Friday, 21 November 2014

Gebrakan Bea Cukai ( Bagian 3 )





Orang tua zaman dulu ada yang berpesan pada anak gadisnya, "Jangan kawin dengan Duane!"
Sebab kala itu memang sudah bukan rahasia, Duane ( Petugas Bea Cukai) punya harta banyak, harta gelap, maksudnya.


Teman kuliah saya tak cantik, tapi dimana dia hadir, ruangan jadi harum dengan wewangian yang terkesan mahal. Jam tangannya bermerk aneh di telinga awam selalu berganti-ganti di tangannya. Hobbynya mentraktir, keruan saja banyak dikelilingi teman pria yang akhirnya kecipratan jam tangan juga.
Ada bisik-bisik yang sempat terdengar "Jelas dia mampu, Bapaknya kan Duane! Yaaah...semiskin-miskinnya Duane dan orang Pajak tau sendiri dehh!"

Yang paling berkesan saat teman-teman lain 1 mobil ngelantur kerumahnya. Mata kuliah cuma 1, jadi banyak waktu main tanpa harus terima omelan Ibu di rumah.
Saya yang cuma ikut-ikutan, baru tau di jalan kalau kesana tujuannya untuk nonton Video.
Zaman itu kebanyakan orang taunya Video Recorder yang kasetnya ukuran tebal dan besar. Begini penampakkannya.




Tapi teman saya itu sudah punya Laser Disc yang gambarnya nggak pakek bintik-bintik, mulus, lancar jaya, nggak pakek iklan pembuka. Kalau matiin lampu persis nonton di Bioskop.
Jangan tanya soal optical disc nya! Banyaaak sekali, dengan judul ngetop-ngetop yang sebetulnya tidak boleh masuk ke Indonesia.

Waktu ditanya kenapa sampai banyak begitu? Dengan tenang dia jawab,

"Itu barang ilegal yang mustinya dibuang, bejibun tuh kalau mau. Yang porno juga banyak, tapi punya babe gue!"  *Wadduhh!!

Tampilan LD (Laser Disc) seperti ini:


Saya ingat peristiwa itu lagi karna saya ingin menjelaskan tentang kerja Bea Cukai dahulu dan kini.
Saya tak tau seberapa besar perubahan dan seberapa beraninya. Yang namanya perubahan tetap harus dihargai. Sebab suatu pekerjaan yang melibatkan banyak orang, banyak pintu, banyak yang ditangani tentu membuka peluang negatif yang akhirnya berimbas pada pegawai yang suka akan "Kebersihan".
Memerangi penyelewengan kekuasaan seakan berlomba dengan kejahatan yang semakin lama semakin canggih dengan berlarinya zaman.


Bea Cukai Dulu Dan Kini.

Hal-hal negatif seperti cerita diatas semoga berakhir dengan adanya informasi global, cepat dan murah, masyarakat lebih cepat tau dan bereaksi sementara Bea Cukai sendiri cepat menanggapi.
Perubahan.
Seperti yang dikatakan Bapak Iwan Agung, selaku Ketua Panitia Hari Anti Korupsi.
Kerja keras Bea Cukai adalah untuk menepis anggapan negatif di masyarakat. Banyak cara yang ditempuh selain memperbaiki kinerja pegawai, yaitu dengan tiap tahun mengadakan Lomba Good Talent Internal, kegiatan yang bertujuan  mendekatkan hubungan sesama pegawai dan pegawai dengan masyarakat.





Dalam melayani,  Bea Cukai sekarang menggunakan fasilitas electronik. Masyarakat yang punya keperluan tak perlu lagi ke kantor.
Adanya ISW  (Indonesia Single Window) tak lagi menuntut dokument asli. Tinggal upload saja seperti negara-negara maju lain.

Ada pendapat yang mengatakan, baiknya Bea Cukai dibubarkan saja.
Custom tak bisa ditiadakan. Ada 170 negara tergabung dalam WCO.  Kehadiran tetap ada, tapi (menempel , istilah Pak Iwan)nya saja yang berbeda. Yaitu ke Kementrian Keuangan kah, atau Kementrian Kehakiman, dll.

Bea Cukai Selalu Disalahkan

Tak semua kesalahan ada pada Bea Cukai. Karna Bea Cukai berkompeten hanya dalam beberapa bidang saja. Ada 18 instansi yang mengurusi keluar dan masuknya barang.
Misalnya soal perizinan barang masuk, yang berkompeten adalah petugas yang berbeda. Bukan Bea Cukai! Tapi Bea Cukai selalu disalahkan.

Dilapangan tentu banyak ditemui permasalahan menyangkut barang penumpang.
Agar tak ada kesalah pahaman baiknya penumpang tau tanggung jawab apa yang akan diminta oleh petugas atas barang bawaanya. Setiap barang ada pengelompokannya. Jalur merah, hijau atau kuning. Jelasnya   Klik di sini.

Selanjutnya Bapak Iwan Agung menekankan bahwa...
 " Memperbaiki citra Bea Cukai adalah harga mati". Jangan ada lagi aktor korup, penyalah gunaan wewenang di pintu dan lapangan, dan kerja tenang tanpa calo!

Beliau berharap para blogger dan akademisi yang telah diundang untuk bertatap muka ini bisa memberi masukan dan memperluas informasi tentang Bea Cukai yang sebenarnya.





Ada Keluhan?

Bila ada masalah atau keluhan atas pelayanan Bea Cukai? Tidak perlu menulis dengan emosi ke media! selain memberi imej buruk pada Bea Cukai, teriakan anda cuma terdengar oleh orang yang bisa menolong/berbuat apa-apa.
Cara yang sangat mudah dan cepat. Tanpa harus keluar biaya atau kena macet di jalan.
Bea Cukai sudah kasih warning begini :

Jika Anda mengalami permasalahan ketika mendapatkan pelayanan yang disebabkan oleh
"Penyalahgunaan Kewenangan Pejabat/Pegawai Bea dan Cukai dan Pelanggaran Disiplin Lainnya"
Silahkan sampaikan permasalahannya melalui alamat kami berikut ini:


Tlp
:
0800 - 100 - 3545 (bebas pulsa)
SMS
:
0821 - 30 - 202045
Faks
:
021 - 489 - 0966
Email
:
pengaduan.beacukai@customs.go.id
puski.beacukai@gmail.com
Atau:

Alamat Surat kepada:
Kepala Pusat  Kepatuhan Internal Direktorat Jendral Bea dan Cukai-Kantor Pusat Bea Dan Cukai-

Jl.Ahmad Yani By Pass, Rawamangun-Jakarta Timur 13230















2 comments:

  1. Hmmmm mudah2an kerjanya makin bener yah. Soalnya saya sering nemuin yang............. *isinya ntar aja*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...sekarang dipermudah untuk pengaduannya Mas Dodon. Tinggal klik web di atas. Mereka sedang giat merubah imej masyarakat . Insya Allah dilayani dengan baik.

      Delete