Thursday, 18 September 2014

Ciloto Jaman Dulu






Puncak Ciloto sudah banyak atap rumah sekarang
Dulu kami datang masih seperti padang luas diantara rimbunnya kebun teh.
Dari kejauhan, di sela cemara puncak pass, hanya terlihat atap panjang  1 villa sebuah Departemen yang masih ada hingga kini.

Tiba disana malam hari dengan sambutan rintik hujan.
Kami keluarga guru dalam 2 bis rombongan, berjalan perlahan di jalan mendaki.
Karna terlalu terjal, bis tak mampu naik, berteduhlah kami di satu warung kopi. cuma 1!
Bukan warung berderet yang baratap plastik menyolok perusak pemandangan dan  lingkungan seperti sekarang.

"Kita tunggu disini dulu,Nak...Bapak bawa perlengkapan kita lebih dulu" Kata ibu

Dan benar! Bapak datang kembali dengan baju setengah basah. langsung menggendong adik .
Suara kodok di kiri kanan jalan tak membuat takut, karna rombongan berjalanan bersama.
Dingin menggigit...  nafas seperti keluar berasap dari hidung.
Anak-anak bayi yang digendong ibunya masih lelap tidur sejak di Bis

Ciloto baru terlihat wajahnya
setelah pagi benderang, dan halimun pergi.
Dingin tak lagi menggigit, sebab pelayan villa terus-terusan menyediakan makanan dan minuman hangat.

Piringan Hitam Degung Sunda yang bapak putar, langsung nyaman ditelinga, padahal belum tau apa-apa tentang musik.
Suara suling, kecapi, memang sudah diciptakan pas dengan sawah, kebun teh, cemara, liukan air di kaki gunung yang membentang jelas di depan jendela kamar kami.







Sumber Gambar Di Sini






Sumber Gambar


6 comments:

  1. Replies
    1. Ayo kesana Mak...nggak jauh dari tempat tinggal saya. Nanti mampir yaaa...:)

      Delete
  2. baru sekali aku pergi ke Bandung Mak... pengen banget bisa kesana lagi... kalo dulu sama2 temen kuliah, sekarang sama keluarga tercinta tentunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang panoramanya mirip Kebun teh Bandung, tapi ini di Bogor,Mak...Insya Allah bisa terlaksana yaa., pasti beda sensasinya kalau sama keluarga tercinta...:)

      Delete
  3. Kayaknya terkena syndrome gagal move on nih hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...bener bangeet! masih demen sama yang jadul-jadul :)

      Delete