Friday, 25 July 2014

Di Ujung Ramadhan


Menjelang hari raya begini, teman-teman sudah asik didapur bikin kue-kue kering.
Seorang teman mengeluh, siang bermacet ria di jalan, malam begadang tungguin oven.
Lama-lama dirasakannya seperti menghamba pada perut dan lidah.

Memaknai kegembiraan sering membuat kita terpeleset.
 "Keharusan"  jadi sesuatu yang sebenarnya membelenggu kebebasan diri kita dalam memilih sikap.
Harus ada baju baru, harus ada kueh, harus nge-cat rumah, harus ngumpul,dll...

Waktu anak-anak masih kecil, kami melakukannya. Berdesakan di pasar becek, pilih baju sambil kejar-kejar anak yang sudah tidak betah menunggu, wajahnya cemberut saat mencoba baju/sepatu.
Senang bisa membahagiakan mereka seperti orang tua membahagiakan kami dulu.

Untuk menanam memory yang bagus, kami berkumpul. Melihat Kakeknya membagi-bagikan lembaran uang licin baru pada dhuafa membuat anak merasa ada diantara orang yang saling kasih dan senang memberi.

Kini... leluasa, dapur tak sesibuk dahulu.
Sepuluh hari terakhir ramadhan mereka bermalam di mesjid. Makanan buka dan saur tak lagi utama.
Yang perempuan di rumah, mencoba mengisi hari dengan membaca meski harus perang dengan kantuk,dan kalah!

Bagaimana dengan persiapan Idul Fitri?
4 anak ini cuma pesan bickuit Monde dan es Cream buat dimakan setelah sholat Ied di Kebun Raya.
Mereka menyadari, itu pun sudah makanan mewah dan membuat malu jika melihat tayangan anak-anak Palestina di TV.
Semoga Allah melindungi, menghibur anak-anak suci itu dengan caraNya...

Tamu itu akan pulang...akankah kita bersua kembali? Umur yang akan menjawab!
















No comments:

Post a Comment