Monday, 13 January 2014

Di Ruang UGD

Putri saya menangis di ruang UGD.
Dokter yang baik seharusnya tidak mudah memvonis resiko penyakit sebelum kejadian, apalagi didepan pasien.
Dia sudah  mengecilkan hati dan meruntuhkan semangat untuk sembuh.
Saya tersinggung ,  kecewa !....Diruang lain saya memaksa dokter  untuk beri penjelasan dan meralat kata-katanya. Sebab bagaimanapun saya membesarkan hati,tetap saja anak saya lebih percaya pada keterangan dokter . Akh..! seperti inikah pelayanan rumah sakit mewah..?

Keropeng (kulit mati) diatas luka knalpot anak saya terlepas sedikit sebelum waktunya. Dokter akan ambil tindakan mengupas. Ok lah..!  tapi melihat tarifnya di meja informasi biayanya 5 s/d 7 juta diluar obat, atau dirawat 3 hari dengan bea 10 s/d 12 juta + alat 5 jt+deposit 5 jt ,itu sangat diluar dugaan...

- "Saya akan bawa pulang anak saya saja,"
- "Ya sudah, di kompres saja dirumah .." kata dokter bedah,sambil  pergi

Namun sebelum pulang ,dokter jaga menawarkan
-"Ada jalan lain Bu,  tanpa bius, tapi nanti anak ibu akan kesakitan"

Eh,Ternyata tak ada teriak atau tangis... (Kata2 dokter rupanya lebih sakit )
Dengan 1/2 jam  mengompres,kulit melunak dan mudah digunting.
Luka dalam yang belum tuntas membentuk jaringan kullit baru,terlihat dan mudah diobati.  Selesaii !

Sebelum pulang saya tanya lagi,
- " apa bisa rawat jalan saja ,.Dokter?"
- "Bisa ! asal ibu rutin datang pd jadwalnya"

( Naahh....kenapa nggak dari awal penjelasannya ...?! Pilihan akan meringankan hati keluarga pasien...)

Dalam perjalanan pulang,kami jadi membahasnya. Anak saya bilang :

" Lucu ya Ma, kok jadi seperti lagi tawar menawar di pasar. Pembeli sudah mau beranjak pergi dipanggil lagi, dibujuk dengan pilihan harga "

** Itulah...saya belum faham sampai sekarang , Rumah Sakit memang sudah berkembang  jadi industri/ lahan bisnis.Tapi hendaknya terbuka dalam memberi pilihan, agar tak ada kesan "memaksa",dan pasien tidak merasa "dibodohi".

Wallahu a'lam





No comments:

Post a Comment