Saturday, 5 July 2014

Kehilangan Indonesia



Saya pernah kehilangan Indonesia yang dulu saya selipkan di lembaran buku sejarah.
Tak lelah saya mencari,  dimana Indonesia?
Apakah hilang ditelan kegelapan nurani, kedermawanan dan kejujuran?
Kemana perginya  hijau hutan, bening sungai dan harumnya rerumputan basah?
Apakah gaya hidup dan kerakusan telah melahapnya?

Lalu saya saksikan lagi, seorang reporter Indonesia bertanya pada penduduk Amerika di keramaian sambil menunjuk peta dunia, dimana Indonesia?
Sambil senyum-senyum  mereka menunjuk ke benua Afrika, Australia, bahkan ke benua Amerika sendiri.
Dimana Indonesiaku?

Akhirnya Kutemukan

Seorang kerabat datang dari negeri pasir. Ia rindu dengan kehijauan. Pergilah kami menuju Tanah Pasundan.
Saya harap sisa hijau yang terkungkung beton villa  dapat menghiburnya.
Belum lagi sampai di puncak Pass, ia minta berhenti. Dengan kaki telanjang disusuri jalan setapak. Tubuhnya tenggelam diantara rerimbunan daun teh.

Wajahnya riang, matanya tertanam pada pinus-pinus basah berpayung kabut sambil mencari-cari suara ricikan air. Tak putus-putus dari bibirnya kata-kata, Masya Allah...masya Allah...masya Allah!
Ketika kelokan alur air didapat, segera ia rendam kaki. Tanah basah, batu basah ia sentuh.
"Syurga dunia...syurga dunia.." serunya takjub.

Ambooy! ku temukan Indonesiaku! Meski tak jauh dari situ sampah-sampah warung melumuri tebing, atap-atap plastik merusak keasrian, papan-papan iklan seperti suara berisik yang mengganggu hening.
Inilah Indonesiaku!

Indonesia Bagiku

Ia seperti kekasih yang lama tidak dijenguk. Banyak kelebihannya yang  belum tergali, sebanding dengan kekurangannya yang harus diisi. Sebagai sepasang kekasih harus saling melengkapi bukan?
Ia telah memberi banyak, mengapa tak saya imbangi dengan perbuatan yang sama?

Kekurang syukuran membutakan mata. Beruntung 2 keponakan saya telah membukanya.
Sore itu menjelang keberangkatan mereka kembali ke Paris. Si Kakak merengek melas bilang:

"Mamong (Mama)!" saya tak suka Paris! Tak mau kembali ke Paris!

Sang Ibu hanya diam menahan sedih sambil terus packing. Menyusul si Adik setengah menangis,

"Mamong, saya cinta Indonesia! disini saudara-saudaramu banyak. Kenapa kami tak banyak saudara di Paris? Mengapa kamu tak kawin dengan orang Indonesia?"

Sekembalinya ke Paris tak pernah putus cerita tentang Indonesia. Kerap  mengeluh pada panjangnya waktu sekolah, selalu dalam ketergesa-gesaan, susah mencari pantai, dan rindu pada saudara yang mengasihi dengan tulus.
Terkenang kembali akan suara Tokek, gemuruh petir Bogor yang sambung menyambung bikin mereka takut namun takjub, ramai  dan uniknya sholat tarawih, sampai membagi-bagikan amplop pada dhuafa yang  punya kesan tersendiri.

Indonesiaku  memiliki juga kekayaan yang  hanya bisa di rasa. Budaya kekerabataan dan kebersamaan masih tumbuh subur. Siapapun yang pernah mengecapnya, tak kan terlupa.
Sepertinya Allah terlalu memanjakan kita.

Ini Untuk Indonesiaku

Memiliki kekayaan yang dititipkan Tuhan pada kita tentu ada konsekwensinya. Kepandaian  memandang, memikirkan dan mengelola amanah  bukan semata kewajiban tapi wujud dari terimakasih kita pada yang Maha Kuasa. Kesemuanya tak mungkin bisa teraih tanpa pendidikan sedari awal.

Anak-anak negeri yang masih berfikiran bersih, perekam terbaik, harus ditanamkan kesadaran bahwa mereka ada di alam kaya yang butuh pengelola handal, mereka juga memiliki kekayaan batin yang harus dipertahankan.

Sejarah pendidikan di Indonesia nampaknya memang sejarah tentang  niat baik dan hasil yang menyimpang.
Ivan Illich seorang pemikir yang lama tinggal di lingkungan miskin Amerika Latin menyodorkan konsep
Deschooling Society. Ivan melihat betapa tingginya biaya pendidikan, hingga menciptakan jarak antara si kaya dan si miskin. Satu konsep yang mendasari niat awal saya untuk "Berbuat" bagi anak bangsa.
Di mata saya mereka adalah masa depan. Bukan hanya sebatas  peduli, tapi keberanian mengeksekusi.

Dalam keterbatasan dana plus bantuan dari beberapa sahabat berdirilah Sekolah TK dhuafa At-Tholibiyah di Desa Ciparigi-Bogor.
Sarana yang minimalis tak terlalu memberatkan hati, yang penting adalah membekali murid dengan pola pikir yang benar tentang menjaga lingkungan, menghargai alam dan seisinya. Dan untuk itu semua diperlukan ketaatan pada hukum. Menyadari betul bahwa yang namanya "Peraturan" bukan untuk memberatkan tapi untuk mempermudah dan membuat semua nyaman.

Menurut para ahli, proses pola pikir dimulai dari usia TK hingga 13 tahun kedepan.
Semoga nantinya mereka bukan jadi manusia yang hanya bisa Omdo (Omong doang).
Banyak pemikir, ahli, profesor, dosen tapi hanya sumbang fikir, lha kerja nya kapan? Dunia tak akan berubah hanya dengan berfikir dan bicara saja.

Saya mendamba  anak-anak murid saya tulus mencintai negerinya. Bila ditanya apa cita-cita mereka, dengan gembira mereka menjawab,

"Saya ingin melindungi alam",  "Saya ingin jadi petani yang sukses!", "Saya ingin jadi exportir Ikan",  "Saya ingin membuat Indonesia lebih baik!"
Bukan sekedar jawaban: Saya ingin jadi dokter, Pilot, atau Polisi!

Berjuang Dengan Pena

Tak hanya melalui pendidikan, lewat pena pun kita mampu menunjukan cinta pada negeri ini.
Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa adalah kesempatan emas mewujudkan impian, berbuat sesuatu lewat karya.
Jika syuhada memerangi kebathilan dengan pedangnya, maka saya ingin berjuang dengan tinta memerangi kemiskinan. Bahagia bisa menjadi bagian dari rencana kerja Dompet Dhuafa mengumpulkan 5000 tulisan
Semoga secuil perbuatan dapat melengkapi kekurangan Indonesiaku, kekasihku...
















2 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  2. Terimakasih pula Pakde, sudah memberi kesempatan dan mau berkunjung. Salam dan Doa dari Bogor. :)

    ReplyDelete