Friday, 7 November 2014

Kirim Tulisan Ke Media Atau Penerbit?



Saya dan teman-teman penulis lain yang sama-sama "Ngareuyeuh" kata orang sunda, artinya merayap perlahan berusaha untuk bisa sukses dalam menulis.
Maka semua ingin dicoba, ikut lomba, mengirim naskah ke media, dan ingin cepat menerbitkan buku.
Apa lagi yang membahagiakan seorang penulis, selain karyanya banyak dinikmati orang lain?

Membayangkan asiknya melihat buku kita ada di rak-rak toko buku ternama jadi pilihan banyak orang, apalagi kalau ada tulisan besar-besar BEST SELLER!
Atau ketemu orang dalam perjalanan yang tengah asik membaca buku karangan kita.

Saya yakin tidak sulit untuk itu. Kesulitan adalah saat melawan kemalasan dan enggan mencoba.
Proses adalah kenikmatan. Mereka  yang sudah berhasil mencapai puncak kejayaan akhirnya tau, kemenangan dalam proseslah yang sebetulnya kepuasan, bukan pemandangan diatas sana.
Dalam proses sebenarnya menyelami diri sendiri.

Tapi dalam proses itu, saya paling merasa, kesabaran diuji oleh banyaknya keinginan.
Padahal untuk mencapainya tak cukup dengan berlatih menulis dan mempelajari ruh goresan penulis handal. Skala priorotas demi tujuan amat penting!
Aggap saja  memakai kacamata kuda, agar terhindar dari ramainya pilihan.




Mau menulis untuk media atau menerbitkan buku?

Menurut yang berpengalaman, menerbitkan buku ada 2 cara, mau Royalti atau jual putus.
Kalau jual putus kita hanya dibayar 1 kali saja, tapi honornya kecil. Karna penerbit yang bekerja dan mempromosikan.

Sedangkan Royalti kita harus sepakat dengan aturan penerbit. Besaran harga buku ditentukan penerbit. Honor kita bisa diterima ada yang 3 bulan atau 6 bulan sekali. Gramedia memberi 10% keuntungan untuk penulis manapun, pukul rata!

Penerbit lain memberi  7%, kalau penulis sudah dikenal, baru bisa dapat royalti 10%.
Biaya titip buku di toko sebesar 40 sampai 60%.
Gramedia  memberi waktu 2 minggu buku di rak. Bila tidak laku dalam waktu tersebut, buku akan dikembalikan ke penerbit.
Penerbit mengharuskan  penerbit mempromosikan karyanya. Jika tidak, dalam beberapa bulan buku kena doskon. Lihat sendiri kan? ramai promosi buku di media sosial.
 Hehe... saya bukan ahlinya! Bisa-bisa buku itu habis saya sedekahkan.

Konon banyak penulis yang gigit jari karna royalti tidak sebesar bayangan mereka. Ada yang 6 bulan dapat 500 Ribu, ada yang cuma 150 Ribu, ada yang tidak menerima sama sekali. Katanya penjualan tidak ada.

Misalnya, fokus menulis untuk media.
Keuntungannya apa?
Kita bisa belajar sabar dan jadi  tau kesalahan menulis dari karya  yang dikembalikan.
Media rutin muncul baik harian, mingguan, atau bulanan. Peminat lebih banyak.
Lagi pula resiko kecil, tapi sekali menerima honor lumayan! misalnya untuk 1 cerpen, Femina bisa beri honor 1 juta



Saya memilih fokus  ke media dulu, mereka tau pasar dan kwalitas tulisan kita. Jika sudah terkumpul banyak, baru kita jadikan buku.
Dengan mengirim ke media kita juga  bisa belajar dari kesalahan karya yang dikembalikan.
Media muncul ada yang mingguan dan bulanan, peminat lebih banyak, kesempatan buat dikenal orang lebih lebar.
Resiko kecil, tapi honor besar! misalnya untuk 1 cerpen Femina di hargai 1 juta!


Semoga terlaksana yaa, amin kan doong...! :)

** Nulis lagi akh!












No comments:

Post a Comment