Monday, 11 November 2013

Tau Pengantin





Anda ingat,kapan pertama kali  tau  Pengantin itu, apa ?

Saya lupa waktu persisnya, sepertinya saya belum sekolah waktu itu.
Malam hari saya diajak Ibu-Bapak bergabung bersama rombongan kecil.
Kami berjalan melewati gang-gang, seorang Bapak  membawa Lampu Patromaks paling depan.

Dibawah rindangnya pohon Sawo, pintu-pintu rumah penduduk sudah tertutup, temaram lampu teplok mereka nampak dari balik horden sederhana.
Tanpa listrik sepertri sekarang , malam terasa lebih cepat larut.
Ada beberapa rumah yang bersedekah dengan lampu  jalan sederhana,cuma kaleng bersumbu.

Ibu bilang,kami mau ke acara Lamaran... apa itu ?
Saya belum mengerti, hanya melihat para Orang Tua  berbicara serius.
Tak ada saudara sebaya, jadi asik sendiri makan pisang sambil  menikmati rumah yang mewah, terang benderang,nampak kontras dengan tetangg kiri kanan.
Televisi, Kipas angin,kursi putar, adalah barang termewah yang baru saya lihat.

Dikesempatan lain Ibu membawa saya lagi , katanya  mau mengunjungi Pengantin..
Apa lagi ini? Kok sampai  jauh kami berkendaraan hanya untuk melihat sesuatu?
Perjalanan yang membosankan dan bikin keringat keluar banyak, tapi  Bapak dan Ibu tetap semangat tampaknya.

Wahh...ternyata pengantin itu cantik !  dia penurut dan mau diam saat di poles wajahnya.
Dikamar harum bunga ,dekat tumpukan kado, saya lihat selop dengan bunga berkerlip, persis bunga emas yang bergoyang di kepala sang Pengantin.
Dinding kayu kamar berselaput tirai putih transparan berenda,ada lampu kecil warna-warni,mati...menyala..!
Anak-anak  kecil dan remaja ramai mengintip di pintu yang berhorden putih terlilit bunga mawar merah dan hijau-halusnya daun asparagus. Akh...langsung jatuh cinta ! tiap melihat bunga dan daun asparagus pasti ingat masa kecil..

Suasan meriah dihalaman...Banyak tamu datang berpasangan memenuhi kursi dan meja yang ditata berderet. Mereka dududuk berhadap-hadapan. Banyak macam kue warna warni  kueh di piring2 kecil .
Lampion-lampion  kertas khas China , hiasan lilitan panjang kertas krep di plafon, bikin semarak.

Dan...ternyata Pengantin tidak sendirian, dia digiring perlahan ke kursi berbalut kain putih dengan banyak lampu kecil di dinding belakang kursi. Disana pengantin pria berjas dan berdasi hitam sudah menunggu...

Hehehe...Pemandangan baru yang unik,menyenangkan!
Tapi saya  tak mau terima, waktu ibu menjelaskan,Bapak dan Ibu pun seperti itu dulunya.
Tidak....! saya hanya mau tau kalau Bapak dan Ibu satu kesatuan, bukan berawal dari tidak saling kenal..!







No comments:

Post a Comment