Monday, 1 September 2014

Kode Etik Bloger, Perlukah?


   om-ragils.blogspot.com                                                  


Ternyata  ada hikmah besar dari kasus cuap-cuap Florence mahasiswi S2-UGM di twiitnya.
Setiap kata yang keluar pasti punya efek besar.
** Hhmm...ini masih di bumi! bagaimana dengan kata-kata kita yang tercatat di buku Malaikat?

Teramat bebas seorang pengguna medsos mengungkapkan fikiran dan perasaanya. Jemari bebas lincah paparkan segala ide, opini, unek-unek kekesalan, kesedihan sampai cita yang masih jadi gambar.

Jika kasus florence membuat penduduk asli Jogja berang dengan tulisannya hingga masuk ranah hukum, jelas resiko sudah bisa di prediksi, kena pasal  undang-undang ITE!

Lalu, bagaimana dengan blog?
Apakah bloger sama dengan jurnalis yang punya Undang-undang?
Konon masalah itu belum ada penyelesaiannya.
Lihat saja, tak sedikit blog-blog yang berani  menghina agama/suku  lain.
Bila kita terlanjur membaca, paling bisanya menyalahi diri sendiri, kenapa mau masuk kesitu?

Konon di Amerika pun belum pernah ada otoritas yang mampu memproduksi kode etik blog dan disepakati para bloger sebagai pegangan. (*entah kalau sekarang ini?)

Kalau saya bilang sih, sambil menunggu produk itu resmi terbit, kita ingatkan saja diri sendiri agar berhati-hati, jujur, seimbang dan  tak semena-mena dalam menulis.

Memang tak sekuat Undang-undang ITE yang berakibat hukum, namun  Kode etik  perlu, supaya Bloger terlindung.
Jarar Siagian bilang : "Mafia saja punya kode etik, masak bloger tak punya?"

Akhirnya, seperti tertulis disini...
masing-masing bloger punya ide  dalam penyusunanya. Baguslah! walaupun masih terbawa angin.













2 comments:

  1. Hehe, dengan adanya kode etik aja masih banyak pelanggaran ya, apalagi tanpa kode etik..

    ReplyDelete
  2. Hehe..semoga ada yang mau menyusunnya ya, supaya pengalaman saya pernah melanggar tak terulang lagi :)

    ReplyDelete