Wednesday, 30 July 2014

Plus Minus


Duluuu sekali... teman dari sahabat saya sering bertanya pada dirinya sendiri dan orang lain, kenapa ada perang? Kenapa banyak orang miskin?  Mengapa pemerintah gemar membohongi rakyat?
Perbincangan dengan siapapun pasti seputar masalah itu, hingga membuat teman- teman perlahan menjauh. Bagaimana tidak? Pemikiran orang lain selalu dibantahnya.
Hingga satu saat ia jadi aneh, sarafnya terganggu hanya karna terlalu idealis dan tak kuat menghadapi realita.

Berkaca dari itu, teman- teman jadi berhati- hati dalam mengolah fikir. Belajar Memilah mana yang masuk otak dan mana yang harus dilewatkan. Tak semua harus difikirkan, apalagi tak diiringi dengan  tindakan tentu akan terasa lebih berat lagi.

Cerita serupa datang lagi dari seorang sopir taxi.
Betapa tersiksanya dia dengan masalah ketidak adilan. Kenapa harus ada yang hidup sengsara, sementara yang lain kaya dan berfoya- foya?
Banyak protes pada ketimpangan, membuatnya akrab dengan minuman keras.

Satu saat ia kesulitan menyelesaikan tugasnya sebagai tehnisi perusahaan mobil. Mesin tak juga berbunyi, dicarinya sumber kesalahan dan ternyata salah pasang aki!
Hidayah turun seperti rejeki, kadang datang tak terduga dan tak dapat ditolak.
Berfikirlah dia bahwa hidup seperti aki, harus ada plus minus.
Pertentangan itu akan saling mengisi hingga menghasilkan sesuatu yang dahsyat!





No comments:

Post a Comment