Tuesday, 2 September 2014

2 Cangkir Teh Hangat



Saya dan Bapak duduk diteras rumah beliau. Diujung sore itu bapak banyak bertanya tentang hangatnya suhu politik akhir-akhir ini.
Antusias beliau mendengar sebab kini sudah malas membaca atau menonton berita-berita politik.

Perjuangan dan persaingan Capres no 1 dan 2 dan komentar-komentar ahli sampai komentar di warung-warung, masih saja ramai meski pengesahan presiden sudah diumumkan hakim konstitusi.

Melihat politik sekarang, jadi membandingkan dengan yang lampau.
Bapak Soekarno berseberangan dengan perdana mentrinya  Syahrir, Agus Salim, Natsir dan Bung Hatta sendiri sahabat lekatnya. Namun tak pernah ada rasa benci. pertentangan politik masih dianggap perbedaan pandang semata, bukan perbedaan tak-tik ingin menguasai satu sama lain.

Perbedaan pandang juga  telah menjauhkan Mantan presiden RI Bapak Soeharto dengan Ir.Habibi, sampai-sampai beliau tak mau dijenguk di rumah sakit hingga wafatnya.
Konon Gus Dur pun merasa dihianati oleh Poros Tengah yang di gerakkan oleh Amin Rais. Selanjutnya Megawati merasa dihianati oleh menterinya ( SBY) yang mengajukan diri jadi Presiden. Presiden perempuan begitu yaa.. tak bisa menyimpan perasaan kecewanya didepan umum sekalipun. Hehehe mungkin itu yang menyebabkan Allah melarang pemimpin perempuan kalau nggak kepepet-kepepet banget!

Perbandingan Indonesia dengan gejolak-gejolak politik di belahan bumi lain dengan lancar Bapak paparkan. Saya yang kurang ilmu hidup ini tentu merasa  dikelilingi oleh berbagai intrik politik kekuasaan dan kepentingan. Hadeeehhh!!

Diujung percakapan Bapak baru menyelesaikannya dengan penutup yang singkat namun manis diingat.

"Ini cuma permainan dunia, jangan dimasukkan dalam hati. Satu pertanda bahwa manusia cuma punya keinginan, namun ahirnya Allah juga yang menentukan. Sebaik-baik makar manusia, makar Allah lebih dahsyat!! Allah dan manusia sama-sama menunggu. cuma itu!"

Sore yang indah...  teh hangat, kedewasaan berfikir, dan pasrah...






2 comments:

  1. Saya suka dengan kalimat penutup dari bapak.. :) Terus terang saya lelah dengan semua intrik politik yg semakin kentara dan minim etika kebahasaan. Mau komentar nanti disangka lawan, mau diam saja kok ya ga rela kalau teman saya jadi minus etika bahasanya :(. Bingung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...Mbak sangat mewakili deh... saya pun sudah capek! :)

      Delete