Sunday, 11 May 2014

Pusing karna seragam


Saya tidak menyalahkan anak jika tiba-tiba ia ingin pindah  ke sekolah yang lebih fokus pelajarannya.

"Buat apa pelajaran SMA yang pernah saya pelajari dan hindari dulu? saya ingin ambil Bahasa Arab dan Alquran...percuma buang waktu untuk pelajaran umum"

Saya khawatir sewaktu-waktu dia akan berubah lagi, atau nanti butuh pekerjaan yang mensyaratkan Ijazah .

Setelah membaca Homescholling di berbagai tulisan dan berbagai pendapat. Saya dapat ambil kesimpulan, memang Pemerintah kira terlalu banyak memberi beban Materi Pelajaran pada siswa.
Banyak mencampuri urusan pendidikan. semuaaaa harus seragam,diawali dari seramagam sekolah, buku, sampai otak.

Kenapa ya? kebebasan jadi bahan langka dan mahal di negeri sendiri ?

Bayangkan saja, Pengelola Homeschooling sampai harus diawasi  Departemen Pendidikan.
DIKNAS   menganggap Pengelola Homeschooling "Susah Didekati" , dan  mewajibkan pelajaran , Matematika,Inggris, IPA, Bahasa Indonesia bahasa Indonesia, dimasukkan ke dalam materi Home schooling.

Saya pikir tidak semua hal harus diseragamkan. Berikan kebebasan selama tidak melanggar aturan yang prinsipil.
Siapa tau dengan Homeschooling ini,pesertanya lebih "Percaya Diri" karna mendapatkan apa yang mereka suka, lebih fokus, dan kelak bisa membuka lahan pekerjaan buat orang lain.
( itu cara berfikir  sederhana saya saja) .

Semua harus diseragamkna,nembuat orang tidak merdeka, negeri ini sosialis bukan,kapitasli bukan,komunispun bukan,
Seragam seolah kebersamaan padahal tidak sama sekali.

Eh,bagaimana ya, bila disini banyak pilihan menyangkut pendidikan?.
Misalnya hari libur tak sama. Karna efek jadwal berbarengan bikin harga tiket mudik+piknik  jadi mahal, dan toko buku+seragam jadi terlalu padat diserbu.

**Hhm... nulis lagi rencana urus kepindahan.



No comments:

Post a Comment