Wednesday, 3 September 2014

Cernak : Sepatu Lebaran...



PR Kelas Menulis Cerita Anak. 
Hehehe...bingung! bagaimana kembali ke alam fikir anak-anak? sulit!
Tapi asyik! Walau cuma imajinasi, mampu mengembalikan saya ke masa-masa indah dulu..







"Ayo Nak... cepat! mana yang kamu mau?"

Aduh! Suara ibu bikin aku tambah kalut, tergesa memilih. Tak ada lagi kesempatan. Ini malam takbiran. Kata Ibu uang lebaran dari kantor bapak baru diberi kemarin.

Toko well well diujung pasar Jatinegara itu padat sesak. Sepatu-sepatu tanpa pasangan bertebaran.
Si Encik toko suaranya sudah serak berhari-hari kasih intruksi pegawainya yang bertugas cari nomor sepatu yang di minta. Sahutan pegawai kecil terdengar diantara tumpukan kotak sepatu diatas plafon.

"Nih bu! yang ini saja deh!"  kutunjukkan sepatu tali warna coklat bertali yang paling kusuka.
Aku kasihan liat muka ibu di kaca toko. Ibu terlihat capek! pulang dari toko harus masak pula!

"Cik, minta 1 nomor dibawah nomor ini,ya!" Kata Ibu dengan suara tak sesemangat waktu masuk toko.

"Maaf Bu, yang model itu tinggal 1 nomor. Yang lain saja ya..!"

Hik! aku kecewa, tapi tak ada lagi yang aku suka. Ibu memandang penuh arti, seolah memaksaku menentukan pilihan lain dalam waktu cepat!
Aku kasihan pada Ibu, akhirnya dengan sangat-sangat terpaksa kubiarkan ibu memilih. Aku mengangguk meski terbayang terus pilihanku.
Ibu tak boleh tau, aku tak suka! 

Di perjalanan pulang, ibu tertidur di dalam angkot.
Aku sayang Ibu, dan kasihan pada bapak yang tak punya baju dan sepatu lebaran.
Bapak dan ibu tiap lebaran hanya memakai baju batik yang sering dipakainya saat resepsi perkawinan saudara.
Aku merasa menyesal menyusahkan mereka... dan mensyukuri sepatu yang tengah kupangku. 





***Penilaian Bu Guru :

Aku sayang Ibu....sampai dengan perkwinan saudara+++ dihilangkan saja! berlebihan katanya.
 Sip!


SukaSuka · 

Pagi Harinya...

"Tya... Tya!"  Suara teman-temanku memanggil, tapi mataku masih ngantuk.
"Tya, ayoo... bangun dong!  teman-teman sudah dateng tuh!"
Kata Ibu sambil sibuk mempersiapkan perlengkapan sholat kami.
"Tungguin yaa.." Kataku sambil bergegas masuk kamar mandi.
Dari kamar mandi terdengar suara teman-teman di teras, bertambah lagi jumlahnya.

Sesaat kemudian baju baru jahitan ibu pun  ku kenakan, makin bagus lagi kelihatannya setelah lengkap dengan sepatu baruku. 
Malu-malu ku berjalan perlahan melewati ruang tamu. Wajah teman-teman nampak  menanti seperti apa penampilan lebaranku.

"Iiih...Tya! Sepatu nya bagus bangeet ! lucu, ada kupu-kupunya!" kata Meta.
Sementara mata-mata yang  lain ikut mengagumi.

Lho, kenapa teman-teman memuji sepatuku pertama kali? bukan bajuku?
Ternyataaa... mereka mengenakan sepatu yang hampir sama modelnya. Sepatu coklat bertali yang sedang digandrungi, sepatu pilihanku kemarin.

"Eh, kalian sholat Ied, nggak?" Tanyaku
"Sholat dooong, tapi mukenanya sudah di taruh di lapangan! Kita main di taman yuk! sambil tunggu waktu sholat"
Aku pun kembali kedalam rumah mengambil mukena dan Ibu mengizinkan aku bermain sebelum sholat.

Taman yang indah dan hatiku yang bertambah senang. Karna sahabatku Shinta mendekat lalu bilang:  "Tya, kamu beli sepatu itu dimana?"

*Penilaian Bu Guru: "Eh.kalian sholat ied hingga selesai, harus di hapus.
Karna guru akan mengirimkan lagi gambar baru untuk ide cerita selanjutnya. Sip! dikit lagi ending.
Kayak apa gambarnya yaa...?"





"Yuk, kita main ! kan waktu sholat masih lama" Kata Rena sambil menggamit tanganku.
"Yuk! tapi aku bilang ibu dulu ya!"

Setelah dapat izin kami setengah berlari menuju sisi lapangan yang tak jauh dari rumah.
Disana sudah ada teman yang lain dengan adik-adik mereka.
Ada kursi kayu dibawah pohon, teman-teman berebut duduk disitu. kecuali aku dan Rena.
Saat itulah Rena bertanya,

 "Tya, kamu beli sepatu itu dimana?"
"Di Pasar Jatinegara"
"Aku mau minta ke Mama akh, biar dibelikan juga"
"Tapi, mamaku sendiri  yang menambah hiasannya"
'Yaaahh..!  Rena kecewa. 

Hari sudah siang, sholat ied dan  bersalaman keiling kampung usai
Sementara Ibu dan Bapak sedang beristirahat, diam-diam aku kembali ke kamarku.
Aku semakin senang pada sepatu baruku yang dapat pujian Di depan kaca aku menari , sesekali berputar, berlagak seperti  penari balet.















2 comments:

  1. jadi inget waktu kecil...momen membeli sepatu itu adalah momen terindah...jaman dulu aku gak akan dibelikan sepatu kalo sepatu yang lama belum rusak...hehe

    ReplyDelete
  2. Xixixi...kok sama yaa? Dan anak-anak jadul kelihatan lebih prihatin ya...

    ReplyDelete