Sunday, 13 July 2014

Pilih Pemimpin Yang Paling Dibenci


Waktu reporter Indonesia memegang peta dan bertanya "Dimana letak Indonesia?"
Penduduk US yang berseliweran ditempat umum itu tak satupun yang tau! mereka menunjuk benua Afrika, Australia,Inggris, bahkan US sendiri!

Indonesia enggak nge-top! tapi ramai-ramai pengusaha asing kesini mengeruk harta.
Freeport yang tak bisa mensejahterakan rakyat Papua tak terekspos, Newmont yang mencemarkan air sungai hingga ribuan penduduk berpenyakit dalam dan luar, tak terdengar penyelesaiannya.
Sample darah penderita flu burung yang dibawa keluar tanpa ada laporan balik sesuai perjanjia, tak ada yang berani mengusik, Menkes cuma mengeluh tak daya, segitu dia mentri lho!
Penggagas HAM, hamba HAM paling patuh, ternyata hanya untuk kepentingan mereka saja.

Indonesia tak boleh muncul dipermukaan, karna akan terkuak kerakusan mereka disini.
Indonesia diusahakan jangan nge-top, supaya mereka puas memonopoli semua.
Boleh sih, ngetop! tapi sebatas Wisata saja, itupun cuma Bali!

Hanya US dkk yang boleh  tau, bahwa emas banyak di Maluku.
Maka mereka usil, jail dengan pemilu kita. Sebab kepentingan mereka terlalu banyak disini.

Jadi...kalau saya ditanya, kamu pilih siapa?
Saya pilih pemimpin yang paling dibenci US dan Yahudi, itu saja!


JSC Sampaikan Indikator Keterlibatan Asing di Pilpres 2014
Sabtu, 12 Juli 2014, 15:50 WIB

Rakhmawaty La'lang/Republika
Ketua Divisi Advokasi Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), Simon Tambunan (tengah) melaporkan empat lembaga survei, yaitu Pusat Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Lebaga Survei Nasional (LSN), IndonesiaResearch Center (IRC), da
REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Jenderal Soedirman Center (JSC) menilai ada bentuk intervensi asing pada pelaksanaan pilpres 2014.
"Ditemukan adanya intervensi asing pada pilpres 2014. Antara lain keberpihaan media asing dalam pemberitaan kepada salah satu capres dan 'membunuh' capres lain dengan argumentasinya," kata Ketua Umum JSC Bugiakso di Sleman, Sabtu (12/7).
Menurut dia, bentuk intervensi juga dilakukan Dubes AS untuk Indonesia Robert Blake lewat tulisannya di "Wall Street Journal". Tulisan itu mendiskreditkan Prabowo Subianto.
"Selain itu, ada keterangan pers yang menyebutkan capres nomor urut dua sebagai pemenang pilpres 2014. Padahal, hasil pilpres itu baru akan diumumkan KPU pada 22 Juli, setelah menghitung semua perolehan suara," katanya.
Ia mengatakan diduga ada skenario terorganisasi untuk menggalang dukungan dalam menekan KPU. Khususnya terkait perhitungan dan penetapan pilpres 2014.
"Ada pembentukan opini jika Jokowi-JK pemenang meski dalam versi quick count. Hasil resmi pilpres baru diumumkan 22 Juli nanti, tapi sejak 9 Juli banyak media asing sudah memberitakan Jokowi-JK adalah pemenang," katanya.
Bugiakso mengatakan, beberapa pemberitaan media asing yang jadi bentuk intervensi yaitu ABC News Australia. Media ini memberitakan kalau Jokowi telah memenangkan pilpres dengan mewanwancara Director Roy Morgan, suatu lembaga survei yang menyatakan capres pasangan nomor urut 2 sebagai pemenang.
"Lembaga Roy Morgan sudah terbukti salah memprediksi hasil pileg lalu dengan mengatakan bahwa Jokowi effect akan membawa PDIP memenangkan 35 persen kursi di parlemen. Roy Morgan meleset 17 persen karena PDIP mendapat 18 persen parlemen.Kok bisa suatu lembaga polling sudah kelas dunia meleset 17 persen prediksinya," katanya.
Terkait intervensi yang dilakukan Dubes AS, ujarnya, Menlu Marty Natalagawa sudah menegur yang bersangkutan.
"Dubes Amerika Robert Blake sudah melanggar kode etik diplomasi dengan melakukan campur tangan dalam pilpres 2014. Kami tidak mempermasalahkan siapa pemenangnya, tapi bentuk-bentuk intervensi asing ini yang mengusik hati kami," katanya.

Redaktur:Mansyur Faqih
Sumber:antara
BERITA TERKA

No comments:

Post a Comment