Wednesday, 12 February 2014

Di Taman Rumah Sakit

                                 

Pandangan saya masih tertuju pada cantiknya Musholla mungil,halaman belakang Rumah Sakit,
sambil berbicara dengan adik saya yang  tengah berusaha menghabiskan makan siang bawaan saya.

" Biasanya sih... kalau dalam keadaan seperti ini, seorang Ibu sering menyalahkan diri sendiri, tapi... sebaiknya tidak begitu"!

Eh!  begitu saya menoleh,dia sudah berurai air mata . Keluarnya lancar betul,tanpa isak ! tak perlu saya menebak, matanya jelas memberitau, itu beratnya simpanan hati yang pecah.
Akh, saya sudah  membuat selera makannya makin berkurang.

Tapi rupanya itu yang ia butuhkan.Ia hampir tak pernah menceritakan kesusahannya.
Putra pertamanya yang baru usia 4 hari harus dirawat karna Dehidrasi!
Niat sudah lama tertanam untuk memberi  ASI ekslusif,namun keluarnya tak mencukupi.
Demamnya selama 2 hari ternyata bukan sakit biasa.

Jika dihitung-hitung, perjalanan membesarkan  Anak-anak selalu bertemu dengan  masalah yang berujung menuding ke diri sendiri.
Jangankan Anak rawat inap, dia diare ringan saja  otomatis membuat otak Ibu kembali merunut daftar kesalahan tangannya.... menyesal...menyalahkan diri... lalu,setan itu datang!, muncul praduga-praduga negativ. Berprasangka buruk pada kondisi kesehatan Anak.

Saya mengakui,sering berfikir tidak logis, dibawah bayang ketakutan yang diciptakan sendiri.
Misalnya saat anak tidur terlalu lama,lewat dari waktu yang biasa, saya akan lepas pekerjaan rumah dan lansung masuk kamar,hanya untuk memeriksa,apakah dadanya masih turun-naik?

Apalagi bila Anak sakit! berulang-ulang memegang dahi,berulang-ulang mencium!
Bangun pagi dengan tanya, mimpi burukkah semalam? adakah saya temui tanda yang kata orang itu alamat akan terjadi musibah besar!
Akh, seperti orang gila! Orang yang normal dan berfikiran positif,pasti memberi nilai itu untuk saya!
(*Hehehe..sementara melihat,suami anteng-anteng saja tuhh! memang ya,kalau logic dan pasrah bikin aman!)

Kenapa saya?...
Takut disalahkan karna fungsi Ibu adalah merawat?...  Merasa bodoh?... Merasa tidak layak jadi Ibu...?
Yang jelas semuanya ada!

Sampai kapanpun, meski anak-anak sudah besar akan tetap datang suatu masalah yang mengundang fikiran negativ  itu hadir kembali.
Kalau mau adil dan  bisa memaafkan diri sendiri,coba kalkulasi!
Berapa banyak kita lolos! lalu menertawakan kepicikan alam fikir kita saat kejadian.

Kesimpulan saya, itu adalah "Perangkap Setan" (kayak judul lagu dangdutnya Bang Rhoma yaa..)

Setan berpesta bila liat hamba Allah was-was,sebab itu modal utama untuk menjerumuskan manusia lebih jauh. Liat episode dia berikutnya:

- Tanpa disadari seorang Ibu akan men-Tuhankan anaknya
- Putus harapan dari Pertolongan dan Kasih Sayang Allah
- Bersandar pada Dokter (Laa haula walaa quwwata illa bi Dokter saja akhirnya...)
- Merasa diri punya andil terbesar dalam kehidupan bayi ( Lha!terus, Allah "ngapain" kalo gitu?)
- Lupa bahwa semua sudah tercatat 50.000 tahun sebelum bumi diciptakan.
 Tak ada selembar daun pun yang jatuh tanpa izin-Nya!

Salahkah Allah yang ingin pernik kehidupan mendewasakan hamba-Nya? Mendekatkan jarak hamba dengan-Nya?

Apa yang saya tulis, itulah yang saya sampaikan kepada adik saya. Dia merasa terobati.
( Sebetulnya sayapun tengah mengobati diri sendiri).

**Walalhu a'lam












2 comments:

  1. hehehe,,kenapa diganti laa haula walaa quwwata illa bi dokter mbk??merubah Allah menjadi dokter :(

    ReplyDelete
  2. hehehe...ya, artinya tiada daya dan kekuatan melainkan Dokter (dia sudah bersandar hanya pada Dokter)

    ReplyDelete