Tuesday, 23 September 2014

Menikmati Sekolah SD Di Gedung Belanda


Tulisan ini untuk lomba "Sekolah Impian"



     Sumber Gambar : J Wolters




Saya merasa beruntung bisa mengalami Sekolah  dengan fasilitas dan Sistim Sekolah peninggalan Belanda.
Orang-orang menyebutnya SD BALUEL, bahasa Belanda yang saya tak tau artinya.

Gedung tua dekat Pasar tradisionil  (Pasar Enjok),Jatinegara-Jakarta Timur itu, bergaya Eropa. Kokoh, fentilasi lebar-lebar dari bahan besi tempa, Pintu dan jendela berat karna dari kayu jati asli warna pekat. Jangan coba-coba bermain dengan mendorong pintu, kalau terjepit bisa bengkak dan sakitnya luar biasa!

Plafon yang tinggi, bikin ruang jadi sejuk alami walau kelas di tempati banyak murid.
Meja dan bangku jati tak bisa bergeser. Selain berat meja dan kursi didisain menyatu agar tetap rapih.
Permukaan meja miring, memudahkan kita menulis dengan sikap tubuh yang benar. Bagian tengah atas ada lubang kecil tempat siswa jaman dulu menaruh botol tinta.

Gedung sekolah mengelilingi 1 lapangan terbuka dan 1 bangsaal  (Hall) . Keduanya untuk sarana olah raga dan upacara. Jadi tak ada alasan untuk tidak upacara kala hujan.

Hari-hari Spesial

Pemerintah kala itu sangat memperhatikan kesehatan siswa. Setiap hari Senin dan Jumat kami diwajibkan membawa termos kosong. Nanti bila jam belajar usai, kami mengantri di kantin untuk ambil jatah susu. Segelas diminum di tempat, dan sebagian diisi di termos untuk dibawa pulang.
Susu sapi segar itu di harap bisa juga menyehatkan adik atau kakak kami dirumah.

Tak cuma itu, di pintu keluar sudah menanti petugas yang membagi-bagikan sagon sarat gizi.
Hihihi...kadang kami memakannya sambil ngobrol dan tertawa di jalan, sebab akan  membuat semburan ke wajah teman.

Hari Sabtu adalah hari yang membuat beberapa murid deg-degan.
Karna suster akan keliling kelas memanggil nama-nama siswa yang sudah terdata giginya bolong.
Kala teman-teman yang bergigi sehat pulang, kami duduk antri di klinik.
Ada beberapa orang yang  perlu bujukan Ibu dokter.

Untuk menjaga siswa dari penyakit cacingan, seminggu sekali kuku-kuku di periksa, dan minum obat cacing bersama-sama setahun sekali

Terbiasa Disiplin

Buku-buku kami selalu diperiksa kebersihannya, dan harus tetap tersampul rapih
Posisi menulispun amat diperhatikan. Pantang bagi guru bila melihat siswa menulis dengan badan terlalu tunduk, posisi buku miring, atau membaca terlalu dekat.

Jelang pulang sekolah, semua bergerak memeriksa laci-laci meja agar tak ada yang tertinggal, membuang sampah-sampah yang berceceran, dan merapihkan dasi,seragam,hingga kaos kaki.

Sering Lomba

Selain lomba olah raga, ada lomba sederhana, namun membuahkan kekompakan, semangat, dan kreativitas.
Misalnya lomba menghias kelas dengan karya siswa dan lomba menghias taman.
Untuk lomba taman hanya diikuti oleh siswa kelas 6.

Dari sumbangan pohon yang dibawa dari rumah, terbentuklah taman mini cantik di setiap halaman kelas. Ada yang kreatif membuat papan warna-warni bertuliskan istilah ilmu biologi, itu mempermudah siswa mengahafal meski sambil bermain.
Dan ada kata-kata bijak yang membangkitkan semangat belajar dan bercita-cita.


Kegiatan Eskul

Pramuka adalah kegiatan yang paling banyak digemari. Terlihat perbedaan yang sangat jauh antara kegiatan kelompok Siaga dan Penggalang.
Kaya akan permainan dan tantangan yang dilakukan didalam ruang maupun alam bebas.
Ilmu main sulap pun diajarkan, agar siswa terlatih percaya diri, berani tampil didepan, dan memberikan sesuatu dari ilmunya.

Sesuatu yang tak didapat sekarang ini. Hingga banyak siswa yang mudah patah semangat di jalan, atau tak punya sama sekali setelah di jatuhkan kepercayaan dirinya didalam keluarga.

Pilihan eskul lain adalah Seni Tari.
Kelembutan seni akan melatih kepekaan dan kelembutan. Beda dengan kegiatan Pramuka yang cenderung melatih siswa untuk survive.
Kesenian tari dan lagu daerah bukan sekedar diatas kertas atau buku.
Denga adanya eskul ini kami jadi tau lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia. Beda dengan siswa zaman kini yang minim sekali pengetahuan kedaerahannya.


Impian Sederhana

Bagi saya masa Sekolah Dasar adalah masa penanaman awal untuk pendidikan disiplin.
Kegiatan eskul mengasah bakat, rasa percaya diri, dan terolah kepekaan rasa, apalagi bisa dilakukan bersama-sama. Sangat beda dengan siswa sekarang yang terlalu selfish.

Materi dan tugas yang terlalu banyak untuk usia SD akan membuat mereka hanya berfikir pada nilai.
Ada yang lebih penting dari itu, yaitu pembentukan karakter. lewat apa yang mereka suka.
Semoga saja pemerintah faham dan tak segan untuk membuat perubahan dalam sistem.
Kesehatan siswa juga diperhatikan dengan membuat peraturan tegas, tak ada tukang jajanan di sekolah-sekolah.
Lebih senang lagi kalau sekolah punya klinik gigi seperi dulu. Bukankah perawatan gigi amat murah di Puskesmas? Orang tua akan terbantu bila fasilitas itu ada.

Apakah hanya jadi impian? semoga tidak....




10 comments:

  1. Aku paling enggak bisa disiplin :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...saamma. Mungkin yang hobby nulis suka begitu ya, pengennya bebas, g suka sama yang monoton...:)

      Delete
  2. sekolahku dulu biasa,masih bangunan ala kadarnya,tapi pas ngajar di malang,pernah ngawas UN tahun 2010 ditempatin di SMPK yg bangunan sekolahnya bener2 BElanda bangettt bangunannya,terawat dan keren pokoknya ^^
    semoga mbk...

    ReplyDelete
  3. O, Di Malang masiih banyak bangunan tua nya? Seneng yaa...memang beda bangunan jadul. Lebih kuat dan nggak ngebosenin. Semoga jangan seperti di Bogor, makain lama makin banyak yang dirubah jadi Outlet dg gaya minimalis. :(

    ReplyDelete
  4. Ibu SD Baluel angkatan berapa? Saya angkatan 92-93 SDN 03 Pagi. Salam kenal ya Bu

    ReplyDelete
  5. Salam kenal Fok Kie :) senang bisa bertemu alumni sekolah Baluel di ruang ini.Saya angkatan tahun 70.Kalau dulu belum menggunakan angka spt 03.Hanya Baluel pagi atau Petang saja.Terimakasih sudah memberi koment.

    ReplyDelete
  6. Cagub dki lulusan sd baluel juga ya

    ReplyDelete
  7. Wahh... Semoga masih tersisa interior lamanya di tahun itu.

    ReplyDelete