Monday, 17 March 2014

Bila Masanya Tiba



                  


Saat Bapak menyuruh saya membantunya mengelola Yayasan,sungguh berat.
Selain ini medan baru buat saya yang masih awam, tak mempunyai latar belakang Pendidikan Guru TK, dan  saya pun dalam masa penyesuaian menjalankan kehidupan berumah tangga
Jika tidak ingat wahyu Allah turun dengan kalimat "Iqra" tentu saya menolak.

Mulailah langkah awal tertatih, mengontrak rumah adik ipar persis disebelah tempat saya tinggal.
Sambutan luar biasa dari desa sekeliling kompleks kami yang kebanyakan tidak mampu. Terbakar semangat melihat 25 murid Angkatan Pertama memenuhi ruang kelas.

Jam belajar usai, saya dan pembantu sekolah membersihkan remahan sisa makanan di kelas.
Terbatasnya dana harus saya tutupi dengan kerelaan menjadi apa saja. Status Kepala Sekolah, tapi kadang mengajar saat guru sakit,bahkan mengepel  bila pembantu Sekolah pulang kampung.
Dalam sepinya kelas rasa syukur sering hadir, karna amanat donatur masih bisa terus dijalankan, bukankah ini yang terberat? Seberat beban harus mencerdaskan segelintir hamba Allah ini.

Sungguh Allah tak pernah sia-sia memberikan saya beban.
Didalam sini banyak kekayaan yang saya dapat. Hubungan dengan Para Orang Tua lebih menempa jiwa untuk sabar,melebihi sabar terhadap murid.
Memikirkan gaji guru dan pembantu sekolah setiap bulannya, membuat diri merasa punya arti untuk orang lain.

Banyak orang yang ingin berbuat diluar sana. Dana punya, ide banyak, tapi izin Allah juga yang menentukan. Jika saya dihadapkan pada yang kecil ini,maka sudah sepatutnya saya besarkan syukur.

Wajah kanak-kanak yang menyalami saya tiap pagi beberapa tahun lalu, kini sudah berubah banyak.
Mereka sudah duduk di bangku SMA. Jika bertemu dijalan selalu dapat sapa dan senyum Saya tak mau lagi mereka cium tangan, bukan karna mereka tinggi dan saya kesulitan, tapi saya ingin itu hanya untuk orangtua mereka saja.

Waktu berlari, 12 tahun sudah taman bermain,taman belajar penuh ceria cinta  ini berjalan.
Namun Yayasan kami belum punya bangunan sendiri, hanya kontrak dan kontrak.
Apa yang kami dapat dari donatur, itu yang kami kelola. Tak pernah sekalipun kami membuat proposal untuk pembangunan besar-besaran meski peluang itu ada.
Saya dan Bapak masih punya pikiran yang sama, memegang amanat yang dipaksakan itu beresiko besar.
Apa yang sampai ditangan,itulah besaran yang Allah kehendaki.

Dan ini tahun terakhir...Hik! Hik!
Suara tawa dan tangis murid sudah terlanjur jadi melodi indah buat saya.

Harus ada "Perjuangan Baru" dalam bentuk lain. Sebab masa kontrak akan berakhir,gedung akan di renovasi. Selain itu sudah banyak berdiri TK dan PAUD disekitar sini.
Yang lewat dikepala saya adalah membentuk "Rumah PE-ER". Membantu anak-anak yang sering main dijalan menyelesaikan tugas sekolahnya. Atau memberi ilmu tambahan untuk pedagang Kantong di Pasar?
Hehehe... semoga dapat izin dan pertolongan dari Allah.

Menjalani perjuangan seperti dikelilingi benda-benda cantik , ada saat nya salah satu harus dikembalikan ke dalam lemari, kita hanya menatapnya dari kaca.
Perasaan memiliki akan memberatkan hati tentunya.Biarkan berjalan apa adanya....


water colour resist painting - so easy - do this with kids this summer by jean


No comments:

Post a Comment