Wednesday, 6 November 2013

Mbak Dari Ambon



Rumah Bu De teduh...dibawah rindang pohon jambu air.
Dapur kami hanya terpisah pagar bambu ,jadi kegiatan sehari-hari kan tampak.
Beberapa kali terlihat Ibu dan Bu De lama ngobrol dengan handuk di bahu.
Hihihi... ibu2 kebanyakan begitu ya,bukan cuma mengulur waktu mandi, kadang tamu sdh sampai pintu pagar,masih saja ada buntut obrolan...:)

Kalau pulang sekolah, ibu belum masak nasi, saya tak malu minta pada Bu De.
Masih ingat jelas rasa nasi adem dan tempe goreng hangatnya . Nikmat dimakan seusai kepanasan pulang sekolah.

Menurut adat Jawa Bu De itu "Ibu angkat" saya.
Selagi bayi saya sakit-sakitan terus, maka saya harus diserahkan pada orang lain untuk diganti namanya sesuai pilihan Ibu angkat.
Di yakini cara penyerahan simbolis itu sebagai sarat kesembuhan . Dan penggantian nama, karna saya keberatan nama sampai sakit-sakitan. Bergantilah nama saya jadi Wilujeng,sedangkan adik saya diberi nama Lestari.

Rumah dan lantai Bu De sejuk,ubin kuno bentuk segi lima warna kelam, nyaman untuk berbaring. Beliau membolehkan saya bermain apa saja. Boneka dakocan dari kain, baju2 kain perca, dan komik si Luky,kepunyaan Mbak Eny kakak angkat saya. Tempat main di dekat tempat tidur Mak Eni, terbuat dari besi tua berkelambu dan berseprei putih bersih, ada lipatan selimut kain batik disisi bantal putih. Di bagian kaki tempat tidur ada sapu lidi bersih, biasadipakai  untuk mengusir nyamuk sebelum kelambu di tutup, dan membersihkan sprei dari serangga/debu sebelum tidur.

Bu De tak  suka furniture gaya baru. Lemari liswarnya masih kuno , berwarna hitam berisi cangkir2 tua. Ada pajangan khas disitu,tempat sirih tembaga  khas jawa, serba mungil,menggemaskan untuk di buka tutup.
Meja dan kursi makannyapun sederhana. Dari situ bisa melihat ke arah dapur,nampak Mbok Yem (pembantunya) sedang membungkus lontong di atas bale panjang.
Saya faham, itu bertanda esok Bu De akan naik kereta ke Kampungnya, dan kami yang akan menjaga rumahnya.

Kalau agak sore, Mbak Eny yg waktu itu sudah SMP,mangajak meronce bunga Mengkudu. Senaaaang bisa  bermain dg  anak SMP! ternyata anak kecil itu bangga ya kalau dianggap teman seumuran...:)
Kami meronce diiringi alunan langgam Jawanya Waljinah. Pa De yg sabar itu  biasa memutarnya saat beliau jaga warung . Saya mampu menyanyikan dan mengartikannya walau bukan orang Jawa.
Sesekali burung2 merpati mengelilingi kami. mereka berkeliaran tak terusik. Piaraan Pak De ini lumayan banyak.beberapa burung ada yang berpeluit merah pada kakinya. Keindahan tersendiri memandang mereka melayang lembut dengan suara siulan sesuai alur angin.
Tapi kadang suara kerukuk burung menakutkan, saat saya terjaga ditengah malam.

Anak2 selalu dapat ilmu di keseharian yg bagi orang dewasa biasa-biasa saja. Segala sesuatu amat menarik dimata mereka, hingga timbul segudang tanya. Bersyukur bila orang dewasa bisa menerangkan. Dan tu tertanam dan selalu jadi patokan.
Seperti hari itu, Mbak Lis anak tertua yg sudah SMA, memotong pohon tebu dibelakang kamar mandi.
Tiba2 tangannya terkena banyak duri tebu. Saya ngeri ! tapi dengan santai dia menggosoknya di rambut,dan...hilang !!
Mbak lis yang berkepang panjang, berhati lembut,,kalem, dan punya harum khas.Ia yang pertamakali menunjukan cara mengepang rambut,  mengajari saya mengobati luka sendiri dengan obat merah, dan makan tebu !Wooww..
Wajah dan kulit Mbak yg satu ini mirip orang Jepang. Kulit terang itu bikin bibirnya nampak merah tua waktu makan permen merah berbentuk cabe. Sesekali dia mengganggu dengan menjulurkan lidah merahnya saya hanya tertawa. Karna mau minta pasti tidak diberi. "Nanti batuk..!" Katanya.

Walau sudah berjauhan karna penggusuran rumah besar2an untuk Gudang Beras Pasar Induk -Cipinang, kami masih menjaga silaturrahmi. Adik saya pernah bermalam di  Jawa Tengah kampung halaman mereka.
Oh ya...adik saya inipun mereka beri nama "Lestari".
Sampai kini Adik2,tetangga dan saudara saya masih memanggil kami dengan sebutan Mbak.
Tak sedikit yang bilang : "Lho...orang Ambon kok di panggilnya Mbak...?
Itulah warisan dari Pakde dan Bu De.. (*Semoga Allah memberi kemuliaan dan pahala besar utk mereka)

Mengenang orang2 baik, yang menjadi catatan sejarah kehidupan,punya keindahan dan keharuan tersendiri.
Tak mudah mempertahankan silaturrahmi dalam kebaikan. Sesama saudara atau Ipar ada saja yang terputus karna salah faham kecil hingga bisu bertahun-tahun. Tapi dengan orang lain kok bisa sampai meneteskan air mata saat berjumpa...dan tersisa ketakutan tak bersua kembali saat berpisah....?
Sungguh...Allah menitipkan Rahmat/Kasih Sayang kepada hati siapa saja yang Ia kehendaki....
Jika memahaminya, maka kita tak akan kecewa, "Dia kan anu kita...kok begitu..."?

"Hidup terlalu singkat untuk pilih-pilih,terlalu singkat untuk bersempit hati,terlalu indah untuk merasa bosan,terlalu istimewa untuk di sia-siakan.."




tom-kuu.blogspot.comwww.kidnesia.com

No comments:

Post a Comment