Thursday, 22 May 2014

Maluku 5


                                         
                                             khk.livejournal.com

Presiden RMS, J.H. Manahutu mengirim surat kawat kepada RIS tanggal 25 April 1950, berisi:

"Memenuhi kemauan jang sungguh tuntutan dan desakan rapat Maluku Selatan, maka dengan ini kami proklamirkan Kemerdekaan Maluku Selatan de facto dan de jure jang berbentuk republik, lepas dari segala perhubungan ketentaraan NIT dan RIS, berdasar NIT sudah tidak sanggup mempertahankan kemerdekaannja sebagai negara bagian selaras dengan peraturan-peraturan Muktamar Den Pasar jang masih sjah berlaku, djuga sesuai dengan keputusan Dewan Maluku Selatan tgl 11 Maret 1947, sedang RIS sudah bertindak bertentangan dengan KMB dan Undang-undang Dasarnja sendiri".

Surat itu menambah kesombongan  gerakan yang diprakarsai oleh Mr.Dr. Soumokil, warga negara Belanda-tiga-suku ( genaturali-seerde Nederlander).
Proklamasi diadakan secara paksa.
Kepala Daerah yang resmi ditunjuk RIS sudah menyatakan bahwa ia tak sanggup memimpin. Maluku akan kesulitan jika menjadi satu negara.

Tapi ia segera mendapat tantangan dari militer dan kaum Persatuan Timur Besar. Mereka bersorak sorai; "Seret saja! Siapa tidak mau cincang saja!"

Kapal- kapal dilarang mengibarkan bendera merah putih. Pemimpin pergerakan yang berpihak pada RIS ditangkap dan disiksa tentara KNIL. Seluruh kota sunyi... penduduk ramai-ramai mengungsi. Yang paling menderita adalah warga yang beragama Islam.
Raja Tulehu Ibrahim ohorella satu-satunya  tokoh beragama Islam sebagai Mentri Ekonomi RMS.
Tapi ia hanya boneka, seolah muslim Maluku menyetujui keberadaan RMS.

Hari-hari berjalan dengan kekurangan. Uang tak ada, persediaan beras kosong, minyak tanah dan bensin hanya cukup untuk 3 minggu. Pasar sepi, mencari sagu pun tak ada disana.

2 comments:

  1. Menarik... ternyata sejarah memang menarik tuk di ketahui ya Mak ;)

    ReplyDelete
  2. Ya Mak, banyak hikmah di dalamnya. Sayangnya hanya sedikit buku-buku sejarah yang enak dibaca.

    ReplyDelete