Saturday, 1 November 2014

Kelas Cernak




Gara-gara ikut kelas Online Cerita anak, saya jadi rajin baca majalah anak-anak.
Lupa deh, pada usia dan situasi , majalah Bobo saya baca di kendaraan umum.
Bikin anak kecil bisisk-bisik pada ibunya di seberang saya.


Membuat cerita anak seolah membuka sebuah kotak lama penuh pernik masa kecil.
Rasa takut, gelisah, marah, yang dulu tak terungkap kini ada tempat.
Lega  bila mampu menyusunnya seperti puzzle dalam rentetan huruf.

Nuansanya seperti menyihir, pelangi bisa muncul tiba-tiba, keriangan tawa seperti kembali terdengar.
Bila warna kelam datang, akan terusir dengan fikiran dewasa kita sekarang.
Betul kalau penulis senior bilang, menulis bisa jadi jalan therapy.

Untuk menulisnya tak semudah yang saya bayangkan.
Dikira, modal bisa  menulis artikel akan membantu, nyatanya tidak!
Gaya bahasa dan ungkapan anak-anak perlu dipelajari, meski inti cerita sudah siap.
Jika kesulitan membuat dialog cara anak-anak, perlu kelihaian mengalihkannya ke narasi.
Kadang mentok, bagaimana menyampaikan pesan mendidik pada alur cerita. Menggurui akan membuat cerita jadi hambar.

Cerita anak harus hidup, maka tak jarang Bu Guru Nurhayati yang sabar membimbing itu  selalu tanya saat mengoreksi, konflik nya mana?
Dengan konflik secara tak langsung terungkap pesan moral.

Atau beliau akan mengingatkan, paragraf sekian....hapus? Lho, kenapa, Bu?
Karna berlebihan !
Hihihi... realnya juga kan begitu ya! Gaya atau bicara kita berlebihan abis, kalau tak diingatkan

Memberi porsi narasi dan dialog pun harus teliti, jangan sampai pembaca bosan.
Menonjolkan tokoh "Aku" yang berulang-ulang, sangat menjemukan. Konon dalam 1 paragraf jangan sampai lebih dari 3 kata aku.

Enak dibaca, runut, ada ruh anak-anaknya dalam tulisan, akan jadi pertimbangan baik buat editor.
Saya menyarankan, bagi teman yang rindu masa kanak-kanak dan hobby menulis, belajarlah!
Rasakan sensasinya...Duh! kayak iklan kopi :)






No comments:

Post a Comment