Thursday, 15 May 2014

Kutitip Kenangan Di Alirmu, Barito...

**Cerita ini disertakan dalam Lomba Give Away


                               
                                    bisnis.news.viva.co.id

Kata orang, sekali minum air sungai Kalimantan, maka ia akan kembali kesana untuk meminumnya lagi.
Itu bermakna hati orang yang berkunjung tak akan lepas dari pulau itu.

Kalau bukan karna Tanty sahabat karib saya yang memohon-mohon minta ditemani ke sana, saya tak akan pernah mendatangi pulau raksasa itu dan meminum airnya.
Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana Ibunya menangis hebat,berguling-guling, tidak rela teman saya berpacaran dengan Pria Banjarmasin. Pria pilihan sang ibu dari daerah asal sudah disiapkan untuk mendampingi sahabat saya. Akhhh!!

Keinginan Tanty tak terbendung lagi, ingin bertemu dan memintaa maaf pada Nino sang kekasih.
Sejak sang ibu mengusir, torehan pedih menggores. Nino tak dapat dihubungi,berhenti bekerja,dan kembali ke orang tuanya di Banjarmasin.

Setelah Tanty curhat saat bermalam dirumah saya, kami pun atur strategi. Nekat memang, belum lama
duduk di bangku kuliah sudah berani niat terbang ke lain pulau, dengan alasan mengisi liburan 3 malam bersama teman-teman kampus di Villa Puncak Bogor. Saya rela berbohong pada orang tua,demi menghibur luka hati 2 mahluk itu.
Uang transport tak masalah karna kami punya jatah dana libur plus uang tabungan sendiri.
Tapi hati ini lhoo...ciyuuut! Bagaimana bila pesawat yang saya naiki jatuh? lalu terdaftar nama saya sebagai korban?

Kami buta peta Banjarmasin, alamat Nino kekasih Tanty satu-satunya pegangan kami. Dia tak boleh tau niat kami,  khawatir akan menjauh lagi.
Kebetulan rencana nekad ini di ketahui pula oleh 1 sahabat kami yang lain, Ryan namanya. Dia bukan teman 1 kampus, tapi  belakangan ini makin sering datang kerumah. Menangkap kekhawatiran kami dan bertepatan dengan rencananya akan menetap di Kalimantan, pas lah sudah! Ia mau menemani kami dahulu, baru melanjutkan perjalanan darat ke Samarinda.

Perjalanan  sembunyi-sembunyi itu tentu membuat hati gremet-gremet.
Mambayangkan, bagaimana kalau bertemu teman, tetangga,atau saudara di Bandara? Wahhh kiamat!
Alhamdulillah, begitu pesawat menjulang, dada lega! Tidur siang di perut pesawat lumayan menenangkan. Bayangan wajah amarah orang tua dan pesawat jatuh jadi terlupa. Hiiii... meninggal dalam berbohong? Enggak deh! Dalam hati mengemis semoga Allah maklum atas keputusan ini dan menyelamatkan kami.

Berada diantara gumpalan awal putih bersih berpayung mega biru terang, di sela-sela awan tak nampak lagi wajah laut. Tiba-tiba kami disuguhi  cantiknya hamparan karpet hijau, hutan Kalimantan!
Seperti brokoli lebat dan tebal, Pulau Khatulistiwa ini benar-benar menakjubkan.
Liukan sungainya seperti benang halus yang menyembul di rerimbunan pohon, ribuan jumlahnya!

Duhaii Borneo,
alam  yang tak pernah terjamah
Betapa Tuhan Maha Pemurah
menitipkan kekayaan nabati dan hewani di tubuhmu

Memuliakan dengan julukan paru-paru bumi.
Kegagahan yang asri tak terlupa
Impian  penjelajah dan penakluk alam.
Membuat bangsa lain menatap dengan iri.

****

MENDARAT DI BANDARA SYAMSUDIN NUR

Jalan cerita sesuai dengan yang kami bayangkan. Begitu mudah perjalanan siang hari itu dari Bandara menuju jalan Ahmad Yani, kompleks perumahan Pemda Kalimantan Selatan.
Jalan-jalan desa tahun 80-an saat itu masih relatif sepi. Kiri kanan jalan ditumbuhi pohon-pohon tua nan rindang, jarak rumah-rumah penduduk lumayan jauh.
Betul-betul cuci mata! melihat model rumah mereka yang unik! berdiri diatas pondasi beton setinggi lutut.
Kebanyakan atap menggunakan kayu sirap, kayu mahal berkwalitas tinggi milik orang berada di Kota Jakarta. Sebab makin ditempa hujan panas, makin kuat dia.

Rumah Nino luas,berdiri kokoh dikelilingi rumput dan tanaman asri terawat.
Penghuni rumah kaget, tak menyangka kedatangan tamu jauh.
Seperti penduduk asli lainnya, penerimaannya hangat, ramah, terbuka, apa adanya,  seolah-olah kami terpisah lama dan baru bertemu hari itu.Sungguh di luar dugaan.
Saya tak berani menatap detik-detik pertemuan Nino dan Tanty. Sekilas dengan ekor mata terlihat Ibu Nino  berusaha menghibur dan menenangkan Tanty. Ibu dan calon menantu gagal itu memang beberapa kali  pernah bertemu sebelumnya, saat berkunjung ke Jakarta tempat Nino.

Karna keluwesan keluarga dan punya banyak kamar, membuat Ryan teman seperjalanan kami tak canggung dan bersedia menginap sebelum melanjutkan perjalanan.
Tuan rumah memaksa kami menginap beberapa hari untuk rekreasi, tapi... kami sudah terlanjur bilang pada orang tua, ke villa puncak 3 hari. * hihihi  begitulah! pergi tanpa restu tak leluasa.


CANTIKNYA TAPIAN

Usai beristirahat, saya banyak meninggalkan Tanty. Biarlah waktu yang sedikit ini ia gunakan  sebaik mungkin. Saya main dengan adik-adik Nino yang masih kecil, main gitar, dan ngobrol banyak dengan Ryan.
Sahabat satu ini pendengar yang baik. Sering main kerumah mulai dari bawa teman hingga datang sendiri. Karna dia sopan, Ayah saya yang galak itu luluh juga.

Entah kenapa, di kota sungai ini dia banyak menceritakan perihal dirinya dan rencana masa depannya.
Ada nada kekecewaan dalam suaranya. Kota Jakarta tak menjanjikan pekerjaan dan ketenangan.
Rencana kembali lagi ke orang tuanya di USA harus menunggu 5 tahun lagi untuk proses Green Card (Kartu resmi penduduk tetap).Akhirnya pasang niat berwiraswasta di Samarinda.

Dia baik dan sering menolong saya mencarikan buku, kaset, atau apa saja yang saya butuhkan.
Pernah datang 1x ke kampus . Teman-teman menyangka dia kekasih saya, karna tak pernah 1 laki-laki pun datang menemui saya di kampus selain dia.
Maka  saya rela jadi pendengar yang baik. Bukankah 2 hari lagi kami berpisah? entah kapan kami bisa bertemu lagi.

Pembicaraan dengan Ryan terputus. Kami diminta siap-siap, setelah magrib keluarga Nino akan membawa kami  ke Tapian Barito.

Tahukah anda bagaimana keindahan Sungai Barito di waktu malam? Ia seperti putri cantik memakai gaun pesta warna hitam dengan kalung permata warna-warni. Kilauannya tak tajam,tapi lembut romatis.
Ia nafas kehidupan masyarakat Banjar.


aldhysiregarphoto.blogspot.com

Bangunan tua  rumah adat menimbulkan aroma kerajaan Banjar terasa. Alur sungai membelah kota, setia mengaliri kehidupan.
Jembatan Barito, jembatan Rumpiang siang hari tampil ceria bersimbah matahari, sedangkan malam  berhias lampu rumah dan kerlip kapal... berpendar cahaya dibalik pulau.

Kami menikmati malam dengan menyantap Soto Banjar berharum rempah, beda dengan rasa Soto di Pulau Jawa.
Menu lain yang dihidangkan seperti Ikan haruan bakar dan Ketupat Kandangan. Dan ada 1 makanan yang  bikin saya jatuh cinta pada cicipan pertama, yaitu Wadai /kueh bingka, betul-betul lembut lezat dengan manis sedang.

Usai makan kami ke pasar seberang. Di toko souvenir Ryan membeilkan saya Tas Anjat berbentuk unik,terbuat dari bilahan rotan halus, dan 2 gelang batu mulia khas setempat,saya suka!
Sepanjang perjalanan pulang Tanty dan Nino masih berbincang serius, entah apa yang mereka sepakati, Tanty pasti akan bercerita nanti. Sementara Ryan jadi pendiam.

****

Larut turun di kota  batu  mulia itu. Saya dan Tanty tidur berdua dalam 1 kamar, hingga bebas ia ungkapkan rasa.Meski ada air mata menggenang di kelopak mata, tapi Tanty cukup tenang menceritaka semua.
Ia dan Nino sepakat mengahiri hubungan dengan manis meski kuat cinta mereka.
Nino terlanjur merasa terhina, dan Tanty tak mampu memaksa keadaan sesuai keinginan.
Masalah perjodohan tak mereka singgung. Seperti ada tembok antara hubungan mereka dengan perihal keinginan orang tua. Kini sama-sama mereka ihlas terima nasib, akur dengan keadaan, dan mengahiri cerita cinta  dengan baik penuh kekeluargaan.

Berbungah hati saya, pengorbanan kecil ini paling tidak sudah menyelamatkan 2 hati.
Tinggal 1 malam lagi di sini, setelah itu... good bye persoalan! Saya akan tenggelam lagi dalam kesibukan kampus.Menyatu lagi dengan teman 1 gank, hehehe tak terbayangkan reaksi mereka jika mendengar cerita nekad kami.


PASAR TERAPUNG




properti.kompas.com

Semburat jingga pagi menyapa... sejuk udara dinikmati sebelum datang terik. Jika matahari datang,penduduk asli banyak ditemui di jalan  memakai bedak mangir (terbuat dari beras halus dan rempah) untuk melindungi wajah dari sengatan.

Sarapan pagi khas Banjar kami nikmati di Pasar terapung yang buka dari jam 4 pagi sampai jam 7 saja.
1 paket Nasi Kuning sedap dengan Daging bumbu Bali, atau telur pedas yang gurih. Rasanya jauh lebih enak dari nasi kuning jajanan di Jakarta.

Di atas perahu runcing itu bukan hanya menjual hasil bumi segar , tapi juga cemilan. Hahaayy! Berbelanja diatas perahu, badan bergoyang-goyang ikut alunan gelombang air, menakjubkan!
Meski sekarang tersedia Pasar Terapung di Sentul Bogor,tetap beda sensasinya.

Ryan masih saja pendiam, saya tak tau harus dari mana memulai pembicaraan agar ia sedikit terhibur. Hati kecil saya mengakui, walau bagaimana saya merasa kehilangan. Itu adalah hari terakhir, entah kapan lagi kami bisa bertemu. Perjalanan beberapa hari ini membuat saya mengenalnya lebih dekat.
Sebetulnya  ingin sekali menyuruhnya tetap mampir ke rumah bila Ia rindu Jakarta, tapi kata itu tak keluar.

Kami berkumpul didepan TV malam itu. Ruangan tak jauh dari taman ruang tengah.
Ryan membuatkan saya kopi susu hangat dan bilang :

"Duduk disana yuk! sebelum pisah besok,saya mau titip pesan"

Sambil berjalan kesana saya bertanya penasaran sambil berseloroh

"Pesan apa? pesan barang yang enggak ada di Samarinda? minta di paketin yaa?!

Tapi dia cuma tertawa kecil, sampai kami duduk dipisahkan meja mungil, dimana kopi panas kami mengepul
aroma harum.Berangsur wajahnya jadi serius. Seperti punya mimik baru yang tak pernah saya lihat sebelumnya.
Mendadak saya jadi tak berani bercanda atau mengalihkan pembicaraan. Hanya ikut keadaan dan tenangkan hati dari rasa aneh yang merayap perlahan. Dugaan halus bermain nakal.

"Maaf ya,  saya harus mengatakan ini disaat sempit. Sungguh,saya kehabisan cara, bagaimana lagi menunjukkan rasa saya yang lebih dari sekedar kagum padamu. Apa selama ini kamu tidak merasa saya menyayangimu?!"

Ya memang, perhatian tulusnya akhir-akhir ini saya akui tidak biasa.Namun saya tetap menganggapnya  kebaikan seorang sahabat, meski mata orang lain berani memastikan bahwa ia menaruh hati.
Ah, saya tak mau memikirkan itu dan tak  ingin merusak hubungan dengan dugaan yang belum tentu benar.
Saya yakin Ia pasti faham,  tak mudah bagi saya  mengikuti gaya teman-teman lain yang cepat punya kekasih  hanya dengan mengerti tanpa bicara langsung.

Saya terdiam memandang lampu taman, rasanya ingin kabur sambil bilang,
Iya...Iya! sekarang ngerti! saya terima sayangmu.Sudah yaa... cukup!
Lalu cepat-cepat masuk kamar sebelum Tanty memergoki kami ditengah obrolan serius.Duh,bikin malu!

Kenapa jadi begini? pergi dengan tujuan membereskan hubungan teman ternyata si pengantar malah jadian?

Tiba-tiba dia sudah mendekat dan menggenggam tangan. Matanya mendung dan gerimis pun turun.
Saya terkesima bukan hanya karna getar suaranya, tapi air hangat menetes menimpa punggang tangan saya.

" Apa kamu bersedia menerima saya? Tak perlu bicara panjang, katakan  ya atau tidak,itu saja! agar hati saya lega saat pergi nanti. Jawaban apapun saya terima. Tahu kah? saya mengajukan diri untuk mengantar , karna ini kesempatan terakhir yang amat besar artinya buat kehidupan  panjang saya ke depan"

Malam itu awal langkah kami bersama. Tanggal 3 bulan 3.
Air matanya dan jawaban  adalah ketulusan yang dalam,  membuat berat langkah kami untuk berpisah esok.
Tanty tertawa saat mendengar cerita romansa di ujung waktu alias roman kepepet.
Diatas tempat tidur yang sama kami lelap dengan kepala berhias cerita kontras. Catatan nasib selalu mengejutkan.

Bandara Syamsudin  Noor jadi saksi perpisahan kami pagi itu. Dengan sepotong janjinya akan ke Jakarta dalam keadaan yang berbeda. Tak lagi mengunjungi sahabat.
Surat-surat mengalir seminggu sekali, tak putus kami berbagi cerita.Dia memang bukan type pria pengumbar rayu. Bagus lah! saya bisa kabur kalau dengar rayuan.

Jauhnya jarak membuat kami terlatih untuk saling percaya selain mengurangi dosa.
Hingga Allah menyatukan kami 3 tahun kemudian. Ia memasukkan cincin emas ke jari saya, seberat 3 gram koma 3, sesuai dengan tanggal dan bulan jadian kami.

Barito, sungaiku
Setia mengalir memberi hidup
seperti setia kekasih menemani hidup
Alammu tak luntur 
Sungaimu tak kering
Kutitip kenangan manis di sini
Suburlah subur !
Lestari dalam ingatan

Setelah menikah kami  kembali kesana, memetik lagi cerita yang masih hijau.
Rupanya betul apa yang mereka katakan Air Kalimantan akan membawamu kembali...:)


Banner GA

                                 

10 comments:

  1. wah yg malam hari itu keren banget, waktu sy kesana lht hanya pada siang hari krn pas malam hujan lebat , sayang ya, tp duh keren banget

    ReplyDelete
  2. Hehehe...bertanda harus kesana lagi,Maak...:)

    ReplyDelete
  3. ahay..keren banget ceritanya..sukses GA nya mak..!

    ReplyDelete
  4. Hehehe...terimakasih yaa..Insya Allah Amiin ya Rabb. Salam kenal dan trmks sdh mau berkunjung :)

    ReplyDelete
  5. aiiihh romantis nian kisahnya Mb Mutia :) air Kalimantan akan membawamu kembali, kembali ke cinta sejatimu Insya Allah.

    Terima kasih telah berpartisipasi di GA ini, good luck.

    ReplyDelete
  6. Ya nih Mak, gara-gara GA jadi tercatat begini. Terimakasih sudah berkunjung ya Mak...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah amiin...terimakasih juga doanya ya Mak...:)

      Delete
    2. Terimakasih Sahabat semua, doa-doanya dikabul, saya dapat juara 2,alhamdulillah...:)

      Delete
  7. selamat ya mbak sudah menang, sukses teruss :)

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, Terimakasih Adikku...
    Ammin ya Rabb, senang dapat doanya. Besok nyusul di tikungan yaa...:)

    ReplyDelete