Monday, 3 March 2014

Karna Hijab


Zaman modern seperti ini sulit lihat pertolongan Allah yang begitu langsung dan diluar nalar.
Sepertinya keajaiban hanya didalam cerita kuno, saat Nabi masih hadir bumi.

Dipertengahan kuliah Kedokterannya sahabat saya memutuskan pindah Kampus.
Hijab jadi penghalang kebebasannya menuntut Ilmu.
Pandangan mata tak bersahabat dari orang sekeliling masih sanggup ia tahan kurang lebih setahun,tapi setelah para Dosen punya kebijakan tersendiri,maka keputusan pun bulat untuk keluar.
Keinginan  menutup rapat aurat, memang tak sesuai dengan tempat.
Harus ada salah satu yang Ia korbankan.

Orang tua yang diharap mendukung ternyata berseberangan juga. Lepas tangan dan menyerahkan semua di pundaknya. Masuk akal pendapat mereka,

"Kenapa tak bisa sabar sedikit, setelah lulus baru berhijab!"

Jawaban hanya ia simpan rapih, tak mau sedikitpin menyakiti hati orang tua dengan sanggahan.

"Bagaimana kalau saya mati sebelum lulus?"

Orang tua sudah mengultimatum, tak sepeserpun mau menanggung biaya kuliah.
Tak peduli, mau jadi apa dia? Saudara kandung masih banyak yang perlu di urus.

Rasa sejuk luar biasa disaat langkah pertama meninggalkan Kampus,  dan saat menerima  formulir Pendaftatran di loket Kampus baru.
Cukup sekali melihat besaran biaya, sebab hati pasti susah dengan tanya , dari mana uang akan didapat?
Apakah waktu 1 bulan hanya diisi dengan pertanyaan itu?

Di ujung bulan tak ada tanda-tanda Orang Tua mau menolong, hampa bantuan ... meski untuk selembar formulir.
Air mata malamnya hanya Allah yang tau. Pasrah sudah... kemungkinan paling pahit "Putus Kuliah".
Dan yang tak kalah membuatnya sedih,  ia merasa sudah mengecewakan hati keluarga.

Sampai  siang hari  itu... suara gembira campur isak terdengar jelas di telepon.Hampir saja saya  tak percaya pada ceritanya.

Saat kesulitan sudah sampai di leher,pertolongan Allah datang dari pintu yang tak terduga.
Mungkin karna dia berwajah murung,  membuat seorang Ibu kasihan dan  mengobrol panjang di kendaraan umum.
Kegigihan mempertahankan hijab menggugah keprihatinan si Ibu.

Sahabat saya  terperangah mengikuti kejadian demi kejadian,sejak Ibu itu membuka percakapan sampai  ia turun dari Bis meneliti selembar kertas ditangannya .
Si Ibu pemurah  memberikan alamat tempat mereka ketemu nanti. Uang masuk kuliah  akan ia serahkan sepenuhnya,bukan hutang! Rupiah saat masih kecil angkanya, jika dirupiahkan sekarang nol nya banyak.

Kejadian itu tidak ia ungkapkan kepada 1 orang pun. Khawatir ada pembatalan atau sekedar janji kosong.
Sampai pada hari  pertemuan , uang sudah ditangan,pecahlah tangisnya!
Penuh rasa syukur... dia tanamkan niat , jika  profesi dokternya sudah menghasilkan tentu ia akan mengembalikan.
Tak lupa ia meminta alamat Si Ibu untuk soan,perpanjang silaturrahmi.

Rupanya bukan cuma dia, sesampai dirumah pecah juga air mata Orang tua dan Saudara-suadara
kejadian yang hampir sulit dipercaya. Mereka lihat wujud uang!, bukan kartu ATM seperti sekarang.
Pupus kekecewaan mereka, berganti dengan penasaran ingin segera menemui Ibu Penolong.

Tak mau menunggu banyak hari terlewat. Keesokan hari mereka berangkat bersama.
Alamat masih dalam 1 wilayah Jakarta Pusat, tak sulit!. Ungkapan yang akan keluar pun sudah terkemas rapih.

Tampak Perumahan orang-orang "berpunya" itu teratur rapih..seharusnya mudah mencari.
Tapi sampai hari ini tak ada nama itu. Satpam yang  berkali-kali ditanya pun sudah capek meyakinkan bahwa hanya nomor rumah itu yang tak ada.


























No comments:

Post a Comment