Friday, 28 November 2014

Jalannya Sedekah





Seorang anak laki usia 9 atau 10 tahun duduk tenang di belakang sopir angkot. Berbaju koko merah maroon berpici hitam dan ransel hitam  lusuh di pangkuan.
Selalu iba bertemu dengan anak laki seperti ini, apa dia anak pesantren yang akan berlibur kembali kerumah atau sebaliknya?
Banyak keluarga tak mampu memasuki anaknya ke sekolah lanjutan akhirnya memilih pesantren gratis, dari pada si anak buang waktu dan salah gaul.

Angkot melewati Pasar Ciroyom-Bandung, belum ada perubahan dari dulu! Bau sampah, lalat, tumpukan bale, tali rapia dimana-mana, jalanan basah bercampur lumpur hitam dan tanah  tebal, rasanya nyesel setengah mati tak terlupa kalau jatuh duduk di situ, Iikhh!!

Anak tadi bersiap-siap turun sambil sedikit kasak-kusuk dengan 2 teman di depan. Rupanya sopir minta tambahan, lalu  masing-masing patungan akhirnya cukup.

Angkot bergerak maju, seorang ibu gemuk berhijab lebar sontak bilang, "Aduh! padahal saya mau kasih uang, anak yang dibelakang tadi, pakai sendal hanya satu!"
*Yaaah...telat bu!

Akhirnya saya ambil keputusan  turun dan mengejar mereka meski sudah  agak jauh. Wah! Mereka hilang di balik gubug-gubug warung.

Untung dapat jalan yang tidak basah, jadi nekat tetap cari.
Sampai di satu toko agak besar, mereka ada  di sana masing-masing menenteng kotak amal. Oowh..rupanya!

Tapi ya sudah! saya tepis fikiran mereka begitu untuk mensejahterakan  orang tuanya yang sebetulnya kaya di kampung, dan lain-lain. Sampai saya turun berarti memang ada rejeki mereka yang nyangkut di tangan saya. Selain itu dakwah bil hal untuk anak bungsu saya yang beberapa kali bilang "Kasihan Ma.."

Mereka kaget menerima uang besar, hihi...padahal bukan dari saya sendiri, tapi dicampur titipan teman-teman yang rutin menyalurkan zakat hartanya ke saya untuk disalurkan.
Karna harus melanjutkan perjalanan, saya cuma bilang, "Jangan lupa beli sandal!"

Sambil menunggu angkot baru, dari kejauhan saya lihat anak itu sudah berkeliling. Salah satunya  memakai sandal baru.
Kadang kita di uji, apakah sedekah kita salah alamat? Insya Allah, kalau sebelumnya kita minta di temukan dengan orang benar-benar berhak, maka tak ada lagi ragu. Kadang ada yang berpenampilan biasa-biasa saja, padahal ia sedang terhimpit tapi  malu meminta. Wallahu a'lam.







8 comments:

  1. Iya sih, kadang terbersit ragu mengingat banyak yg berpura2 butuh padahal krn malas. Akhirnya berserah saja, pokoknya kalo niat ngasih ya ngasih. Kalau dia penipu ya urusan dia dng Allah. Tp bener juga, mbak.Mutiah. Berdoa juga ah, biar ditemukan dng mereka yg benar2 berhak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak dipungkiri Mbak Donna, dulu sering muncul ragu, karna saya pegang titipan orang jd lebih berat.
      Insya Allah mdh2n nggak ragu lagi kedepannya. :)

      Delete
  2. Percaya pads kata hati ya mbak, bulatkan tekad utk trus bersedekah dan pasrahkan pada Allah SWT☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sipp! Mbak Christanty...! Terimakasih sidah hadir :)

      Delete
  3. Kalau sekarang daripada ragu saya seringnya ke anaknya si mbak di rumah yg kebetulan yatim. Lebih tepat sasaran.

    ReplyDelete
  4. Justru itu yang terbaik Mbak Nunung, yang didepan mata harus didahulukan. Semoga disucikan rejeki Mbak yaa.. :)

    ReplyDelete
  5. iya, kadang kita suka ragu ya, tapi memang menolong orang selain ikhlas , tak boleh ragu dan niat yang memang keluar dari hati

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat Mak Tira, perasaan yakin dan ihlas nggak ada sekolahnya dan harus terus dilatih yaa...

      Delete