Tuesday, 3 July 2012

BERAT DI ONGKOS


butir-butir air mataku mengalir bagaikan air yang mengalir dari hilir
kumenangis sendirian didalam kamar karena yang lain sedang pergi kepasar
kuingin berteriak keras biar orang seluruh dunia pada mendengar
tapi sayang suaraku terbatas terdengar sampai kelurahan paling pol sekecamatan

engkau kejam engkau sadis kekasihku yang egoistis tapi manis seperti pala manis
kau putuskan tali cintaku yang tebal seperti tambang kapal
hatiku kini hancur luruh bagaikan cermin yang jatuh dari helikopter
tak mungkin bersemi lagi

kini tiada lagi cinta yang tinggal cuma celana kolor
hidup trasa hampa udara napasku sesak seperti menghirup asap tabunan
kan kubawa luka hatiku berlari marathon lewat jagorawi
smoga aku dapat melupakan wajahmu yang bulat seperti bangkuang bogor
o..ho...ho kekasih....o..ho...ho....ho...

kucoba mencari kekasih yang baru melalui pos jodoh di koran-koran
kiranya cintaku mendapat sambutan hangat dari seorang perempuan turunan pakistan
data-datanya lengkap umur 49, anak delapan, kontrakan rumah tinggal sebulan
aku pikir oke dah daripada mati gak ada kuburannya



Tiap hari aku repot ngerawatin anak-anaknya yang bejibun
Pagi kerja dikantor pulangnya mandiin anaknya yang kecil yang gede perawan dilarang
apalagi aku harus membeli tempat tidur tingkat sebanyak empat buah
karna tiap orang tidur berduaan
sedang aku tidur ditikar saja berdua istriku
o..ho...ho pegel smua....o..ho...ho....ho...

kirakira perkawinan berjalan empat bulan setengah lebih empat hari
aku ajak istriku jalan-jalan kepasar ikan beli ikan asin tiga ons
tiba-tiba dia lari menemui seorang laki-laki yang katanya suaminya yang lama
tinggal aku bengong sendirian seperti kambing congek dilapangan


No comments:

Post a Comment