Sunday, 18 May 2014

Maluku 2


Debur ombak susul menyusul. Malam tanpa bintang, hanya garis ombak yang terlihat samar memanjang. Pecahan ombak diujung daratan membasahi kaki-kaki yang letih berlari melindungi diri.
Desingan peluru masih terdengar, asalkan mereda sedikit legalah hati... harapan nyawa bisa tersambung.

Berat nian tanggung jawab yang diemban. Aku harus mengawal keluarga Bapa Raja mengendap-endap di kegelapan  melewati beberapa pulau. Perut lapar tanpa sedikitpun sisa bekal.
Cahaya pesawat patroli  membelah malam, badan  merunduk berlindung dibawah pohon sagu dan pepohonan liar bibir pantai.

Nafas terengah,keringat mengucur lancar, perjalanan harus dilanjutkan menuju pengungsian rahasia.
Di Pulau Haruku, Bapa Raja memerintahkan untuk sejenak beristirahat. Kupanjat pohon nyiur untuk makan dan minum rombongan. Segar air  dan tebalnya daging kelapa muda,mampu mengganjal perut dan mengurangi lelah. Beberapa jam lagi hutan menanti, bisa agak tenang disana.

Nampak kekecewaan pada raut wajah Bapa Raja. Diamnya menyimpan banyak rahasia bathin.
Sebetulnya ia berkuasa namun kekuasaannya di salah gunakan pihak lain.
Bagai kerbau dicucuk hidungnya, mengikuti hawa nafsu segelintir orang dengan janji-janji kosong.

Negeri Tulehu...
Negeri tercinta
Rakyat bersimbah air mata
Musuh asing tiada, musuh bangsa sendiri ada di muka







No comments:

Post a Comment