Friday, 10 October 2014

DIMANA LILI?



Lili teman sebangku saya di SMP  lama tak masuk-masuk sekolah. Padahal sahabat yang sering juara kelas ini  jarang sekali absen. Tergeraklah saya dan 2 orang teman mengunjungi rumahnya yang lumayan sulit dicari.
Ia memang tak seperti teman lain, mudah mengajak teman sekolah main kerumah. Entah mengapa?

Singkatnya sampailah kami di alamat yang dituju, kami terperangah! Rumah Lili sangat kecil! hanya bisa ditempati 1 tempat tidur  dan sebuah lemari ukuran sedang.
Karna sempit, Lili mengajak kami ngobrol di warung es ayahnya dipinggir jalan raya.
Disanalah kami tau bahwa ayahnya yang sudah renta dan penyakitan itu tak mengizinkan lagi Lili sekolah.

" Bapak sudah nggak kuat bayar SPP dan ongkos sehari-harinya, Neng..." begitu katanya dengan suara pelan diiringi sesak nafas.

Keadaan Lili membuat saya tak tenang beberapa hari. Karna tak tahan akhirnya saya ceritakan pada Ibu. Dan Alhamdulillah  cerita itu disampaikan lagi ke ayah. Ayah prihatin dan kami bertiga pun berkunjung ke rumah Lili.
Wajah Lili tak pernah saya lupa, bagaimana gembiranya ia saat mendengar tawaran  ayah.
Lili akan sekolah gratis sampai SMA di tempat Ayah mengajar.

Ibu Lili rajin datang kerumah  dengan membawa ketan serundeng kesukaan keluarga kami. Namun setelah sang Ayah wafat, bertahun kami tak jumpa.
Dengar kabar Lili langsung melamar pekerjaan. Sementara saya tengah dirundung duka karna tak masuk perguruan tinggi negeri yang jadi idaman.

Saat duka itulah, seorang kerabat kami datang. Ia meminta data saya untuk dimasukkan ke perguruan tinggi termahal dan ternama di Jakarta dengan beasiswa rektor, berkat jasanya pada sang rektor.
Keluarga kami amat bersyukur, karna besaran gaji ayah tak mungkin saya bisa mendapatkan kesempatan itu.

Saya yakin inilah jawaban Allah yang tak pernah tidur, dan doa Lili yang sampai sekarang masih saya cari keberadaannya.



No comments:

Post a Comment