Wednesday, 19 February 2014

Dangdut Angkot

                              
                                         Foto :  nadiinadya.wordpress.com 

Tak sekali atau dua kali saya dengar lagu pilihan sopir Angkot.
Saya jadi  menyimak syairnya dan rencana cari di youtube sesampainya di rumah.

Musiknya biasa-biasa saja. Tapi  cengkok khas dan hentakannya bikin ujung kaki menepuk lantai.
Unik yaa.. bisa didendangkan dengan gembira menghentak, padahal liriknya lara menyakitkan.
Misalnya Lagu "SMS", tentang perselingkuhan suami lewat Ponsel.

Saya temui juga lagu Dang-Dut Koplo yang judulnya "Talak Tiga" tentang kekeruhan dalam rumah tangga . Kata-katanya terkesan polos... masa bodo... meringankan masalah... Gaya pasangan jaman sekarang yang senang serba instant, cepat ambil keputusan buat cerai.

Dangdut punya perjalanan panjang,dan sering kena ejek.
Musik yang awalnya berasal dari campuran Melayu (Mashabi), Zafin,India ( Elya Khadam), dan Gambus (Oma Irama), ini pada tahun 1975,di observasi sebuah Majalah TOP,hasilnya... 84%  pecinta Dangdut adalah dari kalangan "Underdog dan Slum"

Tapi ia tetap tumbuh subur,apalagi setelah banyak dinyanyikan pada moment bergengsi.
Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana Mahasiswa UI (Group Pancaran Sinar Patromaks), mengangkat derajat lagu-lagu Dangdut.

Waktu saya cerita tentang lugunya Lagu "Talak Tiga" yang diputar keras dalam Mobil Miniarta, adik saya tertawa, dan bilang itu lagu yang banyak dipesan orang saat melantai di Cafe-cafe... Wooow !!

Mau tau liriknya ?

Aduh nyeri, nyeri-nyeri bei
sakit hati disia-sia'i
tidak bisa terus bersabar
aduh ala iye keterlaluan

pergi sore pulang hampir subuh
capek aku tuk bukain pintu
batin perih nangis sendiri
aduh ala iye kabina bei

nyeri nyeri nyeri takkan bisa terobati
biar berantakan matipun tak penasaran
mumpung masih muda belum punya keturunan
kita cerai saja talak tilu sekalian

nyeri nyeri nyeri takkan bisa terobati
biar berantakan matipun tak penasaran
mumpung masih muda belum punya keturunan
kita cerai saja talak tilu sekalian

ku tak butuh lelaki buaya
yang sengaja mengobral cinta
tak berubah tak sadar-sadar
aduh ala iye kabina bei

No comments:

Post a Comment