Monday, 1 December 2014

Keihlasan Ibu Berbuah Manis





   Bagi saya, orang yang hatinya seluas samudera adalah yang luas hati dalam menolong, memaafkan, dan mencintai.  Bukan hanya untuk keluarga, tapi seluruh mahluk hidup.

 Rumah kami di kampung letaknya di Hook. Kala hujan jalanan becek berlumpur dan licin. Sering kali kami melihat pejalan kaki berjalan lamban mencegah terpeleset dan menghindar dari cipratan lumpur ke baju. Kalau ada uang , Ibu rajin membeli ampas  kayu gergaji untuk menutupnya hingga tak terlalu berlumpur. Sambil  berdoa semoga tangan pemerintah sampai di kampung ujung Jakarta ini.

     Yang  bikin ibu sedih kalau penarik gerobak terjatuh. Waktu itu toko-toko  material mengantar pesanan  belum pakai mobil, karna  Gubernur belum membuat proyek MHT . Kasihan!... batu bata atau semen yang diangkut jatuh berantakan, sementara  kaki tukang luka terhimpit roda gerobak. Kalau sudah demikian, pasti mengungsi kerumah dan ibu obati.
                
     Satu saat tukang sampah tergelincir bersama gerobaknya, namanya Dayut. Anak usia remaja itu baru bekerja di hari pertama, jadi belum hafal jalan-jalan yang membawa masalah.
Sebilah besi jatuh tepat di punggung kakinya menyebabkan pendarahan. 
     
      Menolongnya ibu kali ini luar biasa . Ia mau-maunya memegang  kaki Dayut yang  menjijikkan, Kami saja tak tahan melihatnya. Daging Dayut agak lembek membengkak. Serupa dengan wajah dan bibirnya. Rupanya Dayut penderita lepra. Tapi ibu tidak peduli, pekerjaan membersihkan sampai membalut ia lakukan hingga tuntas!  Setelah itu Dayut diberi makan dan dibekali uang.  “Kasihan…dia dhuafa sebatang kara” kata ibu saat Dayut meninggalkan rumah.

     Sejak saat itu Dayut sering datang kerumah mengambil jatah infaknya. Tiap datang ibu tak jemu menasehati, karna dengar kabar dari orang,  tangannya suka “Nakal”.  Sedikit sekali yang mau berbincang dengan dia karna liat penampilan dan penyakitnya.
Lama-lama Dayut membawa teman senasib, bertambahlah daftar nama dhuafa yang jadi tanggungan ibu. Padahal ekonomi kami bisa dibilang “Pas-pasan”. Kalau pun ada lebih karna teman-teman mengaji ibu menitipkan zakat hartanya. 

      Saudara-saudara sampai  menasehati agar ibu membatasi. Tapi ibu bilang, “Siapapun yang datang minta tolong  ke sini, berarti pintu Allah ada disini”. Alhamdulillah teman-teman Dayut yang nakal bisa kembali sekolah. Menurut ibu mereka tidak nakal jika ada yang mau mendengar,memperhatikan kesulitan mereka dan ihlas menolong.

Ada perkataan saudara-saudara lagi  yang ibu lewatkan begitu saja, misalnya : “Heran,  kok mau sih, menerima pembantu yang bersalah  balik lagi?” Atau “Kok dibegitukan sama ipar diam saja?”  Memang ibu orangnya tidak tega-an.



      Suatu hari seorang bapak tukang daun yang tak jelas untuk apa? Ia duduk di ujung  gang, tertunduk memijit-mijit kepalanya. Kelihatan mau muntah tapi tak keluar. Ibu dan beberapa tetangga  berdatangan, ada yang memberi  minyak angin, makanan, minum dan uang. Semua iba dan khawatir  kondisinya  dalam perjalanan pulang.

      Tapi kira-kira 2 bulan sesudahnya, saya dan ibu bertemu bapak itu lagi di kampung lain. Banyak orang mengelilingi dan membantu. Tak sabar rasanya, saya ingin beritau mereka bahwa itu cuma modus. Ibu melarang lalu  tetap memberi dengan wajah  kasihan seperti yang  lalu. “Jangan ambil hak Allah, biar Dia yang menghakimi dan memutuskan, kapan bapak itu harus berhenti,” katanya.




      Ibu meninggal 14 tahun yang lalu,  pelayatnya ramai seperti seorang  ulama yang wafat. Banyak kerabat, sahabat, murid kecil sampai ibu-ibu berdatangan. Sedih lihat bapak kehilangan  pasangan hidup yang tetap hormat dan sabar menghadapi perbedaan sifat. Rasa duka bertambah saat melihat kaum dhuafa dan anak-anak asuhnya menangis. Ternyata bukan cuma keluarga  yang kehilangan. Keikhlasan hati ibu berbuah manis, selalu dalam kenangan orang dhuafa tentu beda!

      Mungkin ada lagi yang diam-diam kehilangan ibu. Kucing-kucing piaraannya yang pernah ibu  tangisi sambil memasak ikan terakhir, sebelum bapak membuang mereka ke belakang Restaurant. Bapak "Pusing" terlalu banyak kucing di rumah. Atau pasien-pasien Rumah Sakit yang pernah ibu beri tausiah, atau tukang-tukang becak yang ibu sediakan  minum saat mangkal di depan rumah. Wallahu a'lam

      Karna contoh ibu, kami  anak-anaknya semangat mengurus Yayasan Dhuafa. Berdiri 2 sekolah TK tanpa bayaran, dan beberapa anak asuh, 
Saya selalu berharap mampu meluaskan hati seluas hati ibu  dalam menolong maupun memaafkan orang lain.  Contoh sudah ada, tinggal berusaha dan minta bantuan.  Tanpa bantuan Allah tak akan mungkin, bukan?

7 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas kesempatannya Pak, salam hangat kembali dari Bogor :)

      Delete
  2. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Linknya dipasang di kalimat penutup ya

    ReplyDelete
  4. semoga Ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah ya Mbak, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin ya Rabb...terimakasih doanya Mak Ninik :)

      Delete