Monday, 30 June 2014

Menikmati Samudera Quran



Kalau mau mengakui, seringkali kita bergantung pada buku-buku karangan manusia untuk menentramkan hati. Di rak-rak toko buku komplit  tersedia buku-buku bersampul keren . Dari terjemahan buku barat sampai buku dalam negeri.
Kenapa ya, kita belum mau serius menggali sumber ketenangan hati dan sukses dunia akhirat  yang disediakan Allah?

Quran itu tak punya batas. Tiap huruf punya ribuan tafsir. Segala macam persoalan ada disana.
Banyak penulis dan penterjemah  menganggap tulisannya paling lengkap, padahal tak ada yang lebih lengkap kecuali Quran itu sendiri.

Saya jadi ingat cerita seorang teman, kala hati sedang galau dia buka lembaran quran semaunya setelah sholat tahajjud. Disana ia temukan ayat-ayat yang persis seperti masalah yang sedang dihadapi.
Seolah Quran tau kegalauannya.
Ya tentu ! Alquran kan ayat nya berulang, dan Allah yang maha tau persoalan hidup.
Kejadian yang kita alami sekarang sudah terjadi sejak Nabi Adam turum ke bumi.


Ulama bilang 1 ayat saja pemahaman quran melebihi samudera. hingga  tak mungkin manusia menterjermahkan dalam 1 tafsiran.
Anda juga mungkin pernah seperti saya, membaca 1 ayat, lalu bertemu dengan ayat yang sama dihalaman lain, eh! kok jadi pemahaman baru dan lebih dalam lagi! hingga muncul perasaan baru.
Anehnya TIDAK BERTENTANGAN dengan ayat sebelumnya.
Yang tetap (tak berubah) hanya ayat-ayat  tentang hukum, ituu saja!  Emejing dehh!

Saya sampai berfikiran, firman Allah tu sama dengan sifat Allah yang tak terbatas.
Kalau belum ketemu sebagian kecilnya, yaa...itu karna ilmu saya saja yang masih cetek! hehehe
Saya jadi penasaran, bagaimana sih, supaya hati tetap bergantung pada Quran?
Pemahaman manusia kan ada ukurannya, tergantung bagaimana Allah membuka hatinya.

Seandainya hamba di anugerahi seribu pemahaman dari 1 ayat, niscaya ia tidak akan sampai pada makna akhir ayat yang disampaikan Allah. Sebab itu adalah Kalam Allah, dan kalamNya adalah sifatNya.
Sebagaiaman Allah sendiri yang tak punya akhir, begitu pula kalamnya

Akh, pokoknya jangan sampai kita meremehkan quran.
Tak menyentuhnya, tak mempelajarinya, kayaknya kok sama dengan menganggapnya cuma sebuah dongeng. Cukup dengar dari ustad atau orang lain.

Seorang Ulama besar bilang:
"Saya sulit memahami Alquran dan mengkajinya  selama 20 tahun, namun kemudian saya menikmatinya selama 20 tahun"

**Jadi berjuang dulu... baru menikmati alquran.

Bay de Wey, saya pernah mimpi, ayat-ayat Allah terukir cantik di langit. Sekali langitnya warna biru dengan tulisan emas, sekali lagi tulisan warna perak saat langit mendung. Apa anda pernah juga mimpi serupa?




No comments:

Post a Comment