Saturday, 11 October 2014

Wartawan Kw 4






Kalau dilihat wartawan sekarang terlalu nekat dalam mengejar berita. Maju tanpa persiapan dan tak malu melanggar etika. Perhatikan mutu pertanyaannya dan bagaimana mereka mendesak tanya pada pemimpin yang tengah berusaha hati-hati menjawab pertanyaan.

Seolah dianggap keren kalau  dapat mencecar pertanyaan tajam pada pejabat.
Dianggap pintar kalau mampu membuat judul bombabtis padahal isinya biasa-biasa saja, malah kadang hanya sedikit yang disinggung sesuai judul. Banyak ngalor-ngidulnya dari pada inti.

Yang paling nggak tega lihat celeb/ khalayak biasa ditanya paksa, padahal ia tengah dirundung duka atau malu.
Pernah 2 kali orang tua artis terkenal pingsan di depan kamera. Seperti kurang peka kondisi dan situasi. Demi rating!

Mungkin karna saya menyaksikan era pemerintahan Bapak Soeharto dan era revormasi , jadi senang membandingkan wartawan di kedua masa.
Walaupun tak seteliti memilih menteri, tapi wartawan yang sampai terpilih untuk mewawancarai pejabat penting tidak sembarangan.
Masih ingat? bagaimana sopannya wartawan yang mewawancarai presiden Soeharto di atas lambung pesawat usai lawatan ke luar negeri.

Pemimpin memang punya hak untuk dihormati. Meremehkan dan menghina pemimpin otomatis menghina negerinya sendiri di mata internasional, maka Allah melarang cara tidak sopan dalam menyampaikan kebenaran pada pemimpin walaupun pemimpin itu zalim. Ada cara khusus yang diatur.
Sampai-sampai dalam hadis dikatakan:

 "Lebih baik dipimpin oleh pemimpin zalim daripada tak ada pemimpin dalam 1 hari"

Mengingatkan atau meluruskan pejabat penting  dengan etika dan bahasa yang baik akan menjaga stabilitas keamanan negara juga.

Wartawan kepercayaan Ibu Tien Soeharto adalah Ussy Karundeng, Karna Ussy hampir tak pernah mengucap "eee.." di jeda waktu bicara. Bicara lancar,tegas, mudah difahami, langsung ke inti, fokus, menandakan orang yang teliti, cerdas, sigap, serius.

Linda Jalil sempat merasakan bagaimana bangganya jadi wartawan terpilih yang berkantor di Bina Graha. Sebab membidik dan memutuskan siapa yang akan ada disekitar Presiden, tak sembarangan.
Wartawan kala  itu tau persis mulai dari mengatur jarak bicara, cara bertanya, hingga ke hal yang lebih penting.

Mungkin bagusnya mereka diberi kursus tambahan yaa...seperti ilmu politik, psikologi dan etika komunikasi. Jadi muncul pertanyaan-pertanyaan berkwalitas yang mengharumkan medianya juga.

Penonton sekarang cerdas-cerdas lho! tak jarang menertawai pertanyaan wartawan yang sudah sering didengar ( Basi!), bisa ditebak, tidak mewakili pemirsa, cuma menghabiskan waktu orang yang diwawancari.
Pemirsa pun pandai menilai penampilan pembawa berita (Reporter). Beberapa menomor duakan penampilan,  rambut di tata asal, meskipun acaranya di tempat terbuka, tapi yang elegan dong!

Dan yang paling penting dari semua namun sering di remehkan adalah...
Wawancara juga harus diiringi niat baik, jangan sampai  terjadi  "pemelintiran" makna seperti yang sekarang sering terjadi. Membiarkan hal ini sama dengan membiarkan fitnah merajalela.









No comments:

Post a Comment