Friday, 22 August 2014

Indonesia Di Mata Lea Dan Nadya


Foto


"Mamong" (Mama)...
Saya tidak suka Paris! Saya tak mau kembali ke Paris..!"
Begitu kata Lea keponakan saya, sementara mamanya terus sibuk packing.

Sang Adikpun turut merengek

Saya cinta Indonesia,Mamong!  Disini saudara-saudaramu banyak. Kenapa kami tidak banyak saudara di Paris? Kenapa Mamong tidak kawin saja dengan orang Indonesia?

Waduuh! sampe segitunya ya..
Lucu campur sedih  melihat dua anak usia SD ini merengek, berat harus bertemu lagi dengan peraturan sekolah yang ketat seharian, banyak PR,waktu luang sedikit, dan semua serba tergesa-gesa di negri romantis itu..

Menjelang boarding , bercanda dengan sepupu-sepupu harus terhenti,  kesal mereka  melihatpara  pramugari berseragam sudah datang beriringan menuju antrian.

Saat bersalaman dan beri cium,dua gadis kecil itu cuma terdiam, keceriaan  pudar tapi berusaha terlihat wajar.Wah mental bule memang beda,tdk mudah gerimis!
Begitu di gerbang pintu masuk, si kakak yang pendiam mengatakan sesuatu. dan seperti biasa mama nya
yang jadi saritilawah.

"Lea bilang, matanya seperti kelilipan sesuatu"  

Mungkin  mendung enggan jadi hujan .
Hujan deras  malah dimata dan hati kami , menatap gerak langkah Ibu dan 2 anak itu  dari balik kaca.

Teringat bagaimana mereka sibuk menunggu tikus keluar dari got, sementara kueh sisa makanan buka puasa,dan handycam  menunggu di pintu lubang. Atau serius mendengar suara tokek sampai akhir, suara petir Bogor yang susul menyusul gelegarnya, bikin takut tapi takjub. Gembira melihat Pasar Bogor menjual bebas binatang piaraan dipinggir jalan. Gembira membagi amplop untuk dhuafa saat lebaran dan lain-lain.

Keesokan pagi, kami terima sms dari Hongkong tempat transit. Sepanjang perjalanan mereka tak mau makan sampai Pramugari turut membujuk. Rupanya hujan pecah disana terus menerus.
Gambar  yang terkirim keduanya sedang berselimut dengan tangan melambai lemah tanpa senyum.

Lea dan Nadya menyadarkan saya bahwa Indonesia memiliki segala.
Kekayaan alam, keaneka ragaman hayati hewani, ragam kuliner,tak usah diurai lagi. Semua tau dan  mudah terlihat .
Namun kekayaan batin hanya bisa dirasa.
Lihat saja, meski sulit, repot, mahal, tetap saja berduyun-duyun orang kembali ke desa menjelang Lebaran,
tak mungkin seperti itu bila batinnya kering.

3 comments:

  1. baca ini jadi sedih mbk,apalagi mereka ya..mungkin sudha sangat senang tinggal di Indonesia ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mak, sejauh apapun mereka pergi semoga hatinya tetap hati asia ...:)

      Delete
  2. aku sangat benci perpisahan, Mak... tapi justru saat kita bisa tabah, itulah yang membuat kita semakin kuat untuk melanjutkan setiap episode yang sudah menanti di depan kita

    ReplyDelete