Wednesday, 26 February 2014

Tugas 4 Kelas Online: " KISAH SOIMAH"

         
               
                situsbiodata.blogspot.com 


                    Kemiskinanku Dulu  Membuatku Tak Lupa Diri

Banyak orang menyangka aku tengah ephoria  dengan Keartisanku sekarang.
Masak,sih? Biasa saja kok! Aku tidak terlalu "gila" dengan status Artis. Apa yang kucapai sekarang tidak instant. Kesusahan datang susul menyusul seperti siang dan malam.
Pahit, tapi membuat mataku kuat dari kemilau duniawi. Pedihnya  mengingatkan aku agar tak lupa diri,selalu ingat tempat asal.

Dalam perjalanan hidup tentu tak selamanya halus, namun tak selamanya pula kasar.
Berawal dari serba kekurangan, menerima keadaan lalu tak malu dalam berusaha, akhirnya membawaku ke kehidupan yang amat berjauhan.
Rupanya Allah berkenan membayar kesabaranku dengan yang kumiliki sekarang. Sesuatu yang tak pernah kubayangkan dahulu.


Membantu Ibu berdagang Di Usia SD

Aku tak tega melihat Ibu bekerja keras menjual Ikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Maka sejak SD aku sudah biasa bekerja dari pagi hingga malam.

Jam 3.00 sebelum Subuh aku sudah berangkat ke Pasar yang tak jauh dari rumah. Disana Ibu sudah sibuk melayani pembeli, tinggal aku yang kebagian tugas membersihkan Ikan.
Aku tak malu, jika berangkat ke Sekolah nanti  tanganku kemerah-merahan dan  bau Ikan.

Tidak hanya membersihkan Ikan,aku juga mahir menggarami ratusan ikan  lalu menjemurnya dipinggir pantai.
Kadang mengumpulkan alang-alang  di Sawah.
Untuk mencari tambahan lagi,aku tak segan menambah pekerjaan dengan menggendong Es.
Benda berat dan dingin itu  harus kutahan hingga jarak perjalanan 200 meter.

Tak Pernah Punya Uang Jajan

Aku ingin seperti kawan-kawan yang dibekali uang jajan. Menatap mereka bebas membeli makanan kesukaan sungguh membuatku sedih.

Kebetulan di sekolah ada kelompok "Ketoprak Tobong",akupun bergabung,dengan harapan besar bisa dapat uang dari situ.

Rupanya mengalir darah seni dalam tubuhku. Mereka senang melihat bakat dan kemampuanku.
Itulah awal langkah panjangku, mentas dari daerah ke daerah.
Kota Jogjakarta yang pertamakali kukunjungi membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Honor cuma Rp 3000,- tiap manggung. Letih tak terbayar sebetulnya, tapi... lumayanlah buat uang jajan yang selama ini kudambakan!.
Yang terpenting nilai lebih dapat kuambil... Pekerjaan ini sesuai dengan panggilan jiwaku.

Kota Gudeg Nan Berkesan

Allah Maha Baik,mengabulkan segala doa meski tak terdengar oleh hati sendiri.
Kota pujaan ku Jogjakarta akhirnya jadi tempat penukimanku untuk mempelajari salah satu cabang seni yang kusuka...  Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) yang membuatku tidak hanya mengenal seni lebih dalam tapi juga memperkenalkan aku dengan para Seniman.

Kota ini juga jadi tempat pertama kali aku jadi "Pesinden" Wayang Kulit.
Honor semalam suntuk itu dibayar Rp 50.000,- . Uang itu tak lagi untuk diriku sendiri.
Dua buah hati telah mengisi kehidupanku bersama suami tercinta.

Perlahan namun pasti kami merayap memenuhi kebutuhan, merayap pula mengembangkan bakatku.
Aku hanya menatap  proses yang ada. Menyaksikan satu persatu bagaimana Allah menunjukan Pertolongan-dan Kemudahan-Nya
Rasa syukurku tak terkira...  Adakah  kata yang lebih dari itu?... Aku ingin mengucapkannya.

Masa Cemerlang

Berkat doa Orang Tuaku, semua teraih pada akhirnya. Dukaku yang dalam adalah belum sempat membahagiakan mereka.

Alhamdulillah... besaran pendapatankui kini sangat diluar dugaan.
Tapi... Aku tetap sama dengan Soimah yang dulu.
Aku cuma Pekerja, bukan Artis! Jadi bakul Kacang neng Ndeso,yo ora popo!
























No comments:

Post a Comment