Wednesday, 2 July 2014

I P E H


Ipeh  pendiam, sering berkeringat, rambut dan baju cepat lusuh, dan agak susah menyusul teman-temannya dalam pelajaran.
Tapi  mandiri, tak pernah menangis, atau minta ditunggui Ibunya seperti teman-teman lain.
Nampaknya ia bisa menerima, sang Ibu sudah ditunggu majikan dengan setumpuk pekerjaan rumah tangga.
Saat bermain ipeh banyak mengalah. Lugu dan lambannya bikin teman laki-laki berani merampas ayunan yang sedang ia naiki.

Memasuki SD Ipeh masih jadi anak binaan.
Kadang saya ingin dia cepat bisa menguasai pelajaran dengan tambahan les. Tapi kurang semangat, apalagi setelah Ibunya meninggal menyusul ayahnya.
Saya dan kepala sekolah hanya bisa memberi dorongan tanpa paksaan. asal bisa lulus SD sudah melegakan.
Maklum, sarana belajar tak memadai apalagi perhatian keluarga sangat minim.

Ipeh tinggal bersama kakak laki-laki yang sudah berumah tangga. Biaya keseharian dia yang tanggung  dari hasil ojek.
Kakak perempuan Ipeh yang duduk dikelas 2 SMP memutuskan berhenti sekolah. Ia lebih suka meneruskan pekerjaan ibunya.

Satu hari Ipeh datang dengan wajah sedih. Ia tunjukkan telapak tangan yang lecet dan  melenting karna alergi sabun.Rupanya Kakak ipar sering menyuruhnya mencuci banyak pakaian.

Agar Ipeh aman, nyaman belajar, sekaligus dapat pengawasan, saya bermaksud mendaftarkan Ipeh ke Pesantren yang dia suka.
Tapi sayang, kakak ipar tidak amanah, uang persiapan Ipeh ke Pesantren terpakai habis. Ia lebih suka Ipeh dirumah  mengasuh anak-anak balitanya.
Saya kecewa tapi harus terima, mereka punya hak atas Ipeh. Dan sejak itu tak pernah saya berurusan lagi dengan keluarga itu

4 tahun kemudian Ipeh muncul dengan dengan badan yang sudah tinggi, agak rapih, tak berkeringat.
Ia datang dengan wajah sedih lagi. Kali ini ia minta di carikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.
Sebelumnya ia terjebak, pekerjaan yang dijanjikan sebagai pelayan restoran makanan,ternyata melayani tamu hidung belang di restoran reman-remang.
Masih saya ingat mimik takutnya saat ia bercerita dipaksa minum oleh "tamu", membuat dia menangis memohon lalu pingsan. Alhamdulillah, dengan pingsannya itu Ipeh selamat dari laki-laki bejat, dan dikeluarkan dari pekerjaannya.

Tak lama dengan pekerjaan baru yang saya carikan, terdengar kabar Ipeh pergi begitu saja dari rumah majikan.
Saya pasrah, tak tau lagi apa yang Ipeh kerjakan. Sampai siang hari ini saya bertemu kakaknya di angkot memangku bayi perempuan umur 1 tahun.

-"Bu, Ipeh sudah lama nikah, ini keponakannya yang paling kecil. Semua kebutuhan sekolah dan sehari-hari keponakan ditanggung Ipeh semua. Ipeh enggak pernah lupa sama  ibu, dia rajin ngumpulin anak yatim bagi-bagi sedekah"

-"Alhamdulillah, saya senang dengar kabar Ipeh. Apa yang saya bagikan dulu itu titipan orang. Syukur kalau Ipeh bisa meneruskan membagi nikmat. Ipeh dapat orang mana?"

-"Dapetin orang Cina bu, boss pabrik sepatu ! Emang udah tua banget, tapi sayang sama Ipeh"

- "Tidak apa-apa, yang penting Ipeh sudah punya pelindung".

Tempat yang saya tuju sudah terlewat karna  ngobrol, tergesa turun lebih dulu, tapi sempat titip salam dan pesan buat Ipeh,agar semangat terus dalam berbagi.

Allah tunjukkan lagi buat saya bahwa manusia buta akan cerita hidup yang telah Allah atur.
Dan segala amal itu memanjang. Kita hanya bergerak di awal, Allah lah yang mengatur dan meneruskan. Seolah Allah bilang : " Aku cuma mau liat action hambaKu saja".
Terus terang, selalu punya keinginan untuk melaporkan hasil yang bagus untuk para donatur. Anak-anak itu sukses seperti yang kami bayangkan.Tapi jalan Allah terlalu banyak dan tak terpahami.

Terngiang kembali pesan saya disaat anak-anak semacam Ipeh dikumpulkan,
"Hari ini kalian menerima, tapi tanamkan dalam hati bahwa masa nanti kalianlah yang memberi"



No comments:

Post a Comment