Saturday, 25 August 2012

KAMPUS JAYABAYA PUNYA CERITA




Setiap lewat kampus lama Jayabaya,selalu saja fikiran terlempar ke kenangan puluhan tahun silam.
Pintu masuk masih sama seperti dulu. Masjid   masih setia menyambut kedatangan mahasiswa setiap pagi, walau pun mahasiswa kala itu kebanyakan hanya akrab dengan terasnya saja, dari pada masuk dan taro jidat di karpet. Mungkin tanggung ya, kan pulang kuliah masih sempet solat dzuhur di rumah! *nge-less.

Duduk di teras masjid seperti duduk di sisi catwalk.
Bisa menikmati berbagai macam penampilan. Mahasiswi cantik dan modis bisa dinikmati dari ujung jalan sampai menghilang di samping masjid. Kalau rejeki kaum adam lagi bagus, bisa liat yang bajunya rada menerawang tuh! :)

Style baju cowok simple saja, kemeja motif  bunga Hawaii  berwarna nge-jreng,  dipadu dengan celana Baggy jeans.Sementara yang cewek gaya bajunya seperti  artis penyanyi  ANEKA RIA SAFARI -TVRI. Blouse /Blezer berpasangan dengan rok span atau celana jeans, sementara sepatunya ceper.

Memilih dan memadu warnanya pinter-pinter!  Sampe-sampe warna tas dengan giwang yang mirip "permen mentos" itu berwarna sama. 
Pokoknya kalau mereka berdiri dekat bakaran sampah yang berasap, nah! Persis acaranya Eddy Sud itu.
Tapi nggak sedikit juga yang berpakaian praktis, cuma jeans + T.shirt polos.

Jalan menuju kelas fak.Hukum biasanya ketemu pegawai sekretariat yang datang lebih awal. Ada Mbak Tina yang sedikit senyum, Mbak Sri yang kayaknya sering hamil,  tapi tetep rajin nge-tik skripsi pesanan mahasiswa yang "Rajin" seperti saya .  *Maaf ya Mbaak... Sekarang baru nyadar kalo itu namanya "cari tambahan" 

O ya, ada juga pegawai cowok yang kerja sambil kuliah sore disitu. 
Umumnya cewek fakultas hukum kenal,  biasa dipanggil Mas Rudi. Dia bikin mahasiswi semangat untuk antri di loket gang sempit.
Kadang suka juga sih, ikut-ikutan gangguin, *Kalau keroyokan!
Tapi ada saat dimana kegantengan Mas Rudi nggak pengaruh sama sekali,  yaitu saat menerima kartu kuning KHS (Kartu Hasil Study),  ada huruf E dilingkari.
Ukh!! Wajah Rudi berganti dengan wajah Pak Thawab. Kudu,harus ,mesti ,ketemu dia lagi 1 semester  :(
******

Paling seneng jam 7 pagi saat tunggu dosen.  Berdiri di teras kelas yang saling berhadapan dengan  Fak. Ekonomi. Fhuii ! bebas memandang dan memilih.
Alhamdulillah, Kayaknya pak Rektor faham sekali akan kebutuhan mata  Mahasiswanya. Gedung itu dibangun posisinya passs buat Ngeceng . Sinar matahari pagi dan udara bersih bikin jelas pemandangan.
Kalau didepan mesjid tadi seperti nonton pragawati, disini seperti ajang pemilihan Jodoh.
Sayang, 5 tahun g ada yang nyantel tuh ! Pengennya sih, dapetin cowok kayak Mas Boy  tokoh film Catatan si Boy yang sedang top kala itu.

Karna banyak artis yang sama-sama nimba ilmu disitu, keliatan deh, ada Dinna Mariana, Shierly Malinton, Astri Ivo, Kembar group, dan banyak lagi wajah-wajah yang sering tampil di majalah atau Tv.

Tahun itu bisa dibilang nggak mudah masuk Jayabaya.Angkatan saya harus menempuh test tulis di Stadion Utama Senayan persis tes masuk Perguruan tinggi Negeri.
 Jayabaya dan Trisakti paling banyak diminati karna kwalitas dosen-dosen dan guru besarnya. Seperti  Prof.Mr.Soenaryo mantan Mentri Luar Negeri pertama RI, dosen-dosen senior  UI, dan pengacara-pengacara yang namanya sudah dikenal masyarakat.
*******
Masa orientasi Siswa (lupa,dulu disebutnya apa, Plonco atau Mapras?) tempatnya di depan Hall Senayan. Pelantikan mahasiswa, acara kesenian, sampai wisuda, Jayabaya sanggup menyewa BALAI SIDANG (JCC )). Banggaaaa bener!

Ah, ngomong soal Mapras jadi ingat Bram Pakel, Marcel, Yadi, senior-senior yang punya banyak cara buat ngerjain anak baru.

Pagi-pagi  buta udah berangkat dari rumah, waktunya barengan dengan maling yang baru selesai tugas.
Mengenakan celana panjang putih +baju putih, berdasi kupu-kupu  warna merah, sepatu kets terbalik, rambut dikuncir banyak, dan name tag  sebesar buku tulis.
Sudah lupa apa isi tas yang terbuat dari karung terigu itu,yang paling  ingat cuma kalung berbandul ceker ayam mentah!

Saya terkesan pada kalung ,  karna  membuat ibu saya repot. 
Tugas dadakan itu memaksa kami mencarinya ke pasar malam-malam. Sialnya ayam sebanyak itu sudah terpotong  kakinya.
Untung bisa dapat! Sampai rumah  Ibu  merendamnya dalam cuka, jadi nggak tersiksa bau anyir saat senior suruh cium lalu masukkan dalam mulut.
Meranalah Pipit dan Sissy Peleh. Mereka kontan muntah ! Gimana enggak? Cekernya kotor, bau, belum padicure.

Beda lagi gaya MOS fak.Ekonomi. 
Tengah hari bolong pakek jas hujan. Kepala siswa yang botal licin diberi gambar lingkaran merah seperti obat nyamuk, lalu jadi sasaran tembakan pistol air.
Hehehe,  nggak  berani liat lama-lama, takut kena hukum.

Acara MOS diakhiri dengan malam kesenian yang keren!
Kelompok band ternama menyanyikan lagu yang lagi nge-top di hall JCC ber-AC kuat.

"....Haruskah diri ini menjerit dan berlari
Mengejar dirimu yang kian jauh melangkah..;
Atau ku harus lari dari kenyataan ini,
Mengejar cinta dan coba melupakanmu...."
 

Selain lagu tadi, Freddy Tamaela yang dapat julukan Phill Collinsnya Indonesia, mengalunkan juga lagu Favorit saya.  "Dont Let It Him Steal Your Heart Away" nya Phill Collins.
Lumayan, bisa menghilangkan penat dan dendam selama MOS.
*******
Kantin Jayabaya ada 2 waktu itu, satu di belakang membaur dengan kios-kios foto coppy. Mie Acoy terkenal enak. Dengan uang 5000 kita bisa menikmati Mie ayam dan teh botol. Kebanyakan mahasiswa Accounting yang makan di sana.

Kantin lainnya di pinggir kali depan kampus. Berseberangan dengan gedung Siemen, tempatnya strategis. Habis makan bisa langsung ke halte untuk nunggu Bis tingkat warna biru M 68 jurusan Blok M yg banyak penggemar . atau P-43 jurusan Cililitan yang biasa saya naik.

Enak juga buat tempat janjian,sambil nikmatin soto, atau mie goreng kesukaan. Mudah lihat teman yang ditunggu, karna mereka harus berdiri berjejer di jalur hijau  sebelum menyebrang.
Dari kantin itu pun mudah ke Pengadilan Negri Jakarta timur bila ada tugas Hukum Acara Perdata  dari Pak Indra Munaan SH.
******
Pernah satu pagi saya berangkat kuliah, setibanya di kampus, jalanan lengang,  suasana sepii... Mahasiswa cuma ada beberapa orang yang mukanya bingung seperti saya. Satpam-satpam  Ambon  bermuka tegang, berdiri di sekitar pagar besi.
Parkiran mobil mahasiswa yang biasanya berderet dari gedung Pertamina sampai  Pabrik Rokok Gudang Garam, tidak ada !
Parkiran motor di bawah pohon yang biasanya padat, helm dan jaket rame bergelantungan, kosong !
Warung gerobak paling depan, tempat saya biasa beli tisue, tutup!
Terlihat Panser dari kejauhan.

Ternyata,sehari sebelumnya baru saja terjadi "Peristiwa Tanjung Priok" ! Bentrok antara Massa yang dipimpin Umar Biki dengan aparat keamanan. PANGAB nya waktu itu Jend.Benny Murdhani dan PANGDAM nya Jend.Try Sutrisno. Takut juga menyaksikan suasana tegang itu. *Belum zaman SMS sih! Telepon umum pun jarang. Jadi harus terima nasib tanpa informasi.

Jayabaya tidak hanya dipimpin oleh rektor yang bertangan dingin mengharumkan nama kampus , tapi juga  berhati sosial. Beliau banyak mendanai kegiatan sosial ke daerah Sumatra ( Daerah asal beliau)
Foto-foto perjalanan masih saya simpan. Perjalanan ceria  menyenangkan dengan  dosen plus teman-teman  asli asal Sumatra  (cuma saya si Nona Ambon tersangkut  kesana).

Pembimbing kami, Bpk.Bujang SH,(Dosen Hk.Perburuhan) dan Ir.Nurhaifa Idris (Dosen Statistik). Bergaul dengan kedua dosen itu serasa se-umur, jadi perjalanan dengan KM. Kerinci itu penuh tawa.

Alm.Dr.Moeslim Taher SH, dikenal sebagai Pengelola Yayasan Pendidikan dan   Anggota Dewan Pertimbangan Agung. Mungkin itu yang  mempermudah perjalanan kami dan dapat perlakuan khusus. Nahkoda membawa kami berkeliling kapal baru mewah.  yang baru dimiliki Indonesia  pada saat itu, Fasilitas kapalnya keren dilengkapi mesin canggih di ruangan kerja Kapten .

Sebetulnya Perjalanan dengan membawa sumbangan materi dan non materi itu melelahkan karna ke 2 kota (Padang+Bukit tinggi) dan ke pelosok kampung (Lintau,Tanah Datar,Pagaruyung,Solok,Pariaman,Malinjau,Sawalunto).
Beruntung,  makanan padang di tempat asalnya itu bikin lupa segala keletihan, apalagi selalu gratiss!

Di pinggir pantai belakang rumah walikota Pariaman,  penari penari cilik menghibur kami dengan tarian daerah. Kami menikmati tarian sambil nikmati juga makan siang dari pak Walikota.

Kenangan tak terlupakan bisa bermalam di rumah panggung sederhana, berdipan besi  ala zaman Siti Nurbaya , sarung bantal putih, bersih , harum  berisi pandan dan bunga-bunga  dari taman  di depan jendela kamar. Hhmmm....
Hiburan paginya,  mandi di bilik sisi pematang sawah, menikmati dinginnya air pancuran bambu.
****
Tahun 87 saya harus berpisah dengan kampus yang menyimpan bertumpuk kenangan.
Perjalanan hidup harus berganti cerita, membuat perpisahan harus diterima walau menyesakkan.
Dimana mereka sekarang ?
GANES dan JOHN NIKITA anak Band  bersuara keren ! Sissy peleh yang laris di "pepet" senior . Dewi Unyil berbadan mungil dan selalu disayang, rombongan  doyan kamera, rombongan "Pulang Basamo", teman-teman  yang seriuuus belajarnya dan terbukti jadi orang sukses  seperti Pengacara Petrus Bella Pationna SH, dan lain-lain yang wajahnya sering muncul di media.
Ada juga sih, yang tidak  serius kuliah tapi berhasil duduk di kursi kepemerintahan dan lembaga rakyat. Hehehe... Padahal saat kuliah cuma bawa 1 buku, terselip di kantong belakang celana jeans nya, nggak ganti-ganti. Dan lebih sering konfrensi meja kantin.

Saya bersyukur, kampus lama masih berdiri dan belum berubah model.
Gedung itu mengingatkan dosen-dosen  yang telah menambah titelnya di depan nama  (Alm).

Bapak Prof . Soenaryo, Guru Besar Kampus yang masih mengajar di usianya hampir 90 tahun. Mahasiswa ikhlas menemani nya berjalan pulang sampai beliau masuk Taxi.
Ibu Stella Lawarissa SH ( Dekan Fak.Hukum)  berambut pirang , selalu bawa kipas, harum parfumnya lebih dulu sampai belum kemunculannya. Ibu Agnes yang banyak dikagumi wajah manis-nya, Bapak Thawab yang rajin bawa termos ke kelas, Pak Karim Leo yang enak diajak kompromi, Dosen bahasa belanda usia 70-an yang nyentrik! Kalau dia mengajar pasti kelas jadi penuh tawa. 
Pak Tukirin Dosen Acara Pidana yang penampilannya sangat..sangat... sederhana. Pak Firman yang berbadan besar dan sering kesulitan saat mau duduk. 
Dan terutama... Bapak rektor,yang dengan keikhlasannya memberi saya beasiswa. Semoga kebaikan beliau menjadi jembatan menuju syurga kelak.

Jayabaya is Jayabaya.Tidak hanya ilmu yang didapat disitu.
Banyak wajah dan cerita mengisi lembaran hari lalu . Bagian dari perjalanan kehidupan 

No comments:

Post a Comment