Saturday, 31 May 2014

Maluku 11

Bulan September, Kolonel Slamet Riyadi memimpin roup 2 mendarat di Tulehu. Ia tidak mendapat perlawanan malah disambut baik oleh semua rakyat.
Di Wai,Liang dan Suli ada perlawanan tapi dapat dipatahkan.

Yang berat adalah di Waitatiri, 3 kilometer didepan Passo. Hingga 1 bulan APRI berada disana mempertahankan diri sambil menunggu persenjataan tambahan dari Pulau Jawa.
Penduduk ngeri melihat batang-batang pohon kelapa di sepanjang jalan daunnya habis.Pangkal pohon bolong-bolong,tembus bekas peluru.

"Jika Belanda membanggakan pertempurannya di Arahem-Afrika lalu menguasai Alamein, maka Ambon mempunyai Waitatiri. Anak-anak kita bolehbangga bertempur di Waitatiri"
demikian Mayor Pieters.

Namun Kapten Sukarnp bilang,
"Hendaknya anak-anak kita jangan membusungkan dada di Jawa nanti karna telah bertempur di Ambon.
Memenangkan pertempuran sudah kewajiban kita,apalagi perlawanan  antara kita sama kita ini"

Tanggal 3 November hari berduka RMS di usia setengah tahun, kota ambon berhasil diduduki APRI (Angkatan Perang Indonesia) yang gagah berani dibawah pimpinan Kolonel Kawilarang.
400 orang anggota RMS menyerahkan diri.

Tentara baret membakar habis rumah di Bandar yang digunakan untuk sarang RMS
Suara tembakan masih terdengar sana-sini sebagai upaya membersihkan sisa pemberontak.
Pegawai-pegawai RMS yang insaf dan mau kembali ke kesatuan negara RI diberi ampunan.
Mereka terbawa karna takut dan percaya pada propaganda Soumokil.
Demikian yang disampaikan oleh Mentri Penerangan Palupessy.

Pada hari itu juga 2000 pasukan RMS bersenjata Sten, Brengun, setengah lusin panser dan mortier  meninggalkan Passo menuju Ambon. Mereka terus dikejar APRI. Di jalan Waitatiri terkihat 1 panser RMS terbakar dengan 4 pengendara didalamnya.

Seorang Prajurit usul,
"Mengapa tulang-tulang mereka tak ditanam saja untuk dipamerkan pada para tamu?"

"Untuk dijadikan pameran? Akh,tidak! Jika kami ingin menmbah nafsu makan kami pergi ke dekatnya sebentar dan mencium sedikit bau sate didalamnya seperti di Restoran Kiet Wan Kie"
Jawab Mayor Pieters.

(*Sumber: Buku Peristiwa RMS- By: Yusuf A.Fuar)
Penerbit: Bulan Bintang 1956

No comments:

Post a Comment