Wednesday, 9 April 2014

Menunggu Jawaban Allah

                              
                                         wisata.kompasiana.com


Tanah selebar 3x lapangan bola itu sudah lama saya taksir.
Membayangkan disana berdiri rumah keluarga saya bersama anak-anak yatim/terlantar...
terlindung sejuk dibalik Jajaran pohon pinus .
Jurang dibelakang  memberi ruang udara terbuka, hijaunya  menyegarkan mata.
Keberadaannya menjadi  jarak dengan penduduk lain,hingga tempat itu seperti Villa.

Dalam angan saya...
Berdiri disana rumah kayu sederhana  yang tersembunyi dari pandangan luar.
Orang  lewat cukup menikmati aneka tumbuhan dan bunga di sisi tembok pagar saja.
Jika sudah masuk area, baru terlihat rumah teduh berlantai kayu, bukan gaya minimalis!

Disisi jurang sudah ada pohon singkong, talas,pisang dan kelapa.
Akan saya tambah  dengan pohon  Mangga, Nangka,Rambutan, Jambu,dan sayuran,di lahan atas.
Hehehe...Kayaknya asik, kalau tiap tamu yang keluar dari rumah saya  membawa oleh-oleh sepenuh bagasinya.

Tanah kosong yang tersisa luas itu, bagusnya dibangun kandang kambing, Ayam, dan Empang ikan .
Para Nabi menjamu tamunya dengan memotong kambing, alangkah senang jika bisa mencoba.
Alam terbuka itu membuat asap sate  leluasa bergerak tanpa mengganggu tetangga,bukan?
Atau mau menggoreng ikan di dapur luar dengan menggunakan tungku kayu bakar?
Wahh... pasti senang! seperti mengulang masa kecil main masak-masakan...:)

Dibawah pepohonan pinus itu, sepertinya asik buat anak-anak tamu bermain ayunan,sepeda, badminton,dll
Biar mereka bebas bermain dan menjerit tanpa omelan, sementara Orang tuanya bisa istirahat.

Saya tak berniat membangun Panti, yang terkesan kaku dan tak menyatu.
Tinggal bersama saja dibawah satu atap, biar  mereka tidak terasa dibantu/dikasihani. Berjalan apa adanya...
Kebersamaan dalam susah senang.

Kebahagiaan yang lebih dari cita-cita itu adalah,
Suami saya punya rencana yang sama... Subhanallah!

Tapi... lahan itu sudah terisi sekarang.
Bangunan tembok berdiri hampir rapat dengan tembok sisi jalan..
Pohon Pinus berganti dengan pohon Bambu
Jurang tak hijau lagi,kotor dengan puing...

Siapa pemiliknya?
Dia seorang Ibu yang rajin meminta dana dari Partai untuk mendirikan Gedung Yatim itu.
Keberanian yang saya tak punya.

Dulu, waktu "belum apa-apa" Ibu ini pernah mengajar di Sekolah yang saya bina.
Kini dia  bangun pula sekolah TK yang membuat sekolah Sosial saya sepi...
(*Mungkin Allah menyuruh saya beramal dengan cara yang beda)

Kita tak pernah tau dengan cara apa menjawab doa dan keinginan kita.....













No comments:

Post a Comment