Tuesday, 8 July 2014

Berkedok Panti



Sejak beberapa kali menemui langsung  ketidak   jujuran yayasan yatim ,saya jadi berhati-hati dalam menyalurkan amanat.
Kini dengan mudah orang mengambil keuntungan dengan berkedok Pembina yatim.

Semula saya tak percaya pada informasi itu.
Tapi gara-gara seorang sahabat minta diantar ke 1yayasan di Bogor,terbuktilah!

Pantinya besar berlantai 2 dengan beberapa kamar. Sebanyak inikah yatim yang ditampung?
Pengalaman saya, sulit menghimpun yatim. Yang banyak adalah dhuafa, 3 RT saja bisa lebih dari 80 orang. Hendaknya  pengelola yayasan terbuka dalam menjelaskan, berapa santri yatim dan berapa santri dhuafa.

Kan enggak enak kalau donatur dengan wajah yakin, lalu sedih, prihatin memikirkan anak-anak itu.
Padahal mereka tidak menetap, masih punya orang tua, dan kesehariannya enggak susah-susah amat sebenernya!

Saya tau karna saat acara berlangsung saya dekati dan tanya beberapa anak. Dengan polos menjawab, mereka penduduk setempat. Sekolah di yayasan situ pun tak gratis. Santri yatim  sebetulnya cuma 11 orang dari  hampir seratus anak yang bersekolah.

Kini   4 kasus serupa sudah saya dapati.
Ada yang nekad, gencar sebar proposal. Sampai punya gedung megah.
Donatur keluar masuk kapan saja, lebih ramai lagi pada hari besar Islam.
Yang disantuni kebetulan murid saya yang bukan golongan dhuafa. Ibunya mengadu, foto anaknya plus teman-teman sekelas disebar dalam Proposal berdisain keren berlogo yatim. Tak sengaja ia dapatkan  saat menyapu di pabrik tempatnya bekerja. Marah lah orang tua anak-anak tersebut.


Sumbangan dari perusahaan-perusahan Jabodetabek dan berbagai partai sudah didapat pengelola.
Hasilnya berdirilah gedung seharga milyaran rupiah diatas tanah hampir 1000 meter.
Tapi hanya diihuni yatim tak sampai 10 anak plus keluarga pengelola.

Saya bersyukur dia bisa bangun gedung, dari pada uang menguap untuk yang lain, mengundang murka Allah. Semoga  ini 1 planning yang sudah terlampaui. Dihari kedepan makin banyak penghuni yang REAL yatim, bukan memanggil banyak-banyak anak dhuafa disekitar begitu tamu datang seperti yang selama ini ia lakukan.

Saya belum tau harus menjawab apa dan bertindak apa? Orang tua anak-anak dhuafa itu mengeluh, amplop yang dibagikan donatur berisi 100 ribu, ditukar oleh pengelola dengan 5000 rupiah per-anak.Haahh??

















No comments:

Post a Comment