Wednesday, 15 January 2014

Apakah Maulid Tanda Cinta...?


                            


Perayaan Maulid kemarin jadi mengingatkan saya puluhan tahun lalu.
Di kompleks perumahan tempat kami tinggal, remajanya aktif rutin merayakan.
Sebutan perayaan  bermacam-macam,ada Maulu, Mulud, bahkan diplesetkan jadi Mulutan,
maksudnya hari itu musimnya banyak makanan , masanya pesta mulut.

Warga sudah terbiasa untuk memberi sumbangan, berupa uang atau konsumsi.
Jika penduduk asli merayakannya dengan makan nasi uduk berasama-sama dalam satu tampah/nyiru,
kami hanya makan kueh campur aduk, hasil sumbangan yang beragam .
Bada Asar para remaja sudah kumpul . Yang pria mendekorasi  mimbar Musholla, yang putri memasukkan
kue2 kedalam plastik.( Remaja non muslimpun  ikut sibuk).

Bapak kami  terkadang diundang ceramah di desa pedalaman yang beda kebiasaannya.
Banyak orang ingin menunjukkan cinta pada Rasulnnya. Berduyun-duyun orang datang di area terbuka.
Tumpeng2 nasi uduk datang bukan lagi dengan baki kaleng/tampah nyiur. Tapi tumpeng berhias di beberapa mobil bak terbuka (Colt). Ceramah selesai mereka berebut makanan yang dibagi-bagi tidak lagi dengan sendok,tapi dengan sekop!
Yang aneh, mereka menunggu-nunggu Bapak  minum. Karna tak tau, santai saja beliau diam dan meminumnya perlahan,tapi baru mau meletakkan gelas, langsung banyak tangan merebut. mereka  minum bergantian.

Banyak cara orang merayakan kelahiran Rasulullah. Dalam kemeriahan mereka merasa rindu dan cinta.
Hingga lupa bahwa mencintai Rasul ditandai dengan  mengerjakan apa yang beliau suka..
Saya lupa judul dan  kata2  puisi karya Neno Warisman, intinya begini :

"Siapkah kita menerima kedatangan Rasulullah,dirumah?"
Jika dalam rumah penuh gambar yang tak beliau sukai
Atau rumah full musik tanpa gema Quran
Atau kaligrafi hanya hiasan tanpa tau dan faham  makna?

Itu semua membuat saya punya cara sendiri dalam "Memaknai Maulid Nabi"
Tak lagi dengan perayaan.












No comments:

Post a Comment