Friday, 14 February 2014

Dari London Ke Bantar Gebang


                           www.kilburntimes.co.uk

Di tayangkan di TV NET. tapi saya tidak tau nama acaranya ,apa?
Karna nonton dipertengahan,itupun karna putri saya yang memanggil dengan seru!

****

"Waahh..! pasti asyik bisa bekerja sambil bersenang-senang dengan Tukang Sampah di Jakarta!"

Begitu kata Wilbur,tukang sampah  Kota London,saat menerima tawaran 1 acara TV swasta Inggris.
Acara itu meliput perjalanan atau pengalaman orang yang ditunjuk dengan warga asing di negara lain yang berprofesi sama.

Turun dari pesawat bagus dan melihat Jakarta,Wilbur melihat gemerlap kota tak jauh beda dengan yang sering Ia lihat.
Namun... begitu keesokan harinya Ia terperangah di Lokasi Sampah Bantar Gebang. Sampah membukit tinggi seperti Bukit berbaris, mulutrnya sampai menganga .

"Woow!!  Sungguh!  saya belum pernah melihat tempat sampah seluas ini!"

Wilbur harus tinggal 10 hari di perkampungan  Sampah. Tidur satu rumah dengan Imam salah satu Tukang Sampah yang ditunjuk.
Di Gubug kecil, yang makin kecil lagi dengan kehadirannya yang berpostur tinggi besar, Wilbur menetap bersama keluarga  Imam ,Istrinya,1 Anak Balita,dan Ibu . yang sudah renta

Pagi pertama, Wilbur magang... dengan Imam berkeliling di satu Kompleks Perumahan.
Mulai mendorong gerobak sederhana yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal tapi prihatin,sampai berteriak "Sampah! Sampah!" ditiap pintu,hampir 100 pintu!

Di London, Wilbur membawa sampah dengan Truk,tepatnya Kontainer canggih,bersih.
Penghuni rumah harus meyerahkan kantong sampah dalam bungkusan yang rapih tertutup. Salah dalam mengemas akan terekam  kamera yang telah disiapkan,setelah itu dilaporkan ke Dinas Kebersihan untuk diberi peringatan.

Perlengkapan dan Keselamatan Kerja amat diperhatikan di negeri asal Wibur. Maka tak heran dia meringis waktu lihat Imam dengan bebas masuk got membersihkan  tanpa sepatu Boat.
Atau saat Imam cari tambahan dengan memengkas pohon warga hanya berbekal golok kecil.
Turun dari pohon rambutnya dirubungi semut hitam sampai ke badan dan mata.
Wilbur panik campur sedih ,tangannya sibuk membantu menyingkirkan semut.

"Kamu tidak bisa selamanya begini! Laporkan kesulitanmu pada Pemerintah! Mereka harus peduli!"

"Tidak bisa! mereka mudah memecat saya karna masih banyak yang mau pekerjaan ini"!

Udara pagi turun diperumahan kumuh. Embun pagi belum menguap. Barisan pemulung dengan ransel keranjang sudah berbaris menyambut kedatangan truk-truk kuning. Bak terangkat menumpahkan segala isi berbau busuk.
Tanpa ada rasa takut sedikitpun,mereka  merapat nyaris tertimpa sampah dari atas.
Dimata mereka sampah adalah uang! Tak ada bau,tak ada uang!

Wilbur kelihatan serius mendengarkan waktu Imam menerangkan, disini saling tau lahan masing-masing, maka meski cepat  memilah-milih,tak akan ada keributan. Ada pengawas lahan yang dapat upeti.

"Apaaa..?? Ditempat sampah masih juga ada Korupsi?"
"Ya, tidak ada yang bisa melarang."

Sambil minum kopi dan sarapan sederhana di teras gubug, Wilbur terus bertanya

"Apa kamu punya niat untuk mancari pekerjaan lain?"
"Tidak, karna saya tak punya keahlian dibidang lain."
"Saya fikir, penghasilanmu tak akan mencukupi kebutuhanmu!"
"Ya, saya kesulitan  biaya Berobat,dan Pendidikan bila anak saya Sekolah nanti."
"Kamu seharusnya protes pada atasanmu! Minta tambahan gaji! Bagaimana nasibmu nanti?"
"Akh...bagaimana Tuhan saja..."




Malam hari mata Wilbur sulit terpejam. Dari tempat tidur yang bersebelahan dengan kamar mandi kecil itu,Ia memberi laporan pada pemirsa tentang pengalaman beberapa hari yang sudah ia dapat.
Air matanya meleleh... tak sanggup berkata banyak.

"Saya Marah! Tak bisa menerima keadaan seperti ini!
Sambil mengusap air matanya dengan sapu tangan,ia kemukakan betapa menyakitkan  "Ketimpangan Hidup",tanpa 1 orangpun yang berani bersuara.

Yang membuat saya sedih adalah disaat Istri Imam diwawancarai.

"Saya berharap anak saya dapat sekolah tinggi. Terserah Ba'im mau jadi apa,yang penting jangan kayak Bapaknya! Yang namanya uang kan harus dicari bagaimanapun caranya,kan anak harus sekolah.
Jadi istri tukang sampah bisa dibilang susah,karna penghasilan tidak mencukupi.
Tapi bisa juga dibilang senang,karna biar dia tukan sampah tapi dia mau bekerja keras untuk istri dan anaknya."
"Dia juga manusia! dia harus dihormati!dan juga...  (dia tak sanggup berkata-kata lagi, suara tersekat,airmata mengalir...)

           www.lbhf.gov.uk 

Tidak seperi acara TV negeri kita. Pada acara bertema sama sering muncul adegan yang berkesan "mamaksa" tidak natural, yang penting penonton bisa sedih.
Urutan penyajian yang monoton membuat penonton hafal dan bosan.
Tal selamanya cerita sedih harus disuguhkan dengan kesedihan dari awal hingga akhir,bukan?

Pengalaman Wibur yang tak mampu saya lupakan ini justru menampilkan juga dialog lucu, adegan mengenaskan, ada amarah, hingga sempurna 1 paket.
Ibarat Nasi Goreng yang baru terasa gurihnya, karna ada acar yang asam segar.

Penonton terhibur saat melihat Wilbur berusaha membantu masak ,  Sayur Kacang Panjang dia potong dengan rapih. Setelah itu makan sama-sama di Bale.
Kehangatan dalam kebersamaan dan kesederhanaan dirasakan syahdu dan amat berarti oleh Wilbur.

Atau  komentar Wilbur untuk pemirsa :
"Imam pekerja keras! penuh tanggung jawab! tentu saja dia mau begitu, karna anaknya imut,istrinya cantik!

Kemarahan Wilbur adalah saat 1 truk menumpahkan sampah bukan pada tempatnya,tak jauh dari halamn rumah Imam.
Menurut Imam,itu hal biasa. Tempat itu sebetulnya tempat pembuangan rutin,tapi karna ada berita TV luar mau datang,jadi dibersihkan.

Kontan Wilbur garang! dia yang bertindak karna Imam tak mau menegur .
Walau sempat "Terbengong-bengong" akhirnya si sopir sampah pelan-pelan mengemudikan mobil meninggalkan lokasi.

"Bagaimana kamu bisa mengajarkan "Keberanian" pada Anakmu? Jika kamu sendiri penakut seperti itu!"

                  
www.kilburntimes.co.uk 


Hari perpisahan terasa mengharukan...
Wilbur dan Imam saling berpelukan erat. Sama-sama berharap bahwa itu bukan perpisahan terakhir.
Keduanya ingin bisa saling mengunjungi sat saat nanti.

Dari dalam tasnya,Wilbur mengeluarkan kado untuk Keluarga Imam.
Ibu Imam yang sehari-harinya dia panggil "Mom" tersenyum sambil mengelak saat Wilbur hendak mencium pipinya. Itu membuat para tetangga tertawa.
Mereka melepas kepergian Wilbur berama-ramai yang membuatnya terharu dan tak pernah terlupakan.

Tayangan akhir,nampak Willbur dan Istri "bule"nya nampak sedang menemani anaknya bermain ditaman.
Rumah mereka layak. seperti Apartemen kelas mahal di negeri ini.
Gambar lain, Willbur kembali menjalankan tugasnya.Dari atas Containernya yang canggih ber-AC itu dia bilang:

"Saya jadi mensyukuri apa yang saya miliki , Pekerjaan dan keluarga saya.
Kelak saya akan mengunjungi Imam kembali... mereka memberi saya pelajaran yang amat berarti...!"





             















2 comments:

  1. aduh, sedih ya mak.. sama2 tukang sampah namun kehidupannya jauh berbeda perekonomiannya :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang, seharusnya Pemerintah lebih fokus memperhatikan mereka.
      Kunjungan ke Luar Negeri untuk apa? kalau tidak mempelajari kemampuan dan kemajuan mereka dalam mengolah sampah.

      Delete