Wednesday, 5 November 2014

Cernak : Malona Dan Burung Pombo

Dengan modal kata : Apa yang terjadi jika...




Apa yang terjadi jika aku tak bertengger di batu karang ini? Anak itu  pasti terus-terusan melawan pada ibunya.
Begitu kata si raja Burung Pombo dalam hati.

Matanya tajam menatap Malona  yang asik  bermain dengan beberapa teman di pinggir pantai seharian, Malona gemar berenang sampai badannya hitam berbau garam, kepalanya berkeringat.
Ia malas mandi dengan air bersih, apalagi berkeramas, paling malas! Hingga banyak kutu di rambut.


Burung Pombo yang kesal itu terbang berkeliling di pinggiran pantai yang tersapu ombak putih.
Deburan ombak dan riuhnya suara canda terlalu bising. hingga tak satu pun yang memperhatikan kepakan sang burung.
Hinggap kembali di balik rerimbunan pohon. Jari-jarinya yang besar runcing dan kokoh menancap tajam di dahan. Dada si burung turun naik dengan cepat. Bukan karna letih saja tapi marah. Ia tak suka dengan anak-anak berkutu.

Tatapan dan cengramannya tajam dan kuat. cukup satu kali saja mencengram baju atau rambut manusia, ia mampu menerbangkan sejauh mungkin.

****

Setelah lelah bermain, anak-anak pulang bersama. Malang nasib Malona,  berjalan paling belakang mempermudah burung Pombo menangkap.
Tap...tap..tap! bunyi kepakannya makin dekat, makin jelas keras terdengar.
Belum sempat anak-anak itu menoleh, punggung Malona sudah ada dalam cengraman erat jari Pombo.

Terdengar suara lengkingan tangisnya yang makin lama makin menghilang.

"Tolong...tolong...tolong!"

Teman-teman hanya menatap terpana di daratan. Burung pombo  makin mengecil di pandangan mata.

Bergegas berlarian mereka menuju rumah Ibu Malona, mengadukan kejadian itu.
Betapa terkejutnya sang Ibu. Tak pernah ia menyangka burung yang ditakuti orang kampung pesisir pantai itu akan  kembali menculilk anak-anak.
Ibu Malona menangis tak henti. Semakin sedih melihat makanan siang Malona yang belum tersentuh. Malona memang sulit disuruh makan.

Percuma  meminta tolong pada nelayan tetangganya untuk mencari. Pulau Pombo terlalu jauh.
Perahu kecil tak sanggup mencapainya apalagi ombak besar sering menghadang.

****

Sementara itu, dipulau cantik terasing,  burung  Pombo syang kecil-kecil tengah bergembira menyabut kedatangan Raja yang membawa anak manusia.

"Wahh! kita pesta hari ini! ada santapan lezaaat!" Kata salah seekor Pombo

Air mata Malona bersimbah. Ia tak bisa lari kemanapun. Pulau kecil itu dikelilingi laut.
Kemana mata memandang semua berwarna biru.
Pada siapa ia minta tolong? Tak ada! Hatinya semakin ciut melihat burung-burung datang mendekat, mata tajam meneliti wajahnya..

Malona kini menyaksikan apa yang orang kampung ceritakan tentang pulau Pombo ternyata benar.
Ia letih menangis sampai tertidur.
Tapi belum lama memejamkan mata, si  burung-burung tadi bergantian mematuki kepalanya. dan memakan kutu-kutu yang ada.
Malona  tak punya kekuatan sedikitpun untuk  melawan, bergerak pun tak mampu.

****

Malam pun tiba, Malona tak tahan lagi menahan perutnya dari lapar.
Badannya yang lemas hanya bisa mengambil buah-buah yang jatuh dari pohon. Buah asing yang tak pernah ia makan. Rasanya sedikit pahit. Tapi dimakannya juga.

Meleleh air mata di kedua pipinya. Ia ingat masakan ibunya yang enak-enak. Tapi tak ia syukuri. Setiap hari selalu berulang-ulang ibunya menyuruh ia makan. berulang pula menyuruhnya mandi dan mencuci rambut.

Malona menyesal, ingin segera kembali dan menjadi anak yang menurut kata Ibu.
Tapi si raja Pombo tak akan mengembalikan Malona jika kutu masih tersisa di rambutnya.
Dengan rela ia jalani hari-hari yang tak mengenakan.
Silih berganti burung-burung itu membersihkan kepala Malona dengan paruhnya.

****
Malona tak ingat lagi berapa lama ia di pulau sunyi itu. Tiba-tiba suatu sore raja Pombo turun dari singgasananya di ujung dahan tinggi. Lalu dengan sigap diraihnya punggung Malona persis seperti awal kejadian.

Malona mengerti, sang raja akan mengembalikannya ke daratan. Walaupun takut memandang laut dari ketinggian, tetap ia kuatkan hati asal bisa kembali.

Dari kejauhan nampak kampung nya terlihat kecil, makain lama makin membesar dan jelas.

"Blukk!!"  Badan Malona terhempas, lepas dari jemari raja Pombo.
Segera ia berlari ke rumah Ibu tercinta  yang lama ia rindu.

TAMAT














No comments:

Post a Comment