Tuesday, 6 May 2014

Bu Bidan Langganan





Sudah beberapa kali setiap pulang mengajar,  lewat Rumah Bidan tempat dahulu  saya melahirkan 3 anak laki-laki . Nampak hanya sebagian saja lampu menyala, taman kurang terawat, plafon teras sebagian lepas. Sejak suaminya meninggal rumah itu seperti tak hidup.
Niat ingin mampir, tapi ragu. Karna suasana sepi , Sudah pindahkah mereka ?

Dan... malam ini saya lewat lagi, tapi bendera kuning terpasang. Bu Bidan Wafat setelah 2 bulan rawat inap.
Akh, saya menyesal,terlambat terima  berita itu.

Bidan Lilis, tak seperti bidan lain. Rumahnya yang jadi satu dengan tempat melahirkan membuat pasien seperti melahirkan dirumah sendiri. Makanan pasien dia sendiri yang memasak. Sangat cocok dengan lidah saya. Keruan makan jadi lahap.
Jarak yang tak jauh dari tempat saya, dan suasana rumah itu pula yang memudahkan 2 anak kecil saya tiba-tiba masuk ke dalam kamar pas saya lagi mules-mulesnya mau melahirkan adik mereka.

Jika malam, Bu Bidan  menjaga bayi dengan tidur tak jauh dari Box bayi.
Kebaikan lain, ia memberi kelonggaran untuk orang kurang mampu, bisa mencicil bea rawat setelah Ibu dan Bayi pulang.

Kami rutin bertemu saat anak-anak usia balita, untuk imunisasi atau berobat.
Setelah anak-anak besar, hanya berpapasan sesekali, saling  lempar senyum dan lambaian dari becak yang meluncur berlawanan arah.

Kini saya lihat wajahnya dari dekat. berselubung selendang putih tipis. Wajahnya tenang,kelihatan lebih muda.
Selain berdoa, saya sempat membisikkan,
 "Maafkan saya bila ada salah bu... kita saling membersihkan yaa...!"

Tamu takziah belum banyak, dari kejauhan saya lihat lagi kamar tempat saya dulu.
Terakhir masuk rumah ini waktu antar makanan Aqiqah dan Kueh ulang tahun anak saya yang ke... *lupa!

Semoga semua lelah dalam mengurus anak-anak yatim nya, mengurus pasien nya,jadi ibadah yang dapat ia banggakan dihadapan Allah kelak. Amiin...












2 comments:

  1. Terharu baca cerita ini.. Semoga Ibu Lilis sudah jauh lebih bahagia dan tenang di tempat yang sekarang, aamiin.

    ReplyDelete
  2. Amiin Ya Rabb...itu pula yang jadi harapan saya..

    ReplyDelete