Friday, 24 October 2014

Perempuan Di Mata Ibu






Kalau ingat almarhum ibu, yang menonjol adalah saat ia memberi tau tentang bagaimana menjadi perempuan.

Misalnya satu hari sahabat akrab datang. Dia berteriak memanggil nama saya berulang-ulang dari pintu pagar luar rumah.

"Jangan menyahut!" Kata Ibu yang saat itu sedang membaca buku.
"Kasihan dia, Bu...!"  saya memohon
"Pokoknya kamu diam!" Jawab ibu tegas sambil meletakkan bukunya lalu pergi ke teras.

Dari balik jendela terdengar percakapan Ibu dengan sahabat saya.
Hati-hati ibu mengingatkan, jika bertamu berilah salam dan menunggu sampai ada jawaban.
Akh, Ibu... kan dia sahabat akrab! Nggak usah formil lah!  *dalam hati

Dan  pendapat itu ibu patahkan setelah sahabat saya pulang.


Tak elok meneriakkan nama orang dari luar rumah. Apalagi untuk perempuan.
Dengan adab bertamu yang sudah dicontohkan, akan terjaga muru'ah ( Kemuliaan diri) keduanya.

Bertambah usia, makin banyak yang ingin saya liat. Berasyik ria memenuhi ajakan teman ke tempat wisata, bioskop, atau makan. Ibu mengizinkan... tapi ada limit!
Setelah dianggap cukup, ibu cuma bilang selintas tapi tegas.

"Anak gadis itu seperti bunga, ia akan harum bila terjaga di rumah. Sering terlihat di luar akan membuat orang bosan"

Ucapan ibu ampuh! sanggup menahan kaki saya sekaligus membuat saya berani berkata TIDAK pada ajakan teman.








4 comments:

  1. petuah ibu memang bagai mutiara ya mbak....sangat berharga dan selalu membuat rindu

    ReplyDelete
  2. Betul Mak Ninik... makin rindu nasehatnya setelah beliau "Berpulang" :(

    ReplyDelete
  3. nasehat ibu itu makin bikin kangen, apalagi setelah menikah ya mba :(

    ReplyDelete
  4. Ya Mbak Indri, kadang suka menyesal, dulu klw dinasehati suka menganggapnya remeh. Setelah punya keluarga baru terasa, nasehat ibu/orang tua itu karna sayang, betul2 krn ingin melindungi.

    ReplyDelete