan ruang dan sarana belajar.


4.  Rencana Pindahkan Toilet Wanita Majelis At Taubah Bantar Gebang.

Koordinator : Hiromii
Dana yang dibutuhkan 8 juta. Sudah terkumpul 6 juta.


Kesimpulan Rapat.

-  Diharap semua anggota alumni Kariska menyebarkan informasi ini.
-  Untuk program paket ABC, mohon perhatikan kisi-kisi mata pelajaran siswa
-  Menyiapkan kendaraan pembawa bantuan logistik
-  Menghubungi Pak Andre di kantor Perikanan untuk mengetahui apa saja yang warga butuhkan dan proses penyerahannya.
-  Penyerahan dilaksanakan secara simbolik saja


Apabila ada pertanyaan atau saran susulan bisa disampaikan lewat grup WA.


































Rabu, 31 Oktober 2018

Boston Brownie Buat Bu Guru


Sudah lama saya niat berkunjung ke rumah guru ngaji.
Guru sederhana,  sabar, Qanaah (Selalu merasa cukup). Rajin mengajar ngaji anak anak tetangganya.

Masih ingat betul bagaimana tawanya  waktu saya utarakan keinginan untuk belajar , dia anggap saya bercanda. Yakin betul saya sudah kuasai hukum bacaan dan bunyi huruf.

"Betul memang saya pernah menamatkan kelas  tahsin, tapi saya tetap butuh guru yang mau teliti mendengar dan membetulkan makhraj bacaan saya" Saya berusaha meyakinkan.
Barulah beliau bersedia serta minta  saya menganggapnya adik, bukan ustazah.

Pertemuan 3x seminggu. Setelah sholat isya saya segera siapkan makan malam buat Pak Suami . Setelah itu susuri jalan kecil lewati 2 area pemakaman.
Beberapa kali ia membuat saya haru, dalam remang kelihatan  ia  menunggu di tangga pintu masuk ruang majelis sebelah masjid. Padahal saya sudah berusaha datang lebih awal.

Kalau membenarkan kesalahan  sangat hati hati seperti takut menyinggung perasaan saya. Perbincangan selalu ada setelah quran ditutup. Kadang berbagi resep masakan, berbagi pengalaman, hingga konsultasi mengenai  keluarga dan lain lain *  Makin berasa tuanya, saya 😀

Target 12x pertemuan ahirnya sampai di penghujung. Kami ketemu terahir beberapa bulan lalu saat besuk suaminya yang baru mengalamai kecelakaan motor. Niat bersilaturrahmi  lagi selalu batal.Undur lagi ... undur lagi!
Penyebabnya karna keinginan saya membawa buah tangan yang spesial. Cake Lemon kebisaan saya bertekstur lembut dan tidak bikin haus alias seret. Tapi saya belum sempat juga belanja bahan.

Alhamdulillah. Kebetulan  saya dapat kiriman produk baru dari Bika Bogor Talubi. Namanya Boston Brownie. Untuk kali ke 2 Talubi memberi nama kota di Amerika setelah New York Style.
Brownies Kukus berbahan dasar Ketan Hitam pada lapisan dasar  ini punya 2 rasa yaitu Original  ( Ungu- Hitam), dan rasa pandan (Hijau-Hitam).






Kotak pertama saya buka Brownies Kukus Ketan Hitam Talas Original. Pak Suami ingin cicip sebelum difoto. Iringannya teh hangat. Sementara saya menikmati rasa pandan yang harumnya memikat dengan minuman jeruk segar sambil ambil gambar.

Tekstur kue lebih lembut dari produk sebelumnya. Manis sedang cocok untuk semua lidah.
Yang bikin ketagihan taburan kacangnya itu lho! Crunchy gurih berkaramel. Krim yang mendasarinya selain enak juga membuat taburan kacang tetap di tempatnya alias tidak  rontok.

Brownies yang sudah terdaftar kehalalannya di MUI ini di jual dengan harga 38.000 rupiah dengan berat 550 gram. 4 Hari bisa tahan di suhu ruang. Jadi dari harga dan ketahanannya benar-benar pas buat buah tangan. Tanggal expirednya pun tidak perlu repot mencari. tertulis besar di bagian belakang.

Outlatenya mudah didapat. Dipinggir jalan utama dengan parikiran luas.

- Jl. Padjadjaran 20 M, Bogor
- Jl. Sholeh Iskandar 18B, Bogor
- Jl. Surya Kencana no 278, Bogor
- Jl. Raya Gadog sebelah Vimalla Hills-Puncak Bogor

Info jelasnya bisa lihat
Line: @bikabogor
Instagram: @bikabogor
Whatsapp: +628884829626


Selesai sudah hutang niat saya. Bisa bersilaturrahmi sesuai keinginan.
Keluarga juga dapat menikmati. Alhamdulillah, terimakasih Talubi-Bogor :)

















Kamis, 25 Oktober 2018

KARISKA Di Antara Bukit Sampah



Dok. /megapolitan.kompas.com


7 oktober pagi sekali, motor yang membawa saya sudah membelah aroma sampah buangan warga Jakarta  6500 ton per hari
Entah asap sisa bakaran atau kabut pagi  yang selimuti bukit-bukti sampah ini ? Kelihatan sama warna. Anggap saja kabut membawa embun, toh dingin masih terasa meski nggak menggigit.


Anak-anak tukang pulung sudah duduk berjejer di depan musholla.
Batul kan? Anak anak selalu hadir sebelum waktunya kalau ada acara lomba.
Kerudung warna pink membalut wajah-wajah halus jernih.  Dengan tangan dingin serta senyum malu mereka cium tangan. Sebetulnya nggak tega kalau ada yang cium tangan, tapi nggak apa apalah kalau dengan itu mereka happy dan saya tambah sungguh sungguh mendoakan .
Setelah itu mereka menyebar cari tempat masing-masing sambil bercanda tertawa.


Lihat senyum mereka jadi ingat lirik lagu favorit saya...

Bocah bocah bercanda dengan lugu
Wajah tanpa dosa bagai salju
Coba dengar suaranya, bening tak penuh debu
Kata hati jujur lugu tanpa punggu tipu

Matanya bening, bibir sebersih mega
Damai damai dunia ini, hidup seperti mereka





Puncak Muharram sudah berlalu, tapi gaungnya masih mampu mengumpulkan kami Kariska di sini . Insya Allah 2x  pertemuan dengan warga  Sumur Batu-Tempat Pembuangan Sampah Bantar Gebang.
Pertemuan pertama ini mengajak anak anak usia SD lomba mewarnai, hafalan surah pendek dan doa sehari hari. Sedang para ibu dapat ilmu Craft mengolah limbah kain (Majun).


Waktu berjalan cepat. Pembagian tugas dan arahan kepada para juri selesai sebelum rombongan panitia lain tiba.
Terimakasih buat yang sumbang makanan sarapan. Risoles mayo yang bertumpuk jadi nggak ragu nambah. Lontong gurih isi oncom dan rebusan ubi Cilembu yang harum. Jazakumullah khairaan.

Sambil ditemani alunan marawis santri At Taubah kami duduk di depan ruang ta'lim yang dulunya kumuh.  Kamar mandi nggak memenuhi sarat kesehatan, sisa ruang berlantai  tanah beri kesan sempit.

Kini ruang ta'lim berkaca besar dengan frame  alumunium.  Ruang berlantai tanah  jadi aula terang terbuka, bersih, setelah terpasang keramik. Atap nggak bocor lagi bahkan  tempiasan hujan pun nggak ada kalau jamaah melimpah.

Jihad punya banyak bentuk. Ada yang dengan harta, tenaga, waktu.
Bersyukur Kariska punya banyak sahabat siap dana. Saya tersentuh  lihat daftar donasi yang masuk disambut tangan tangan sahabat yang sudah siap mengeksekusi sesuai keahliannya masing-masing.
Ada sahabat yang biasanya mengurusi proyek-proyek besar  dari tower  gagah di pusat kota, namun dengan ihlas mau bersa'i antara toko bahan bangunan ke lokasi pengecoran, menyatu dengan para santri . Masya Allah.

Sahabat lain yang biasa sibuk kasih kuliah Ekonomi Islam, berkedudukan penting di Bank Syariah, mau mengelola aliran dana hingga  mempertanggung jawabkannya dengan detil.
Belum lagi peran di balik layar yang namanya enggan disebut. Padahal organisasi yang dipimpinnya sering nampak di media saat bencana alam atau konflik luar negeri. Dan masih ada lagi.

Kita tahu banyak proyek amal yang besar-besar di tempat lain. Namun ukuran bukan utama, apa yang di depan mata itulah tawaran Allah. Kecil ukuran mata biarlah, asal besar di mata Allah.
Semoga semua usaha ini jadi washilah di yaumil hisab. Amiin ya Rabb.


Acara formilnya singkat saja. Anna selaku ketua Panitia membuka disusul pembacaan  kalamullah oleh seorang santri.
Sambutan awal disampaikan oleh Ustad Adul Aziz.  Ustad sabar pemersatu anak anak  pemulung. Rumah kecil dan penghasilan ngojeknya direlakan asal mereka mau mengaji , jauhi maksiat di jalan dan menghambur waktu.
 Mereka  punya semangat belajar sekarang. Penampilan bikin adem dengan baju muslim bersih duduk rapih di belakang pak Ustad. Diantaranya sudah bisa jadi juri tahfiz, sebagian lagi tengah bersiap mengikuti Paket C Gratis atas kelapangan dan kemudahan dari Bang Fuddin yang alhamdulillah berstatus sebagai Kasi Dikmen dan Paud Dikmas, Sudin Pendidikan Kepulauan Seribu.




Pada sambutan ke dua, Bang Cheppy ( Muhammad Syahrial) berpesan agar santri tetap semangat. Ingat  akan janji Allah  untuk hambaNya  yang ihlas berjihad ilmu dan harta di jalan Allah.
Selain anggota Kariska beliau juga penasehat yayasan Attaubah ini. Bermula dari tugasnya menyebar luaskan infaq karyawan Gobel tempatnya bekerja. Barakallah.
Pahalanya besar ya, sampe dapet balasan bisa mempersunting putri pak Boss. :)

Anak anak peserta lomba mewarnai sudah resah ingin cepat mulai. Tapi crayon masih dalam perjalanan. Untuk mengisi waktu kosong saya dan Hiromii diminta kasih pesan. Haha, nggak siap! Kok kayak Tahu Bulat Digoreng dadakan, ya?

 Yang kami sampaikan intinya...
 Apa pun yg kita lakukan hendaknya selalu dalam rangka syukur.
Saat melihat gambar tumbuhan ingat akan kekuasaan Allah.
Dalam kecantikan warna  ingatlah bahwa Allah maha indah dan menyukai keindahan.
Bisa pilih warna artinya indera penglihatan kita sehat. Jemari lincah bergerak tanda sayang Allah dengan mengizinkan otak mengatur saraf halus hingga kita bahagia melakukan.
Dapat berkumpul pun atas kemurahan Allah. DigerakkanNya hati para donatur, di mudahkan langkah penyelenggara. dan lain-lain.
Meski di antara bukit2 sampah hati harus syukur, bukankah di belahan pulau lain saudara-saudara kita tengah bersedih kehilangan keluarga sementara perut kosong berhari-hari?


Masih ada sisa waktu. Beruntung ada Nadia puteri bungsu Bang Fuddin, mahasiswi keguruan jurusan PAUD. Cocok betul memimpin acara ceria.
Terimakasih Nadia, sudah sedia jadi "Panitia Cabutan". Semua gembira lihat permainan seru anak-anak. Saling mencari, kejar, dan memeluk kawan. Nggak terasa di parkiran berdatangan panitia lain.

Pukul 9 ibu ibu mulai belajar bikin keset. Karna Mbak Dorry batal hadir, saya jadi motivator "Cabutan". Ibu-ibunya enak sih, komunikatif banget jadi saya santai saja menyampaikan. Intinya sama dengan yang  disampaikan ke ibu-ibu dhuafa Klender sebelumnya.

Membuat sesuatu karya berdaya jual bukan hanya menambah uang belanja, tapi mengajarkan kemandirian, dan kreasi buat anak. Waktu jadi berkwalitas, hidup lebih fokus, dan terhindar dari ghibah.




Karna waktu pendek ibu ibu cukup puas belajar bikin Cempal ( Pengangkat Panci) dulu.
Saya, adik saya Dhany dan Vina murid di Klender yang sekarang sudah lihai sama-sama  bahagia lihat antusias mereka. Anak anak kecilnya sampai ikut bantu dan menyemangati.

"Bu,bu, cepetan doong! Yang lain sudah hampir jadi" Tangan mungilnya ikut pegang bahan.


Di ruang musholla anak anak sibuk memadu warna tanpa suara.
Sementara juri juri santri  serius menilai makhraj, tajwid, adab dan kelancaran hafalan. Pada sudut sudut lain masih ada peserta lomba yang menggunakan waktu tunggu dengan muroja'ah.




Para juri (Santri) cantik berembug nilai ahir



Keset jadi, lomba mewarnai juga kelar. Pembagian hadiah anak anak paling meriah. Salut deh, sama panitia yang kebagian tugas blanja blanji. Pinter dan tau betul selera anak-anak, dan ada unsur edukatifnya.
Bantal-bantal aneka rupa yang lagi nge-trend bikin suprise. Deg-degana menunggu siapa peraih juara yang bakal bawa pulang.  Tiap nama disebut, pecah suara mereka tanpa cemburu. Memancing tawa hadirin ikut seseruan. Apalagi acara dipandu Anna dan Achfa yang nggak kalah seru dengan anak anak.

Juzamma cantik yang semula diduga  hanya untuk juara hiburan ternyata  semua mendapat. Anak anak serentak tepuk tangan gembira. Apalagi ditambah goodybag cemilan.





Alhamdulillah satu satu acara usai. Bersyukur dari kejauhan lihat ibu-ibu menjinjing goodybag sembako dan hasil karya mereka.
Putra pak ustad bertubuh kecil mungil kelihatan  repot bawa 2 hadiah lomba dan 1 tas bingkisan.

Nggak ada pesta yang nggak usai, begitu kata orang. Kumandang azan menyisihkan semua kesibukan dan kepenatan. Usai sholat berjamaah dengan wajah segar, tenaga terbarukan, kami santap  bersama nasi bakar komplit nikmat  pesanan Bang Cheppy untuk selanjutnya pamit kepada keluarga pak Ustad dan para santri.
Insya Allah kembali lagi minggu depan untuk  melaksanakan janji ke dua.

Syukur dan pujian tak terhingga padaMu ya Rabb
Masih berkenan memberi waktu dan kemampuan untuk kami semua. Mohon ridhoMu.























































Senin, 01 Oktober 2018

Pentingnya Journal Harian




Ada yang menarik saat saya perkenalkan buku Journal untuk murid pengajian.

"Kenapa buku journal penting dan menghibur?
Karna bukan hanya menulis daftar rencana dan hutang janji saja. Tapi kita bisa bebas menulis keinginan dan impian. Yang hobby menggambar bisa menghiasinya dengan doodle  warna warni supaya nggak bosan mencatat  hikmah dari kejadian yang ditemui hari itu" Jelas saya.

Tahun ini saya punya buku journal harian warna ungu.  Apa adanya menulis daftar kesalahan, catat  ilmu baru, idea unik, tugas rumah yang belum dikerjakan, hingga masalah ibadah. Misalnya lajur jadwal sholat. Jika kolom bertinta merah, itu tanda sholat nggak tepat waktu atau nggak mengerjakan yg sunnat.
Selain itu mewajibkan 1 hari  mencatat ringkasan sejarah 1 ulama besar plus pendapatnya yang terkenal.

Mencurahkan pikiran dan perasaan dengan menulis bikin hormon kortisol malas mendekat, demikian kata psikolog universitas California, Lyubomirsky.
Benar, menulis planning yang tercapai, memotivasi ( Menasehati) diri,  otomatis jadi fokus pada rasa syukur . Tulisan  singkat tapi selalu memercikkan perasaan baru dan hidup jadi ramai berwarna.

Coba lihat journal harian orang-orang "Luar" sana yang lebih detil lagi mencatat.
Misalnya referensi film yang sudah ditonton, daftar makanan sehat/ harus dijauhi, tempat  yang sudah dikunjungi , daftar kegiatan bebersih rumah, dan perkembangan hasil diet.
Yang terakhir ini buat saya nggak perlu deh. Berat badan nggak jauh-jauh  dari 54- 55 terus.


Jadi begitulah.
Sonja mengungkapkan, menulis perasaan adalah salah satu cara membuat hati bahagia.
Dan saya lihat murid-murid suprise  menerima buku mungil bercover tebal. Sambil senyum senyum dan takut tulisannya terlihat, mereka urai impian, cita-cita  hingga makanan yang nggak disuka.

Waktu temannya menulis kejadian yang nggak menyenangkan di sekolah, Varrel diam nggak mencatat.

"Nggak apa Varel, tulis saja! Siapa tau nanti hati Varrel jadi lega?" 

"Aku nggak ah, Bu! Soalnya setiap hari aku udah siapin maaf untuk siapa saja"

Jawaban manis itu jadi catatan hati saya . Indeed!


















Minggu, 23 September 2018

Kata Bapak Di Suatu Sore





Pasti tengggelam di samudera waktu
Walau pun umurku seribu tahun, tiada arti.

Apa arti seribu tahun?
Umur dunia siapa yang tahu?
Umur alam siapa yang tahu?
Kita pasti tenggelam karna seribu tak bermakna dalam masalah umur alam

Pasti tenggelam di samudera waktu

Kupandang semesta alam
Tujuh lapis langit dengan rahasianya
Kalau ditulis seluruh laut tinta dunia
Tak bisa jadi tinta untuk menulisnya
Aku adalah abunya semesta alam

Tetapi kusadar, mensyukuri diriku
Walau laksana debunya alam
Aku ada dalam jalan pencipta alam

Diri dilihat dengan kejadian ciptaan Allah
Tidak ada apa apanya

Seumpama ilmu
Allah memberi hanya sedikit
Tapi Allah memberi kalimah Laa ilaha ilallah

Dengan ilmu sedikit, banyak orang bertitel
Ada yang punya puluhan predikat
Tapi hakikatnya hanya...
Laa ilaha ilallah.

Dengan Subhanallah Walhamdulillah
Walaa ilaaha ilallah
Pahalanya memenuhi langit dan bumi

Aku...
Walau pun debu
Tapi dicipta tuk menghamba
Aku rahasia Allah
Aku Bahagia

Kamis, 20 September 2018

Ujung Kehidupan



Cukup mengaduk aduk perasaan  menyaksikan beberapa orang yang saya kenal dekat pergi satu persatu memenuhi panggilan Rabb.
Kebaikan mereka masih hangat , kenangan masih bermain,  lalu satu lagi menyusul.
Tante yang saya kagumi wafat di hari jumat , hari mulia dambaan banyak orang karna pertanda baik. Pelayat memenuhi masjid ingin mensholati. Doa doa ihlas melangit di pemakaman

Hadiah layak buat tante lembut, sabar, berani, dan disiplinnya jadi panutan. Tahun 80-an mendapat predikat ibu teladan dari Bapak Soeharto mantan presiden RI.
Pensiunan kepala sekolah SMP Negeri Teladan kota Depok ini 20 tahun membesarkan 9 anak sendirian sejak suami wafat. Terkenal di kalangan kerabat sebagai ibu yang pandai menjaga silaturrahmi. Di usia senja nggak pernah merasa repot membawa semua anak, cucu, cicit keliling ke rumah saudara-saudara di hari raya.

Saya pernah merasa diri teramat spesial. Waktu itu hari wisuda,  beliau datang mengucapkan selamat dan memberi bingkisan bahan baju motif bunga warna kesayangan. Kado semata wayang di moment penting nggak akan pernah terlupa.

Pertemuan terahir sebelum ramadhan, dalam keadaan rapih segar habis mandi tante menyiapkan makanan siang. Bentuk sedekahnya yang nggak pernah ditinggal. Tamu keluar dari rumah itu harus dalam keadaan kenyang! Siapa yang pernah menyangka bahwa itu pamit saya terahir berbekal nasehat yang membekas.

"Jangan pernah berprasangka buruk pada anak!"

Begitu jawabnya saat saya tanya apa resepnya mendidik anak hingga semua berilmu dan berahlak baik?

Ya Rabb...
Saya bersaksi atas semua kebaikan dan nasehatnya. Jadikan semua pengantar ke tempat mulia di sisiMu dan sanggupkan diri ini melaksanakan  uswatun hasanahnya.

Ah, kalau sudah begini jadi malas melakukan sesuatu yang keduniawian. Kembali saya buka buka  postingan blog. Apa harus saya tutup? Apa bisa jadi pemberat timbangan?

Macam macam keadaan ujung hidup seseorang nampak jelas. Setiap melihat deretan nisan selalu timbul kata, hidup kayak gini aja?? Kemana perginya keringat dan seabreg gelar?
Rugi berat bagi yang menyia-nyiakan. Tak termaafkan bila nafas gratis ini nggak bernilai.
Dikira hidup akan lama padahal setiap helaan nafas artinya mengurangi jatah nafas.
Mau menahan nafas supaya panjang jatah? Yang didapat malah sebaliknya.
Senang waktu perut kenyang dengan menu sedap, padahal hanya membuat kaki kuat menuju "Tempat Pertemuan" yang dijanjikan

Nisan boleh sama, atau sama juga status soasialnya, tapi berbeda saat berbangkit.
Iman fluktuatif, debet kredit selalu terjadi, yang penting saldo akhir besar kan?


Jika manusia bosan dan merasa direcoki dengan banyak permintaan.Untungnya  Allah kita malah makin cinta jika dirongrong, diserahi segala urusan, dan dimintai pertolongan.
Semoga Allah membimbing hati agar mampu menomor satukanNya di atas segala, ahir hidup dengan husnul khatimah, dijauhkan dari sifat buruk dan didekatkan dengan orang orang shaleh.
Amiin ya Rabb..
















Jumat, 13 Juli 2018

Terus Berdoa



Apa yang dirasa?
Bila seseorang menggenggam indahnya susunan doa, harap, dan mimpi kita?


Dia sahabat muda kala dulu.
Berlesung pipit, ceria sedikit tomboy.
Suaranya riuh di lapangan basket.

Kadang asik bercanda di sela pilar taman masjid meski berpeluh.
Sambil sesekali memantulkan bola.

Ramadhan lalu..
Tubuhnya terbujur di pintu multazam
Tertutup kain hitam berkaligrafi putih.
Usai bimbing umroh ia tertidur panjang dalam sholat magribnya yang terakhir.

Ku susun terus doa tuaku











Minggu, 08 Juli 2018

Sambal Enak Menurutmu Seperti Apa?



Pelancong asing yang datang seringkali takjub dengan kebiasaan kita.
Salah satunya menu sambal yang kerap tampil di tiap hidangan.
Hitung punya hitung, kita punya 322 lho!
Jangankan yang enak maknyus, sambal  biasa-biasa saja bikin bule Australia rela antri di salah satu warung di Bali buat bawa pulang.

Sambal yang kamu suka seperti apa?
Sambal favorite saya seperti ini,nih! Pedasnya bikin penasaran, warna merah terang, tekstur agak kasar, nggak kering, manis dan rasa terasinya sedang. Apalagi kalau rada rada berminyak sampai cipratannya nempel di pinggir piring  putih sela sela nasi. Wuihh!
Meski bukan penggila sambal, tapi bagi saya sambal itu bukan sekedar  pelengkap melainkan  pembangkit selera  makan.

Mbak Almazia mengirimi saya sambal UTI . Terimakasih, Mbak cantik...
Kemasan berlabel tak biasa ini langsung terlihat teksturnya.  Persis sambal rumahan dengan sedikit biji cabe. Kalau nggak ingat ini harus saya ambil gambarnya dulu, pasti sudah saya icip. Minyaknya itu lho! Haha.. Merona merah. Asik kali ya, kalau disiram ke dendeng padang.



Si UTI mudah diingat namanya. Teman bilang  nama itu bagus untuk produk usaha saya. Amiiin ya Rabb.
Taplak husus saya gelar di halaman rumput sisi kiri rumah. Biar terkesan lagi piknik. Karna sambal UTI praktis dibawa ke mana mana selain buat oleh-oleh.

Bayangkan udara dingin puncak, rumput hijau segar, udara bersih, trus kita duduk rame rame di bawah pohon nikmati makan siang menu Timbel.
Lalapan hijau cerah ketemu si merah UTI!

Motret ini jelang siang, cukup makan waktu.
Begitu kelar langsung santap obyek foto. Terus terang, nasi bagian atas agak garing ketimpa  panas tadi :))  Untuuung si Uti menghibur.

Sekian laporan dari dunia persambelan.