Sunday, 26 January 2014

Imaginasi Ibu...

Mother by Joan A. Walker Cox


Ibu saya tak seperti Ibu lain yang  rutin  membacakan buku ceritra jelang kami tidur.
Saya ingat, kadang ibu berusaha membuat kami ngantuk dengan sedikit dongeng , tapi beliau keburu terpejam mata sebelum tamat.
Tinggal saya dan 2 adik bermain  mainan apa saja  disebelahnya.
Kasihan Ibu....beliau  letih setelah keliling, kerumah kawan atau kerabat, menawarkan pakaian dagangannya.

Pernah Ibu bercerita tentang  keluarga dokter yang memiliki 3 orang putri cantik.
Namanya sama dengan kami,cuma abjad ujung  saja yang berbeda.
Wahh....serasa kamilah tokohnya. Kami berimajinasi sementara cerita berjalan

Digambarkan bagaiaman  patuhnya 3 putri itu kepada orang tua.
Pintar,Sopan dalam sikap dan tutur kata, membuat mereka disayangi  Ibu Guru dan teman-teman .
.
Hingga suatu hari Ibu menyambung kisah, bagaimana si 3 putri itu  menolong sahabat-sahabatnya yang miskin.
Masing2 punya  jalan cerita kesengasaraan yang berbeda,   sangat mengharukan..!

Sejak  itulah, kami tak mau ibu tertidur. Cerita terlanjur berkembang seperti sinetron bersambung.
1 episodepun kami tak mau ketinggalan.
( Hihihi...lucu kalau ingat, bagaimana wajah Ibu ketika pikir2 sesaat ,berusaha mengarang cerita)

Kini... Ibu telah pergi menemui sang Khaliq yang menitipkan kami dalam rahimnya.
Imajinasi  kami tetap menyatu lalu tumbuh di bumi. Gemar menolong si miskin bukan lagi dalam cerita...

(* Hargailah Imaginasi meski dari anak balita, kelak akan menjelma jadi cita-cita, ide, atau karya besar...)


No comments:

Post a Comment