Friday, 26 September 2014

Oleh-oleh Dari Acara Mimpi Properti


Launching Mimpi Properti ini dimeriahkan oleh lomba sepeda, foto dan bloging. Hadiah nya keren-keren!
Peserta lomba sepeda yang kebanyakan sudah sepuh itu  sumringah, langsung ambil hadiah sepeda impian di atas pentas.

Bazaar kuliner memang tak banyak tapi sangat membantu peserta Talkshow yang laperr!
Ada 2 talkshow, mengenai photography dan bloger. Keduanya disenangi oleh penulis-penulis yang ingin lengkap /sempurna sajian karyanya.

Bang Edward Tigor, senior photography di majalah SWA, memberikan ilmu nya dalam waktu yang padat.

Intinya:

- Memotret itu dengan Mata, Fikiran dan Hati
Seperti menulis juga, kalau menulis dari hati, sampainya ke hati pembaca juga

- 1 foto yang sukses dibuntuti oelh 100 foto yang gagal, jadi jangan patah semangat!

- Soal ukuran, pencahayaan, kecepatan tak bisa diurai dengan cepat. Perlu waktu panjang.
Tapi yang penting adalah mencoba...dan terus mencoba!

Jangan memotret apa adanya, buatlah foto biasa menjadi luar biasa!

Seorang fotographer paling tidak punya 20 frame perhari. Mau mencoba memotret dalam keadaan panas, hujan, gelap, terang, jauh, detail, benda diam, benda bergerak, dll
Persiapkan  fitur dan explornya sebelum memulai foto.

Pencahayaan bisa dari 2 sisi. Dari kiri maupun kanan.  Flash tak selamanya untuk indoor. Diluar (Outdoor pun) kadang hasil foto bisa jadi "Under" (gelap).

Kebanyakan orang memperhatikan fokus pada ruang segi empat. Padahal akan jadi manis bila ia bisa ambil di salah satu sudut-sudutnya saja. Entah kanan bawah, kira atas atau lainnya. Agar yang melihat tidak  bosan. Dicoba saja!

Andai menemui pemandangan laut atau gunung, baiknya ukuran linear langit 1/3, kaki langit 2/3.
Dan fokuslah dalam mengambil gambar. Bertanya pada diri sendiri yang mau ditonjolkan, apanya?
Jangan sampai bermasud ambil gambar interior dengan model perempuan, malah foto cenderung ke modelnya. Akhirnya tak kena sasaran. Ambil gambar perempuan kecil/exidentil saja.

Memotret bisa berbentuk bayangan, kreasi, atau bendanya ada.
Memotret tak harus full/parsial.
Lalu... jadikanlah foto anda mampu berbicara!

Hhhhmmm kalau dapet ilmu begini kayaknya motret itu luaaaas banget! Sampai takut untuk mencoba.
Tapi kalau saya ingat lagi kisah gadis miskin di Bali ( Ni Wayan Mertiayani)  yang mendapatkan penghargaan dari kerajaan Belanda. Memotret kok mudah sekali.
Ia hanya memotret ayam yang bertengger diatas jemurannya, cuma itu!
Akhirnya gadis tersebut bisa merasakan  enaknya naik pesawat, sambutan, pelayanan dan penghargaan. Padahal kameranya cuma kamera poket, pinjam pula dari teman.
Beritanya di sini

Mungkin itu yang dibilang memotret dari hati yaa...
Walau belum sejeli Ni Wayan dalam melihat objek, paling tidak saya mencoba ambil gambar bangunan baru Taman Ismail Marjuki untuk memeriahkan lomba.

Belum klik di hati!
karna harus sesuai dg tema nya "Properti", ambil gambar bangunan yang kaku ini.
Hihi tapi mencoba itu penting, kan?



Ini yang namanya Bang Edward Tigor




Cuplikan Acara  *tanpa foto acara Band.











No comments:

Post a Comment