Friday, 17 October 2014

PLN ADALAH RAJA



Tulisan Ini Disertakan Dalam Lomba Blog







Biasanya "Pembeli adalah raja", tapi buat  PLN "Penjual adalah raja".
Bagaimana tidak? bangsa kita yang tinggal di pecahan pulau-pulau ini ramai-ramai berteriak minta listrik. Salah satu contohnya warga pulau Kadatua Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.
Kepala Desanya yang bernama H.Ali Yunus sampai bilang begini :

"Kalau kami disuruh bersujud dan mencium kaki orang PLN untuk bisa dialirkan listrik, kami seluruh warga disini akan melakukannya"  (Sumber http://www.kemendagri.go.id  25/9/2014)

Itu karena nelayan membutuhkan es 3000 balok per hari untuk pengawetan ikan. Namun energi listrik yang berpusat di daerah Waonu itu baru bisa melayani 7 desa yang menyala 12 jam saja, sejak pukul 18.00 sampai pukul 6.00.
Sementara 3 desa lain yang menghasilkan banyak ikan sudah 20 tahun mengemis pada Pemda Buton agar desanya bisa dialiri listrik.

Terpaksa mereka mencari es balok ke pulau Bau-Bau. Jika transportasi laut memakan waktu 15 menit. Saat cuaca hujan ombak bisa tinggi hingga 2 meter. Sedangkan transportasi darat memakan waktu 20 sampai 30 menit dengan jarak tempuh 8 Km.




Listrik Di Kota.

Bagaimana dengan masrakat kota besar? Apakah sudah mencukupi?
Ternyata sama-sama berteriak juga! Dimana-mana orang membutuhkan tehnologi informasi. Efek yang terjadi adalah lonjakan kebutuhan listrik.
Efek ini memikirkan hal-hal produktif. Tapi coba lihat! ada peningkatan kebudayaan konsumtif di masyarakat. Begitu ada uang, TV, DVD, Komputer, Laptop, dan seterusnya. Lagi-lagi penambahan kebutuhan listrik.

Kebutuhan listrik rumah tangga di kota


Jangan bicara Rumah Sakit, Kantor, atau Pabrik yang jelas kebutuhan listriknya. Tapi  bicara ruang saja! Ruang kelas, kampus, meeting room yang butuh infocus komplit. Tanpa disadari butuh banyak Power Outlet (colokan listrik). Belum lagi siswa yang masing-masing membawa notebook, gadget, handphone, power bank, dan "Acang-acang" atau alat canggih-alat canggih lainnya  pada  jam kuliah / meeting yang panjang. Akhirnya menggelar power bar dari satu titik ke seluruh penjuru kelas. Dari 40 siswa pasti ada beberapa yang butuh.

Contoh lain, seorang programmer paling tidak  membutuhkan 8 stop kontak, antara lain untuk :

- Komputer
- Monitor
- Printer
- Scan
- Desktop lamp
- Speaker
- Adapator untuk external harddisk
- Wifi

                                          




PLN Yang Dicaci Tapi Dicari



Kebutuhan Listrik Indonesia

Tak sedikit yang mencaci PLN karna "Byar Pet"nya. Mereka tak mengerti, kebobolan cadangan energy karna gaya konsumtif produsen juga. Ditambah tak pendai mengirit listrik
Melihat itu seperti melihat PLN dikejar-kejar kebutuhan tehnologi canggih untuk menutupi krisis listrik dan dikejar hujatan karna sering ada pemadaman bergilir.

Sementara di desa-desa dapat kita saksikan melalui berita TV, bagaimana penduduk yang minim ilmu, minim pendapatan, dapat menciptakan tenaga listrik dengan mengambil tenaga air, gas, dan lain-lain dengan cara yang sederhana.

Negara besar seperti Amerika saja masih kewalahan menghadapi permintaan listrik. Undang-undang energy terbarukan California telah memicu proyek tenaga angin dan matahari. Salah satunya proyek Tres Amigas New Mexico yang akan membantu Texas mengirimkan tenaga angin yang berlebihan ke berbagai kota di ujung Timur maupun Barat Amerika.

Maka sudah sewajarnya jika bangsa kita ambil langkah cepat menggunakan fasilitas alam  yang ada.
Bagaimana dengan masalah biaya yang besar?
Sudah rahasia umum, PLN sering rugi karna ulah pencuri listrik kelas cicak sampai kelas buaya.
Penunggak rekening kelas teri sampai kakap.
Satu kehebatan buat PLN jika bisa lebih teliti dan lebih tegas bertindak mengambil hak nya.
Kalau PLN tegas dan bersih, insya Allah ringanlah beban PLN dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Ide Sederhana Saya

1. Kumpulkan orang-orang desa yang kaya ide tadi, tularkan ilmu dan sama-sama bekerja untuk desa lain. Insya Allah banyak yang semangat. Mereka hanya berteriak meminta karna mereka tak tau solusi.

2. Bekerja sama dengan media elektronik untuk lebih sering mengekspos kegiatan desa yang mampu mengatasi kekurangan energi listrik.

3. Ada semacam ikatan dinas bagi karyawan PLN yang ahli di bidangnya. Mereka tak dapat posisi bagus sebelum memberi sumbangan ilmunya di desa-desa.

4. Bagaimana masalah dana?  saya masukkan dalam paragraf khusus dibawah ini.


Tegas Pada Pencuri Listrik

Tanggal 9 April 2009, pernah ada pertemuan pedagang warung tenda Pecel Lele.
Untuk pusat Kota Bogor yang kecil saja jumlahnya 120 warung, itu 5 tahun yang lalu.
Belum lagi penjual Martabak Telur yang ratusan jumlahnya disekitar Stasiun Bogor Jemabatan Merah.

Pedagang Pecel Lele bisa meraup 9.500.000/bulan (Sumber : disini),
Itu data tahun 2013, saat 3500 pedagang Pecel Lele sejabodetabek yang sudah dikenal orang dikumpulkan. Jumlah mereka sedikit dibandingkan dengan penjual biasa.
Dengan bangga orang  memaparkan kehebatan berbisnis kuliner. Tapi tak pernah ada yang memperhatikan "Dari mana listrik mereka?"

Sebagian besar mereka "Nyantel"  dari tiang listrik jalan! untuk lampu, dispenser, pemanas nasi atau blender bagi yang berdagang Jus. Lumayan banyak stop kontaknya.

Sekali waktu iseng saya tanya, apa mereka bayar listrik? Mereka polos menjawab, bayar setiap bulan ke kantor yang ada di belakang tenda. kurang lebih 10 gerobak yang berpusat ke kabel kantor.
Apakah sampai ke tangan PLN? ya tidak lah! Itu kantor resmi pemerintah yang dapat jatah bayar rekening listrik!

Bayangkan kalau 100 pedagang, 100 lampu. 1 wilayah kecil saja sudah bisa dikira-kira berapa banyak pemakaian listrik? Bisa jadi sama dengan lampu kantor bertingkat.

Petugas pencatat pun hendaknya diawasi! Mereka tau rumah mana yang meterannya sudah di blokir, tapi lampu dan peralatan elektronik mereka tetap menyalah.


          Sumber gambar



PLN Pasti Bisa

Andai tangan kekuatan tangan PLN bisa bekerja tegas memutuskan listrik-listrik ilegal di pemukiman padat, di bantaran sungai, dan para pedagang kaki lima, tentu pemasukan PLN akan lebih banyak.

Penggunaan listrik dengan pemasukan akan seimbang. Dana yang ada untuk membangun listrik di desa seperti kisah di awal tadi. Baik dengan cara modern ataupun dengan energy alam.

Jangan takut,PLN! mereka adalah  koruptor yang tak teraih KPK!
Akh, jadi membayangkan orang-orang yang duduk makan diwarung-warung  itu sambil bicara seru tentang politik dan korupsi, padahal di atas kepala mereka ada korupsi yang tak pernah dilihat dan dirasa.

Satu tindakan PLN misalnya hanya memberi penerangan di tempat berdagang resmi, maka pejalan kaki tak terhalang lagi oleh tenda-tenda yang menyerobot trotoar. Kebakaran di hunian padat pun bisa dihindari. Orang desa tak mudah ke kota bila sulit rumah dan listrik.

Selamat bekerja PLN... Ambillah hakmu!
Semoga kekuatan baru terus bertambah, seperti kekuatan listrik rumahan yang bisa minta  tambah daya...:)


Tulisan Ini Disertakan Dalam Lomba BLOG

IDEKU UNTUK PLN?


4 comments:

  1. Bara ngeh, kalau PKL khususnya yg berjualan malam hari, bisa saja menerangi tenda mereka dengan nyolong listrik ya. Jadi penasaran, kemana tuh uang yang mengalir dari hasil uang setoran mereka kpd orang yg memberikan saluran listrik kepada mereka. Sungguh sangat rapi dan terkoordinir. harusnya ini mudah dilacak oleh PLN. Btw, Jangankan pedagang kecil yang memang ingin meraih keuntungan dan menekan pengeluaran, rumah tempat tinggal saja saja, banyak kok yang nyolong listrik, dan bertahun-tahun mereka melakukannya, pas ketahuan, ya diiputus sama pLN, Tapi, habsi itu ya dipasang lagi,se simple itu..?

    ReplyDelete
  2. Saat jajan kuliner perhatikan saja Mak... Kalau PKL yang saya kunjungi ini terang-terangan dan tidak malu kita liat/ tanya. Sama dengan tetangga jauh saya, bertahun tak pernah bayar rekening. Pencatat PLN pun tau, tapi tidak pernah dilaporkan. Miris yaa...kita yang bayar rutin jd korban Byar Pet!

    ReplyDelete
  3. harusnya memang ada penertiban dari pihak PLN, kalo dibiarin terus2an kasihan pelanggan yg sudah tertib melakukan pembayaran

    ReplyDelete
  4. Bener Mak... tanpa penertiban kitalah korbannya!

    ReplyDelete