Thursday, 10 July 2014

Sahabat Penolong

** Tulisan untuk Antologi Dompet Dhuafa


Cucun teman sebangku, sangat pandai meski cerewet. Kami akrab karna dia bukan hanya teman Sekolah Tsanawiah (SMP) saja, tapi juga teman les menari selama 3 tahun.
Cuma Cucun yang mau mengingatkan kala saya salah.

Satu sore kami kehausan setelah latihan menari, Cucun mengajak saya minum es syrup di gubug kecil beratap daun kelapa di sisi jalan raya, lumayan jauh dari Sanggar tari.
Ibu penjualnya baik dan ramah, dibukanya semua koran penutup gorengan, lalu menyuruh mengambil apa yang saya suka.
Seorang kakek duduk tak jauh dari situ. Sedikit acuh, serius menulis angka-angka lotere sambil sesekali batuk. Dibelakang tubuhnya yang kurus sedikit bungkuk terpampang tulisan besar  LOTRE NANO, LOTTO,HWA HWE. Meja kecilnya banyak kertas bergambar macam-macam binatang dengan nomor kode masing-masing.

Sambil menyiapkan es, Ibu penjual  banyak bertanya dari nama sampai alamat. Tapi Cucunlah yang cepat menjawab.Beberapa saat baru saya sadar, mereka adalah orang tua Cucun.

Hingga hari berikutnya, mampir ke warung jadi kebiasaan, tapi saya tak mau gratis lagi.
Bila guru les menari berhalangan mengajar, pasti main di warung menemani cucun melayani pembeli sementara ibunya  pulang  beristirahat.

***

Tak seperti biasanya, Cucun yang ceria saya dapati bermata bengkak. Tak mau bicara dan sering menghindar, mungkin tak mau ditanya.
Di akhir waktu belajar ia menelungkupkan wajahnya disisi meja, terdengar halus isakannya.
Ujung kerudung putihnya bergetar, sesekali ia menyeka hidung dengan sapu tangan laki-laki berwarna biru.


Tak ada yang memperhatikan, teman-teman berhamburan keluar kelas, karna harus bergerombol lagi di pinggir jalan berebutan Oplet.
Di kelas yang sepi itulah, saat kami tinggal berdua, Cucun dengan sedih bilang bahwa bapaknya menyuruh berhenti sekolah. Ia tak mampu lagi membayar SPP sekolah dan ongkos harian, karna penghasilannya hanya cukup untuk makan dan sewa rumah.
Saya amat terpukul, karna tau Cucun punya cita-cita tinggi, ingin mengeluarkan keluarganya dari kemiskinan, membawa bapaknya berobat rutin dan  yang utama adalah menghentikan pekerjaan haram bapaknya.


Saya hanya terdiam sedih, tak tau bagaimana  membesarkan hatinya.
Menyakitkan, tak mampu membantu orang yang banyak membahagiakan  kita, lalu membayangkan
teman-teman pegang buku sementara ia pegang pisau runcing membelah es.

Hari-hari  terasa kurang tanpa Cucun . Bila namanya disebut saat absen, saya tak mau memberi keterangan. Meski tak hadir, Ia tak boleh malu.
Untung masih tersisa kesempatan, Seminggu dua kali kami bisa bertemu di Sanggar Tari yang  membebaskan cucun dari iuran.

Tak sanggup berlama-lama, saya ceritakan semua ke Ibu. Hati kecil berharap siapa tau ia mau membantu.
Nyatanya tidak! Ibu cuma bilang, "Alhamdulillah... Ibu senang,anak ibu mau memperhatikan nasib orang lain".
Hahh? segitu doang? kenapa ibu tidak tergerak membayarkan hutang SPP cucun?

Pertanyaan itu terjawab keesokan paginya. Seusai menghabiskan sarapan,bapak memanggil.
"Nak,tolong nanti sore antarkan kami ke rumah Cucun"

Sore berbahagia Itulah saat pertama kalinya saya melihat rumah sewaan keluarga Cucun setelah kami singgah di warung. Rumah gerdek berisi 1 tempat tidur besar untuk mereka bertiga. Sedikit sisa ruang hanya untuk meletakkan lemari kecil dan kompor. Dekat pintu masuk bersandar sepeda tua.

Entah perasaan apa namanya, bahagia, haru, harapan bercampur jadi satu. Melihat kedua orang tua kami berkumpul. Dari jarak agak jauh terlihat Bapak dan Ibu Cucun menangis, entah apa yang Bapak katakan.
Saya dan Cucun kompak rasa, belagak tak lihat pemandangan yang mengiris.

Dalam perjalanan pulang, gantian bapak dan ibu yang sedih, melamun masing-masing. Mungkin prihatin dengan keadaan Cucun.
Tapi wajah mereka berubah gembira saat saya menanyakan pembicaraan mereka tadi.
Cucun akan dipindahkan  ke sekolah yang bapak pimpin, bebas dari segala biaya hingga lulus SMA.
Wahhh!! batu besar terangkat dari dada saya. Tak sebangku lagi dengan Cucun tak apa,asalkan dia punya tempat yang semoga akan membawanya memetik cita.

****

SMA yang sarat tugas, membuat kami tak lagi aktif di sanggar.
Sesekali bertemu melepas rindu saat ia dan ibunya datang berkunjung kerumah membawa gorengan, atau lauk yang dibuat sendiri. Selalu begitu meski Ibu memohon untuk tidak repot jika mau datang.

Lolos SMA cucun mendapat apa yang ia inginkan. Sementara saya berkubang dalam kesedihan.
Fakultas musik IKIP yang saya idamkan ternyata hanya sebatas angan. Tak ada nama saya di Koran Sipenmaru (Pengumuman kelulusan Universitas Negeri).
Hari-hari terlewati dengan tangis sesal. Masuk Perguruan Tinggi swasta sangat mahal.
Tak sampai hati memberi beban untuk orang tua yang harus membiayai lagi 4 adik.

Namun disaat duka itulah,saya dapati uluran tangan Allah, sungguh diluar dugaan!
Oom saya menawarkan Beasiswa Rektor Perguruan Tinggi Swasta ternama dan termahal.
Jatah itu ia dapat karna jasanya pada Pimpinan Yayasan yang berkedudukan setara menteri di Dewan Pertimbangan Agung saat itu.

Meski kecil, perbuatan selalu berbuah. Saya merasa tak menolong apa-apa. Memberi informasi tentang Cucun rasanya hanya sekelebat lalu terlupa. Namun Allah tak pernah lupa.
Keluarga Cucun selalu merasa kami yang menolong, padahal mereka yang membuka jalan pertolongan Allah untuk keluarga kami.



No comments:

Post a Comment