Sunday, 6 July 2014

Semoga Mengerti


Berawal dari ketidak sengajaan.
Waktu itu saya belanja ke warung tapi sepi... berkali dipanggil tapi Bu Ita pemilik warung  tak muncul-muncul juga.
Pergilah saya kerumahnya yang tak jauh dari warung.
Masya Allah! disana saya kaget dan terenyuh. Bu Ita duduk dilantai menangisi anaknya yang megap-megap sakratul maut. disekelilingnya hanya ada 4 orang ibu kira-kira.

Dengan sedih dan perasaan menyesal sudah memanggil-manggil tadi, sayapun menyalami beliau dan ikut duduk.
Anak laki-laki umur 7 tahun yang baru pertama kali saya liat itu berbadan kecil kurus lunglai.
Bertahun sejak saya pindah ke daerah sini, tak sekalipun melihat anak itu dibawa keluar rumah walau cuma duduk di beranda.

Subhanallah, wajahnya bagus, kulit halus terang, rambut hitam legam seperti warna alisnya.
Nafasnya hanya sesekali tanpa kepayahan. Hanya mata beningnya yang terus menatap ibunya dengan wajah sedih, bikin hati saya teriris. Ruapanya sejak bayi ia terkena polio menyusul kanker otak.

Tak ada ratapan keluar dari mulut bu Ita, air matanya  mengucur deras dengan  tangis yang berusaha  ditekan. Ia hanya memohon berulang-ulang "Tolong Bu...tolong anak saya, Bu...!"

Hati siapa yang tak  tambah terenyuh? Sebagai Ibu pasti dapat merasakan dukanya. Tapi apa yang bisa saya perbuat?
Dalam keadaan seperti itu siapapun pasti akan khusyu mendoakan yang terbaik buat anak itu.
Tulus dan berniat sekedar ikhtiar, saya bacakan doa pada segelas air putih yang ada disisi pembaringannya karna teringat contoh Rasulullah setiap beliau menjenguk orang sakit.

Apapun tak akan  ada tanpa izin Allah, meski lepasnya daun dari dahan. Ajal tak bisa dipercepat atau diperlambat sedetikpun.
Setelah saya beri minum dengan sendok sedikit-sedikit, mengusap wajah dengan sisa air, dan membisikkan talkin berulang ulang, nafasnya seperti tenangnya air mengalir dari teko, pelan...pelan...makin halus keluarnya, mata tertutup lembut. Kucuran air makin kecil lalu tak bersisa.
Menangislah sang ibu! Berat, tapi ikhlas karna terlalu lama melihat anak dalam keadaan sakit.

Sejak kejadian itu, beberapa kali warga mendatangi saya setiap ada yang sakarat.
Berulang kali pula saya jelaskan bahwa itu bukan satu "keahlian". Doa yang paling baik adalah doa dari orang tua dan anak sendiri. Insya Allah makbul.

Saya tak mau dikenal seperti itu. Jika saya datang dan mendoakan memang sudah seharusnya sesama muslim.
Siapapun yang hadir saat seseorang sakaratul maut, wajib membantu mantalkinkan.
Kebanyakan orang membaca Quran saja. Memang amal yang baik dan perlu, sudah janji Allah bahwa hati akan tenang bila lantunan ayat diperdengarkan, namun jangan lupa yang inti !

Semoga warga desa itu mendapat guru ngaji yang betul-betul faham Sunnah.
Agar mereka tak datang lagi memohon bantuan seperti  sore ini.










No comments:

Post a Comment