Thursday, 31 October 2013

Pecinan- Jakarta


wanderlustandwonder.com 

Saya dari dulu penasaran ! ingin masuk ke daerah Pecinan Jakarta,yang disebut Orang "China Benteng".Tapi tepatnya yang disebut Cina Benteng itu , menetap di Tangerang.
Masyarakat China  berbuyut-buyut lahir disini . Senang rasanya bisa melihat kehidupan keseharian mereka secara langsung.
Wilayah  jarang  terekspos seperti film2 Hollywood ,yang membuat penonton jadi tak memisahkan antara San Francisco dengan China Town.

Kita tau nenek moyang mereka tak sedikit membantu negara dalam perjuangan. Terbukti ada yang bangga memasang foto kakeknya dengan seragam Tentara Rakyat .
Belum lama saya tau  bahwa mereka tidak semua berkulit kuning.
Kalau generasi lawas,mungkin tak asing krn terwakili oleh bintang Film kawakan Tang Ceng Bok.
Baguslah...sinteron "Bajay Bajuri"  menyertakan Fanny Fadilla (Si Ucup), asli warga Benteng.
Maka terbukalah mata generasi muda sekarang...

Sejak tahun 1407 Tjen Tjie Lung kepala rombongan warga cina ,mengajak mendarat di Jakarta /Batavia.
Melewati sungai Cisadane yang dikenal waktu itu dengan sebutan Sungai Naga.
Kasihan ...mereka seringkali jadi  bulan-bulanan VOC ,hingga sering berpindah-pindah kesekitar P.Jawa.

Waktu berbelanja Stasionary yang terkenal murah di Petak Sembilan-dekat Glodok, isenglah kaki melangkah ke daerah itu..
Waaahhh....serasa ada di negri lain..! Mereka sibuk ! Banyak jualan makanan yang tak biasa saya lihat.
Memang tempatnya padat, kotor, sesak, tapi itulah....menurut mereka Rumah/tempat  harus begitu,bau uang namanya..!  hi hi hi ...salut yaa..!
Rumah mereka..ya toko mereka. Warung2 makanan penuh dengan orang2 yang saling kenal. Terlihat akrab.
Menikmati kopi dan lontong Bacang.

Saya membayangkan,bagaimana bila sebaliknya...? Di Negri Panda sana ada perkampungan Indonesia yang penduduknya sudah 4 atau lebih generasi berkumpul dengan aman....senangkan ?



Gambar milik : Flickr.com

Penasaran sayapun ditunjang dengan pertanyaan2,mengapa ditempat lain masih ada yg kasih kesan "Tertutup"..?
Lihat, mereka bisa tinggal di bangunan atas, dibawahnya toko yang tertutup full Rolling door, tanpa ventilasi, tanpa pintu darurat . Dari keadaannya saja bikin enggan orang untuk bertamu.
Sementara jendela ruang kamar2 mereka di lapisi teralis besi. Mirislah  hati  tiap melihat kabar kebakaran menimpa rumah mereka.Terpanggang nenek2, balita ,atau para pembantu. Akh....!

Kalau hati saya ber-corong Toa, rasanya ingin bilang,"Tidak apa-apa.,Jangan Khawatir! Membaurlah..!Buang rasa tidak aman..

Tapi ada juga sebagian yang senang membaur . Seperti tetangga kami dulu,di Kampung Pisangan Jakarta Timur, Akrab sekali kami bergaul dengan keluarga Toton (nama anaknya) . Kebersamaan membuat kami tak merasa dia punya kebudayaan ,iman,dan cara pandang yang berbeda...
Atau tetangga  di Bogor sekarang, Bu Lien yang tak segan membagi resep makanan,masakannyapun enak, ia mengolah gulai kambing untuk aqiqah anak kami.

Saya yakin  jika mereka  mau  luwes seperti keluarga Toton atau Bu Lien, insya Allah terbentuk rasa nyaman. Teralis2 itu tak perlu lagi.
Membaur saja...! jangan ada kesan menutup diri hingga sulit diraih hatinya.Sama-sama kita menutupi kekurangan.
Dengan demikian mata luar tak lagi menilai negara ini negara paling RASIS ke 5 setelah Malaysia  ,seperti yang diberitakan media MERDEKA.com kemarin ( Rabu,30 Oktober 2013 pukul: 09.03)....:(


Gambar milik: Flickr.com

No comments:

Post a Comment