Saturday, 31 January 2015

Perkedel Kentangnya Ibu





Nama aslinya "Frikandel", yang artinya kentang dan daging yang digoreng.
Konon diperkenalkan oleh bangsa Belanda yang dulu datang menduduki negeri kita. Belanda sendiri mengenalnya dari Prancis yang pernah menjajahnya. Fricandeau bahasa Prancisnya.

Karna kebanyakan lidah pribumi  sulit menyebut huruf "F" maka menjelmalah nama baru. Ada yang menyebutnya Perkedel, dan ada yang menyebut Berkedel di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ini termasuk makanan kesukaan keluarga. Kalau masak sayur Sop, Soto, Capcay, atau Nasi Kuning, paling enak pasangannya perkedel.
Resep perkedel Ibu saya sederhana saja, tidak repot, dan satu khasnya, kentang digoreng, bukan direbus seperti yang di Warteg-warteg. Karna kalau direbus kadar air dalam kentang akan bertambah. Hasilnya perkedel akan lunak dan luarnya tidak renyah.


Resepnya :

- 500 gram kentang
-  2 sendok makan daging halus/kornet (Kalau ada)
-  1 sendok teh garam
-  Sejumput Pala halus ( jika suka)
-  1 sendok teh merica
-  1 butir kuning telur (Putihnya untuk olesan)
-   2 sendok makan bawang goreng
-  1 batang Baun bawang
-  1 sdt seledri tanpa batang





Cara Membuat

- Haluskan kentang yang sudah digoreng kemudian campur semua bumbu-bumbu diatas.
Setelah tercampur rata, dibentuk, celupkan pada putih telur, lalu goreng. Mudah,bukan?
Oh ya, jangan terlalu banyak daging, karna bisa pecah saat digoreng. Saya memilih tanpa daging jika pasangan lauknya ada yang berdaging seperti Sop atau Soto.



Siap Goreng...



Bila masih ada kelebihan putih telur, jangan dibuang!... Hancurkan saja kentang sisa yang belum digoreng kedalam putih telur, lalu goreng dengan ukuran 1 atau 2 sendok makan. Jadinya seperti ini...



















Friday, 30 January 2015

Orang Asing



Waktu itu sudah jam 5 sore lewat sedikit. Di luar rumah lengang seperti biasa kalau jelang magrib. Tiba-tiba kedengaran suara laki-laki mendehem. Saya ragu ... lalu menunggu deheman ke dua. Ah, saya fikir berasal dari pejalan kaki yang lewat.

Tapi nggak lama setelah itu ... kok menyusul jadi batuk? suaranya dekat.
Langsung saya ke ruang tamu menyingkap  horden pelan-pelan' soalnya belum pakai jilbab. Mungkin dia  tamu yang datang dari tadi tapi salamnya nggak kedengaran?

Dari celah secuil itu kelihatan seorang bapak usia lanjut, tidak saya kenal! Dia sedang duduk serius di bale teras. Pakai kemeja warna gelap hampir sama dengan warna kulitnya, rambut beruban tipis, berjanggut putih yang sama berantakannya. Duhh ... asli, deg-degan! Karna saya hanya tinggal berdua dengan bungsu perempuan. Suami tugas jauh dan 3 anak laki-laki semua kost.

Kalau sudah kayak gini saya lebih senang keluar dengan perasaan takut, sebelum dia menggedor-gedor pintu krn dari tadi saya tidak menyahut. Cepat jelas dan kelar lebih baik sebelum sore jadi remang-remang magrib.

Cepat-cepat saya berjilbab, sambil tanya-tanya sendiri, siapa? Mau apa?

Begitu pintu terbuka, seerrr!!! Langsung tercium bau tidak sedap! Dia sebentar menoleh ke saya setelah itu  buang pandangnya ke posisi tadi, lihat ke jalan.
Di sisis kanan ada buntelan kain lusuh, kuku tangan dan kaki kotor.

"Bapak cari siapa?" Dengan sok tenang saya tanya, pahal mah....

Tapi dia diam saja, seperti nggak ada suara orang barusan.

"Pak! Bapak cari siapa? Saya ulangi.

"Jangan tanya! Saya cuma mau duduk disini!"

Beberapa kali diminta pergi, begitu terus jawabnya.

"Saya keberatan bapak duduk di sini, kalau tidak ada keperluan, Pak!"

"Saya kan ndak menggangguuu! Kenapa situ ngelarang-larang?"

"Bapak tidak mengganggu, tapi saya terganggu!"  Saya yang  semula takut, jadi berani

"Sudahh! biarin saya disini, jangan gangguu saya!"  Diih! kok terbalik?


Waahh...nggak beres nih! Langsung saya jalan ke luar minta pertolongan. Celingak-celinguk nggak ada satu orang pun laki-laki  yang lewat.
Eh! Alhamdulillah, lewat 1 tukang ojek yang saya kenal, dan dia bersedia menolong.

'Pak! Kalau menunggu jangan disini! Ke rumah saya saja, yuk!"  Tukang ojek langsung mengajak meski kelihatan masih  heran.

Si Bapak menjawab dengan gelengan kepala, mukanya mulai galak dengan tatapan tajam.
Sementara saya bisanya cuma berdiri di belakang tukang ojek, sambil berharap orang asing itu nggak kabur dan  nekat masuk ke dalam rumah. Nggak kebayang deh, gimana kalau dia terus kunci pintu dari dalam ? Haduuh ... anak saya lagi tidur.

"Saya tidak mengganggu! Cuma mau duduk di sini, jangan paksa saya!" Berkali-kali dia bilang begitu seperti tadi.

"Saya ini, sudah dikabarkan, akan dapat wahyu di rumah ini! Ngerti?" Yakin banget bicaranya!
"Jadi, bagaimanapun saya tidak akan pergi sebelum wahyu itu turun!!"

Walaah...makin nggak beres ni orang! Di kasih duit pun nggak mau. Akhirnya si tukang ojek mengancam akan lapor ke Pak RT dan  polisi. Baru dia beringsut, pelan-pelan  ambil buntelan kain kumalnya sambil menggerutu nggak jelas, lalu pergi dengan muka marah.

Legaaaa ...

Hehe....Kenapa tadi nggak saya kasih Quran saja, ya?
"Nii Pak!... wahyunya sudah turun!"   :)








Wednesday, 28 January 2015

Menulis Sambil Belajar


Pagi ini saya iseng, buka-buka lagi postingan lama. Aih! senyum-senyum sendiri, liat segudang typo.
Banyak titik-titik ( hobby yang sampe sekarang masih tersisa), kesalahan EYD, dan melompat-lompat alurnya.

Maunya sih diperbaiki, tapi kayaknya lebih asik itu tetap ada. Biar jadi jejak perjalanan dan perbandingan kemampuan  dulu, kini dan  ke depan.

Meski sudah rutin membuat postingan, masih saja tersandung! Saya kurang teliti dan tidak hati-hati.
Penulisan preposisi yang harusnya terpisah, malah  saya sambung. 
Dirumah  ( Salah), harusnya di rumah. Di harus terpisah dengan kata tempat. Boleh bersambung kalau di depannya ada kata kerja misalnya, dimasak, dipisah.

Penulisan ke sama dengan dengan di . Menulisnya harus  ke mana, ke sana, ke sini.

Untungnya, ( biasaaa...masih cari untung!) saya selalu ingat, tidak boleh  menghubungkan dua klausa yang sederajat. Misalnya kata di mana atau yang mana. Bahasa Indonesia tidak mengenal padanan bahasa Inggris yang berasal dari who, whom, which, where.

Menulis ya menulis saja, tak perlu menunggu sampai sempurna tulisan tanpa kesalahan.
Yuk, menulis sambil belajar...dan belajar sambil menulis  :)




Tuesday, 27 January 2015

Cerpen Remaja : "Wajah Itu..."

Pagi merayap, matahari belum sempurna muncul. Dingin udara luar kubebaskan masuk lewati horden putih jahitan ibu yang cuma ukuran setengah jendela kamar. Warna hijau pekat bukit di seberang jadi terlihat langsung.  Amat kontras dengan warna horden. Semburat jingga pagi sisa sedikit, ... tipis-tipis saja tapi berlapis. Sesekali suara gesekan pohon bambu menyentuh atap genteng rumah tua ini.

"Silahkan masuk pak! silahkan...waah akhirnya sampai juga"

Kedengaran suara Bapak dari ruang tamu, Wah! tidak seperti biasanya pagi-pagi begini sudah ada tamu.

"Bagaimana? Tidak susahkan mencari rumah saya?" Tanya bapak dengan nada gembira
"Alhamdulillah ... dimudahkan perjalanannya!" Jawab tamu bersuara berat.

Seperti biasa,  bapak akan keruang belakang sebentar untuk mengingatkan tugasku. Sejak meninggalnya ibu 4 tahun yang lalu, aku banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Kami hanya 2 orang di rumah, Bang Ari yang kuliah di Yogya hanya sesekali bermalam saat libur.

Kubuatkan teh manis, dan beberapa roti kuisi coklat sisa kami sarapan tadi. Obrolan bapak dengan tamu kedengarannya seru. Suara tawa menggema dirumah kami yang hari-hari biasa sepi.

Ruang makan dan ruang tamu terpisah hanya dengan 1 tirai bermotif pohon bambu. Sesekali angin datang lembut mengayun, membuat celah. Saat menyeberangi tirai untuk mengambil baki di lemari, selintas terlihat siapa tamu bapak.posisi kursinya tepat  menghadap ke ruang tempatku. 
Dddekk!! wajah tamu itu tak asing! Wajah yang tak akan pernah aku lupa.


****
Segera kuambil keputusan, membiarkan hidangan yang siap antar itu tergeletak diam di atas meja makan. Biarlah! toh kalau lama menunggu, akhirnya bapak sendiri yang akan mengantarnya. Bapak bukan seperti bapak lain yang tak pernah pegang sapu.

Kakiku cepat langkah meninggalkan rumah. Bale tempat kumpul kami di belakang sebetulnya enak jadi sasaran.Tapi tidak kali ini! Aku harus berusaha sejauh mungkin dari orang yang ada di ruang tamu itu! Tak terbayangkan seandainya  bapak menyuruhku bersalaman saat mengantar teh...tidak! tidak!

Rumput masih basah, gesekan kakiku begitu cepat. Kiri kanan pohon talas bergoyang tersentuh,  ada bulir embun di dedaunan Talas. Kesegaran di sekeliling menyegarkan lagi peristiwa itu.

****

 Gilang dan aku bersahabat baik sejak kami kelas 1 SMA. Meski pilihan jurusan kami berbeda di tahun kedua, kami tetap dekat. Teman curiga kami berpacaran, padahal saling tau rumah pun,tidak!
Aku aman bersahabat dengan Gilang, sebab kutau  ia tak mungkin jatuh cinta denganku. Seperti apa wanita idamannya dan kapan ia jatuh cinta aku sudah tau. Rahasia seperti bara dalam tangannya, dan mendingin bila telah sampai dalam genggamanku. Seperti saat ia bercerita tentang orang tuanya yang super ketat dalam memperhatikan pergaulan anak-anaknya.

Gilang baik, tapi ia juga membawa masalah sebenarnya. Aku jadi hafal dengan tatapan teman perempuan yang iri ingin ada di posisiku. Sangat tidak enak, dan rasanya  ingin teriak, "Silahkaaaan, siapa yang melarang?"

Jalan setapak masih kususuri, di balik lereng bukit kecil ada gubuk yang kubuat bersama Bang Ari sejak dulu. Ukurannya pas-pasan, cukup untuk duduk-duduk dan berbaring sambil membaca buku. Sesekali mata lelah kami lepas dari buku, memandang punggung bukit hijau dengan sedikit taburan bunga liar warna putih dan kuning.

Kaki-kaki bisa mencumbu wajah danau yang tak jauh dari bibir gubuk.Tapi kali ini aku tak melakukannya. Satu persatu kulempar kerikil hampir ketengah. bersama kemarahan, kesedihan dan penyesalan.

Menyesal, kenapa harus minta tolong Gilang menemaniku waktu itu  mencari bahan tugas pelajaran seni ke tempat penampung rongsokan. Di pinggir jalan raya, kami tenggelam di atara timbunan barang . Mata mencari sambil merangkai ide. Gilang tipe anak patuh, tapi kadang kocak dan iseng,  sesekali melontarkan ide gilanya yang bikin aku tertawa lepas.

Kami asik mengorek dan memilih. Ide telah kudapat, membuat bunga dari kemasan plastik sekaligus pot bunga dari kotak yang nanti akan kutempeli  bros kecil yang penitinya sudah lepas, kancing, boneka kecil, pin, atau apa saja yang berhasil kami kumpulkan.

Tanpa kami sadari, sebuah mobil gagah berhenti di seberang jalan .
"Gilang...Gilang!!"  Panggilan bernada marah jelas terdengar.
"Ngapain kamu di sini? Pulang!"

Kening Gilang  berkerut, perlahan jadi warna kecewa. Sedikit kata dan permohonan maaf tak terdengar utuh. ia menghampiri mobil, didalamnya seorang bapak berwajah mirip. Tegas bicara dan membuka pintu.

Aku tak sempat lagi mencerna kata-kata Gilang. Semua terjadi cepat,  ia nampak berusaha menjelaskan sesuatu dari seberang dan kemudian menghilang. Sementara ku sibuk memikirkan kata-kata si bapak yang tidak keras, tapi meluncur membuat sakit telinga.

"Kok mau-muanya sih, disuruh antar ketempat begini?" suaranya makin mengecil terhalang jendela kaca yang perlahan menutup.

****

Bayangan pohon makin tinggi, matahari perlahan naik. Sebentar lagi mungkin bapak akan muncul dari kelokan. Kata-kata sudah kusiapkan bila bapak bertanya. Aku terbiasa bercerita apapun pada bapak sejak ibu masih ada.
Bapak bukan saja sabar dalam hidup, tapi juga sabar jadi pendengar.

Ternyata kantor percetakan tempat bapak bekerja  sering menerima orderan dari kantor ayah Gilang.
Karna pesanan mendadak dan kejar waktu, ia berusaha menemui bapak langsung saat hari libur.

"Jadi kamu ihlas kan,Rin? Kejadian itu jangan membuatmu terluka, apalagi dendam. Hari ini orang lain jadi bahan ujian kita, bukan tak mungkin di hari lain kita yang jadi bahan ujian orang lain" Itu ujung nasehat bapak setelah kuceritakan semua. Matanya seperti berharap aku mengerti akan arti sabar.

Walau sudah kutau orang tua kami berteman,tetap saja ku jatah pembicaraan dengan Gilang. Berusaha sekuat mungkin tak menceritakan kedatangan bapaknya kerumahku.Lebih suka menghindar di sekolah jika kutangkap gelagatnya ingin menghampiri. Aku bersyukur, lulus hingga akhir tak menampakkan kekagumanku yang mengarah ke...cinta. Akh, harus ku ejek diriku sendiri atas rasa itu.
Dan aku bersyukur, bisa menutup rapat kegembiraanku, waktu Rina cerita ada coretan puisi cinta untukku di lembaran akhir buku Gilang yang ia pinjam.

Kubiarkan pula teman-teman yang  heran atas perubahan kami. Seperti kubiarkan orang berpendapat, wanita dan pria tak bisa bersahabat karib. Sebab wanita mencari kenyamanan, sementara pria mencari kesempatan.

"Da, aku mah siapa atuh!" Begitu tulisan batin yang kuciptakan sendiri diam-diam...









Aman Dalam Perlindungan



Aman dalam perlindungan?
Iyaaa... ini  bingung cari judul saja.

Lepas magrib,  saya ada di jalan Citra Mall-Cibubur, hendak menunggu kendaraan  pulang.
Belum lagi mencapai pintu gerbang, kira-kira 200 meteran begitu,, kedengaran suara petasan berkali-kali. Arah suara jelas  dari teras ruko-ruko pinggir jalan yang terang menderang.

Nggak terlalu kaget dengar suara letusan itu.
Tapi begitu liat orang berlarian, suara keras perintah menyuruh berhenti lalu seseorang tersungkur di aspal. Wahhh!!...langsung cari perlindungan di sela parkiran mobil. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, ngeri  kena peluru nyasar!

Pertama kalinya saya lihat polisi berpakaian preman memuntahkan pelurunya ke udara.Tampilannya ada yang seperti orang baru pulang sholat, dan ada juga yang seperti anak tongkrongan.
"Jangan bergerak, jangan lari! Kami polisi!" suaranya keras . Duh! kirain cuma liat di TV saja yang begini-beginian.

2  pencuri motor bersenjata yang lama diincar  itu  rebah dekat roda mobil. Celana basah darah dan tangan terborgol. Beruntung 1 temannya bisa lolos.

Liat kerja nyata polisi seperti ini, rasanya amaaan dalam perlindungan.negara.
Semoga cepat punya Kapol, (*Kepala Polisi).  Tanpa terlibat politik, kepentingan, ataupun persaingan angkatan.







Monday, 26 January 2015

Pesona Fantasi...


Demi menambah uang belanja, seorang ibu muda mau bekerja di warnet. Siapa sangka, dari sanalah awal mala petaka bagi keluarganya.

Sembari mengawasi anak-anak bermain atau saat kosong tak ada pengunjung, ia mulai berkenalan dengan game. Macam-macam game yg tersedia mulai dari joget, pertempuran sampai petualangan.
Kelihatan biasa-biasa saja.

Namun setelah menyelami dan  menguasai, ia mulai tertarik dengan tawaran-tawaran game. Tokoh jagoan andalannya bisa diganti-ganti kostumnya. Karakter tokoh game terlanjur melekat dalam khayal. Kini Ia punya dunia sendiri yang indah, jauh dari realita! Ia bentuk cerita dan karakter sesuai  keinginan. Pertemuan rutin hari ke hari menjelma jadi hubungan intim dengan lawan main yang entah dimana alamatnya.

Menurut seorang sahabat yang mengalami, pemain bisa jadi couple, saling sayang,saling kissing, atau lebih dari itu. Mereka tinggal pilih mau jadi homo atau lesbi? Ada kode-kode tersendiri. Bisa jadi mereka berperan lesbi padahal yang memainkan dua-duanya pria, atau berlainan jenis.

Setahun lebih dunia fantasi itu melenakan. Hingga kabar terakhir datang, ia rela meninggalkan anak dan suami demi game! perabotan mulai ludes dijual demi mengganti kostum sang tokoh pujaan yang harganya 400.000. Bahkan ada yang lebih berkali lipat.

Keinginan bermain lebih menggila lagi setelah Warnet ditutup. Susah dikendalikan dan selalu mencari warnet lain. Alasannya masih penasaran , ia harus mengalahkan lawannya.
Menghadapinya sama dengan menghadapi orang "Sakau" bahkan lebih! Ia seperti korban narkoba merangkap korban judi. Pendekatannya beda!

Tidak mungkin membawanya ke psikolog atau ustad. Konsultasi bisa berjalan bila keinginan berubah itu sudah muncul. Salah seorang keluarga mengusulkan jalan Rukyah. Mana mungkin? ini bukan kasus "Kemasukan"

Kasus ini membuka mata saya, bahwa sebetulnya banyak ibu-ibu muda yang jadi korbannya.
Macam-macam cerita awal pemicunya. Ada yang peralihan karna dipresi, Babby Blues paska melahirkan, dan lain-lain...

"Saya kalau menjemur pakaian, yang saya ingat kostum tokoh game saya" kata salah seorang ibu...

Ibu-ibu yang luar biasa! mau membagi kisahnya demi perbaikan generasi kedepan. Jadi warning untuk ibu-ibu lain yang kerap lengah dan menganggap enteng sebuah game.
Dan...penghormatan luar biasa dari saya untuk mereka, karna mampu berjuang melewati pesona dunia fantasi itu...








Sunday, 25 January 2015

Si Centeng Sakit



Si Centeng, pulang kerumah kakinya pincang tak bisa menapak. Punggung kanan menonjol tulangnya. Mungkin dia terserempet kendaraan?
Belum lama anak semata wayangnya yang baru umur 2 minggu dimakan kucing lain, dan sekarang musibah datang lagi.

Centeng cuma bisa berbaring diatas keset depan pintu . Kami takut dia kesakitan kalau merubah posisinya. Ia tak mau makan, hanya minum susu.
Tapi heran, satu malam  dia bisa pindah sendiri ke loteng tempat jemuran. Kok bisa naik 10 anak tangga? Padahal untuk berdiri tegak tidak mampu.

Banyak yang bilang, kalau kucing menjelang mati, dia akan mencari tempat sendiri. Jarang ada kucing yang proses kematiannya disaksikan manusia.

Sudah 3 minggu Centeng lemah , makin kurus. Cuma anak saya yang bisa menyuapi dan beri minum. Saya tidak tega kalau liat dia megap-megap menerima kucuran air minum.

Setelah tanya teman, komunitas kucing  dan searching di google,  saya harus membawanya ke klinik dokter hewan. Tak ada pilihan lain! Habis, kemana lagi? Nggak mungkin kan, ke ahli tulang Cimande? :)

Sebetulnya saya berat  ke klinik hewan. Sudah terbayang biayanya! Menurut teman, amputasi kaki  biayanya 850 ribu. Belum bayar uang inap beberapa malam.
Centeng hanya kucing liar, siapa yang mau menyumbang untuk dia? Akh...nasibmu Teng!

Sambil menjemur pakaian saya bilang : "Sabar ya Centeng!...mudah-mudahan ada yang bisa bantu. Siapa tau Mahasiswa kedokteran hewan IPB butuh kucing bermasalah buat praktek mereka? Nanti ibu bawa kesana ya..."

Alhamdulillah...komunitas kucing di Facebook cepat merespon, Mereka bisa membantu biaya, asalkan saya melaporkan keadaannya secara rinci, nanti diproses. Naah prosesnya itu yang perlu waktu! Sementara Centeng makin lemah. Dia tersentak mengangkat kepala sedikit kalau dengar suara langkah kami menaiki tangga. Sentakan yang melegakan, tanda dia masih hidup.

Kemudian saya coba datangi Fakultas Hewan IPB di Jalan Pajajaran-Depan Kantor Telkom Bogor. Alhamdulillah mereka punya klinik. Dan mahasiswa yg tengah praktek di bekas rumah tua itu bilang, bisa saja menerima kucing liar, tapi tak bisa hari itu karna  dokter datang tak tentu waktu.

Sayang...esok paginya saat mau memberi makan, ternyata Centeng sudah mati...:( Sepertinya ia tak mau merepotkan. Sungguh bikin saya sedih!
Dia cuma kucing liar, tapi saat sakitnya ada di tempat ini. Berarti Allah titipkan pintu pertolonganNya disini. Itu yang bikin saya merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu!
3 ekor Ikan terakhir Centeng masih ada di Kulkas. Dia sudah terkubur di kebun seberang rumah.





Bangunan Tua Tempat Praktek Mahasiswa Fak.Kedokteran Hewan dan Fak. Peternakan:







































Friday, 23 January 2015

Wafatnya Raja Arab Saudi





Betapa sederhana prosesi wafatnya  Raja Arab Saudi, Raja Abdullah. Kecanggihan informasi mampu membuka mata penduduk bumi yang belum mengenal bagaimana Islam mengatur sebuah acara pemakaman.  Kenapa begitu sederhana? Bukankah ia masuk dalam daftar orang terkaya di dunia?

Begitulah islam, siapapun dan pangkat apapun yang kembali pada Allah, ia hanya hamba, seorang manusia yang tak ada setitik makanannya pun yang tak berasal dari Allah.  Gelimang harta statusnya cuma hak pakai. Rejeki makan, harta, fasilitas boleh beda dengan yang lain, tapi rejeki ahir kita sama...kain kafan!

Sang raja telah kembali pada yang Maha Raja. Ia berteman daftar amal.
Beliau bicara tegas khas suku Badui Arab. Pantang dipanggil dengan sebutan "Yang Mulia" apalagi mencium tangannya.

Sempat ia membuat kaget 7000 pangeran-pangeran dan putri-putri keluarga besar kerajaan, dengan memotong tunjangan mereka besar-besaran.
Ada yang menggambarkannya seperti petapa yang mengasingkan diri di gurun dari kehidupan modern. Tapi ia mampu menyimbangkannya.

Saat dapat ancaman akan digulingkan, secepatnya ia membuat keputusan. Membangun 500.000 pemukian yang menghabiskan dana 130 milyar USD. Menaikkan gaji pegawai pemerintah dan loyal pada organisasi keagamaan. Untuk mempermudah komunikasi dengan rakyat ia buka akun Facebook.

Setidaknya 2 kali ia menolak telepon presiden Obama, yang memintanya mendorong demokrasi di Arab Saudi. Baginya itu terlalu bahaya. Perbedaan pendapat dengan rakyat tidak harus dengan cara terbuka di jalan-jalan. Pejabat tinggi keagamaan kerajaan menyatakan bahwa Islam melarang protes di jalan-jalan. Ketidak puasan pada pemerintah dapat di utarakan perwakilan rakyat dengan berdialog face to face.



( Sumber Berita : The New York Times, 22 Januari 2015.)


Pemakaman Yang Sesuai Sunnah (Contoh Rasul)

- Tidak ada salvo
- Tidak berlebihan dalam memperlakukan jenazah
- Tanpa azan
- Nisan sederhana
- Tidak bercampur laki-laki dan perempuan
- Tidak membaca Yassin di makam

















Antologi Pertama





Seperti embun perlahan turun, menghapus debu kemarin. Luruh sudah minder saya dengan hadirnya satu karya.Memang belum yahud rasanya kalau bukan buku sendiri yang terbit. Membayangkan indahnya nama kita terukir di sampul cantik, terpampang di rak-rak toko buku.
Namun...tak ada satu buku tanpa memulainya dengan satu titik,bukan?

Munculnya antologi pertama  ini mungkin cuma remah halus di mata orang lain. Tapi bagi saya ia adalah ujung panah yang melesat kesasaran. membuat saya tak ragu lagi kemana tujuan pandang saya untuk memupuk dan membesarkan kemampun.

Tak ada tujuan lain saya menulis ini
Cuma ingin meyakinkan teman-teman yang mungkin sama dengan saya kemarin-kemarin. Tidak percaya diri, melihat karya orang lain selalu lebih hebat, merasa cuma orang lain yang bisa.
Semua akan hilang dengan satu kata :  "Mencoba"

Tujuan lain adalah untuk berterimakasih kepada IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis), tempat saya belajar menyusun kata, berguru pada guru-guru yang ihlas, sekelas dengan teman-teman yang renyah candanya, miss u all :(

Terimakasih juga untuk KEB  (Kumpulan Emak Bloger) yang gejolak semangat emak-emaknya dalam menulis bikin saya terengah-engah mencoba mengimbangi. Senang berkawan dengan sahabat yang ihlas berbagi informasi dan menyemangati.

Terimakasih buat GusLik, Mas Belalang Cerewet, Mak Tri Wahyuni, dan Mbak Diadjeng Laraswati, Senang bisa menyatu dengan penulis-penulis yang sudah banyak terbit buku-bukunya. Im so proud of you....:)





Apresiasi dari Penerbit Sixmidad

Sungguh saya tidak menduga, resensi buku Hati Seluas Samudera yang saya tulis dan dimuat salah satu di media cetak, di apresiasi begitu baik dari pihak Penerbit Sixmidad.

Setelah foto resensi yang dimuat di media tersebut, pihak penerbit Sixmidad meminta saya mengirimkan file foto resensi yang dimuat tersebut beserta data diri dan alamat lengkap saya ke email mereka.

Alhamdulillah, setelah membalas email tersebut, tidak lama saya mendapatkan apresiasi reward dari penerbit sixmidad. Sungguh saya tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan atas tulisan resensi buku Hati Seluas Samudera ke media. 



Resensi buku Hati Ibu Seluas Samudra, dimuat di Media Koran Jakarta Rubrik Perada, Jumat 23 Januari 2015. Selamat membaca.
Ada 2 versi, ini versi online nya http://www.koran-jakarta.com/…
Sukses selalu buat kita semua. Colek pakde GusLik Galaxi dan mas RudiBelalang Cerewet







Thursday, 22 January 2015

Blog Yang Mau Menolong


Waktu baru bikin blog, seperti orang yang ngelamun  di tengah pasar. Makin banyak blog yang dikunjungi untuk belajar malah bingung dan minder. Lalu saya follow blog-blog keren untuk jadi pola saya dalam membentuk imej pembaca.

Nyatanya, mecontoh blog sekeren apapun kalau tidak mencerminkan diri kita bisa mengakibatkan mati semangat dan macet ide. Tidak mungkin kita dipaksa jadi Raditya atau Ibu Lili yang blognya banyak dikunjungi pembaca.

Pelan-pelan saya belajar, bermodalkan halaman dan password blog yang dibuatkan anak saya.
Selanjutnya cari sendiri ke google atau mengikuti tutorial blog di youtube. Cukup sulit untuk emak-emak yang "Gaptek Asli" seperti saya. Hasil memungut ilmu sana-sini  lumayan lah, buat bantu teman yang datang kerumah ingin belajar memulai nge-blog ( Basic banget sih...)

Makin banyak blog yang saya kenal, makin tau bahwa blog yang jadi pujaan saya dulu ternyata tidak ada apa-apanya.
Blog yang cantik menarik di mata saya bukan lagi  blog yang cuma menceritakan pengalaman, sarat dengan foto-foto luar negeri, atau cerita prestasi. Tapi blog yang tulus berbagi dan mau menolong seperti blog sahabat saya Annisa Steviani. Dia punya proyek jasa menolong emak-emak yang ingin mengganti tampilan blog nya yang usang tapi tidak tau caranya. Bisa lihat tawarannya di DI SINI.
Nama proyeknya nya saja  "Happiness".  Tanpa beban ingin menyenangkan orang lain.

Dalam keterbatasan waktu ia bisa mengerjakan minimal 2 blog orang dalam 1 minggu. Wahh!
Lihat tuh! yang ngantri udah banyak!...:)

Wednesday, 21 January 2015

Cepat Dan Tidak Repot





Ada sahabat  lama yang ingin saya kunjungi, tapi karna kami selalu selisih waktu kosong, acara temu gagal terus.  Berteman dari kuliah sampai berumah tangga sejak 30 tahun yang lalu, hingga saling kenal keluarga besar masing-masing.

Saya sering ingat jika datang hari-hari penting mereka. Keinginan menggebu-gebu ingin hadir, apa daya!...:(
Tapi rasa  kangen suka datang juga meski tak diingatkan oleh hari penting. Menyenangkan bisa membuat kejutan untuk orang yang kita sayangi. Yaitu mengirim makanan kesukaan keluarganya.
Kepengennya sih, mengirim makanan itu dalam keadaan hangat, siap santap. Tapi  Bogor- Jakarta kan jauh...

Beruntung punya sahabat juga yang pinter, hobby, dan  punya usaha MASAK dan KIRIM.
Dewi namanya , tinggal di wilayah Bintaro.
Risolesnya maknyuus...!! anak-anak saya suka risoles dengan isi mayo. Hehe, kalau tega sih, pengennya minta dikirim ke Bogor .

Pernah saya minta Dewi kirim kue Ultah untuk anak sahabat saya. Asiiikk.. gampang banget!
Tanpa meninggalkan tugas, saya  bisa menyenangkan hati sahabat yang jauh! Legaaaa rasanya! Tinggal ...klik! klik Face booknya   DI SINI , atau pencet nomor HP :
08131  465  3454. Ke Nomor PIN nya juga bisa!  29DE28D3.

Nggak sekali atau dua kali kita ketemu waktu mepet... capek... tapi harus menyiapkan hidangan buat acara keluarga. Jangan khawatir! Ada yang cepat dan tidak repot!
Langsung saja hubungi nomor-nomor diatas!  Atau pas lagi di depan komputer? Tinggal klik saja     DI SINI!

 Gimana soal rasa? Alhamdulillah tidak mengecewakan, buktinya sahabat saya jadi berlangganan setiap ada acara dirumahnya. Silahkan pesan!...:)






Tuesday, 20 January 2015

Ngerjain Si Kecil



Sudah lamaaaa sekali  tidak ada anak kecil dalam keluarga kami . Keponakan paling kecil usianya sudah 9  tahun tapi tinggal di Paris. Jadi begitu lahir  bayi laki-laki "Pendatang Baru" ini,  luar biasa senengnya! Betul -betul jadi hiburan dan mainan.

Seperti balita laki-laki yang lain, dia tidak bisa diam. Lengah sedikit, barang apa saja bisa jatuh dari atas meja. Pernah satu saat ( Abim namanya) sudah mandi, bersih, wangi siap pergi, tiba-tiba ia menumpahkan cat lukisan mamanya! Terpaksa... mengulur waktu pergi dan harus mandi ulang.

Tadi malam saat dia datang, kakak sepupunya iseng  memakaikan hijab. Bisanya tak boleh ada benda apapun di kepalanya. Topi selalu dibuang.
Pas pakai hijab, mendadak kalem! mungkin dia mersa aneh? hangat? atau bingung karna semua yang ada di ruangan  ketawa sambil rame-rame berebutan ambil gambarnya, sebelum dia gesit lagi merangkak  keliling ruangan.

Ada kesiannya juga sih, ngerjain si kecil yang tak berdaya... tapi terlanjur lucu!  :)


                     


                     




235 Gigi Dalam 1 Mulut


Itulah,  mengapa sebabnya kita dikatakan tak akan pernah bisa menghitung nikmat.
Makin menghitung, makin hilang kesempatan untuk menghitung. Kenikmatan Allah saking banyaknya, saking cepat argonya,  sampai tak ada waktu untuk sekedar mengucapkan terimakasih.

Bagaimana tidak? Saat kita mengucap "Alhamdulillah" kita jadi ingat, lidah adalah fasilitas dariNya. Pita suara, nafas, otak motorik, dan yang termahal adalah kesadaran untuk mengucapkan itu atas bimbingan Allah juga.

Pagi ini tanpa sengaja saya menemukan video youtube menayangkan operasi  seorang remaja  India yang punya gigi 232. Merinding melihatnya!





Allah sayang maka Allah menjaga sehalus apapun yang ada dalam tubuh kita. Seperti Ia menjaga peredaran bulan dan matahari. Salah satu firmannya ada yang mengatakan bahwa, sesungguhnya penciptaan diri manusia lebih rumit dari penciptaan langit dan bumi. Telah Allah ingatkan, dalam tubuhmu sendiri ada ilmu yang luar biasa dahsyat!
Tanpa penjagaan Allah maka rambut kita, kuku, alis mata, bulu hidung, bisa panjang-panjang menyeramkan. Kita dibikin sibuk mengurus dan memikirkan.

Banyak lagi tayangan-tayangan aneh. Dan saya yakin masih banyak yang belum terekspos.
Tapi, Allah membuat kasus itu sedikit  dibanding penciptaanNya yang menyempurnakan dan membaguskan manusia. Itu hanya peringatan dan tanda kekuasaaNya. Agar manusia mau menghitung kekayaan dan kenikmatan tak nampak. Bukan cuma menghitung   "Hasil Keringat"

Kasus lainnya ada manusia akar, karna kutil/kulit mengeras  di tangan dan kakinya tumbuh sampai seperti pisang bergelantungan, ada wanita yang orgasme terus sampai 50 kali dalam 1 hari, kasus cacing-cacing yang keluar dari pori-pori kepala, dan lain-lain. Semoga jadi pengingat...






Makin Tinggi Ilmu, Makin Takut

Hari ini kebanyakan acara...
Capek, sampe  nggak sempet nulis blog siang-siang seperti biasanya.
Pagi ikut kajian, siang ke pasar , cari dokter hewan, dan jelang sore tugas mengajar.

Alhamdulillah, hawa sejuk sepanjang hari, matahari lagi ngumpet.
Jadi, panas dalam angkot  tak sepanas  biasanya.

Kajian hari ini masih membahas masalah Adab Mencari Ilmu. Kata-kata ustad yang nempel banget saat beliau bilang :

Makin tinggi ilmu seseorang harusnya semakin ia takut pada Allah. 
Saya jadi ingat, ibu dari salah seorang ulama besar pernah menasehati anaknya saat sang anak membaca buku agama.

"Meski cuma sebaris huruf, ulangi bacaanmu 10 kali, kalau bacaanmu itu belum membuatmu takut pada Allah!"

Semoga bisa mengamalkan...







Sunday, 18 January 2015

Sempat Ambil Gambar




Selesai belanja, saya ke stand sosis yang lagi digemari anak-anak muda. Bukan karna penasaran pengen coba, tapi karna lagi laper tanggung.

Saya pilih tempat duduk di teras belakang Bogor Trade Mall, pemandangannya bagus! walaupun terganggu dengan sedikit asap rokok dan riuh becandanya anak muda.
Lalu, datanglah pesanan saya. Nggak sangka, tampilannya manteep!
Padahal waktu pesan saya hanya membayangkan Sosis dengan kentang goreng saja.

Karna menggoda selera sebelum makan saya abadikan dulu. jepreett!!  jepreet!!
Setelah ponsel masuk tas dan siap makan, tiba-tiba pelayan datang... "Maaf bu, ini pesanan orang!"
Haahh??... untung nggak langsung santap dan sempat ambil gambarnya duluan! Hihi..

Pesanan saya yang ini niih..









Saturday, 17 January 2015

Obrolan Pagi Dengan Anak-anak


Gara-garanya saya cuma tanya:

"Kenapa ya kalau liat rekaman video orang-orang barat enak diliat, terkesan gambarnya bersih, jelas"

Salah satu jawab : "Karna mereka cari latar belakang yang nggak banyak barang, trus rumah mereka juga punya tata letak barang yang nggak ribet dan fungsional"

Yang lain jawab : " Pencahayaan lampunya juga nggak satu, mereka biasa pakek lampu duduk, lampu sudut, yang pengaruhi suasana. Cahaya dari jendela juga dimanfaatkan, jadi dengan kamera biasa hasil gambar tetep bagus"

Saya bilang : "Iya ya... ambil gambar harus teliti. Kalau kebanyakan atau kebanyakan obyek dibelakang, bikin penonton jadi nggak fokus. Apalagi kalau tembok kotor, rumah berantakan dan gambarnya nggak bisa diem, ngganggu banget deh!"

Yang lain nyahut : "Kalau yang sering bikin itu sudah hobby, biasanya mereka juga siap lampu sorot, emang niat bikinnya,Ma.."

Pembicaraan jalan terus sampe berubah masalah interior.
Intinya mereka sebel dengan rumah yang interiornya njelimet dan nggak manfaat. Menurut mereka kita disini masih senang show off. Bikin rumah untuk menyenangkan orang lain, bukan untuk diri sendiri. Makanya kalau lagi musim satu model, semuaaa ikut.

Banyak yang memaksakan diri supaya kelihatan Wahh! tapi akhirnya menyusahkan dan mubazir. Misalnya model pilar-pilar, kalau di Bogor yang kota hujan sebetulnya kurang cocok, apalagi nggak rutin ngecat, akibatnya banyak pilar rumah terkelupas, atau berjamur.

Atau model rumah dengan banyak balkon,  nggak ada manfaat! Sampai berdebu tidak pernah ada yang duduk-duduk disana. Jendela asal bagus, tidak difikirkan sebelah mana yang baik untuk menerima matahari sore atau pagi?

Hihi...sarapan pagi kok jadi ngebahas rumah? Nggak apa-apalah! jadi tau keinginan / selera mereka  kalau punya rumah nanti...




Memberi Atau Tidak?





Ada 2 gadis kecil jalan hati-hati diantara ibu-ibu yang lagi serius ikut kajian.
Jilbabnya lusuh, bajunya tidak  sempurna baju  muslim. Satunya pakai rok merah seragam sekolah.
Mereka menuju lemari  mengembalikan mukena yang baru mereka pakai.

Waktu berbalik mau keluar mesjid, kelihatan tangannya pegang toples transparan berisi uang.
Kami bisik-bisik ngobrol. Katanya mereka selesai dagang kueh.
Karna tergesa dan  takut mengganggu kajian, saya lupa tanya dimana rumahnya?
jadi nyesal melepas mereka begitu saja, hanya dengan pemberian seadanya.



Di stasiun Bogor juga begitu! Saya pernah terkesima dan cuma ngobrol singkat waktu ketemu anak SD pulang sekolah langsung pulung sampah di tempat becek basah.
Lagi-lagi saya hanya memberi seadanya, tanpa sempat tukar uang, karna liat dia sudah  duduk di becak bapaknya.
Serba salah kalau sudah begitu. Tak semua orang tua suka anaknya di beri meski mereka dhuafa.

Ada yang bilang , nggak baik memberi kepada dhuafa yang semangat berdagang/berusaha. Khawatir mereka akan keterusan, lebih  mengharap orang memberi daripada membeli. Apa iya?





Thursday, 15 January 2015

Mood Masak


Malem-malem,  putri saya semangat mau bikin Pizza. Dari satu adonan bikin 2 macam.
Pizza daging halus, pizza nanas, dan sisa daging diolesi ke sisa roti tawar tadi pagi.
Pas ada abang-abangnya lagi kumpul, jadi dari 2 loyang besar, tinggal segini!





Bikin pizza mudah banget, cuma ngulenin adonan terigunya yang lumayan lama.
Pizza buatan sendiri juga murah bahan-bahannya, kecuali harga kejunya. Keju leleh Mozarella sekarang harganya 45.000. Tapi kepakek separo saja sih...Bisa kita gunakan sisanya untuk masakan lain.

Kalau anak  punya mood masak, ikuti saja...supaya nanti-nanti dia tidak menganggap pekerjaan itu berat. Walaupuunn....hehe, dapur rada berantakan! :)










Wednesday, 14 January 2015

Lirikan Pertama Pada KEB





Dalam ketidak pahaman saya tentang blog, berkelilinglah saya menelusuri taman blog yang aneka warna itu. Semua blog biasa-biasa saja rasanya, mungkin karna berisi tutorial-tutorial... Akh, pokoknya sesuatu yang tehnologi banget! "Da saya mah apa,atuh?"  Cuma seorang ibu gaptek.
Blog juga yang bikin anak saya, sampai ke password nya segala!

Lirikan Pertama

Karna penasaran, blog siapa sih, yang paling asik menurut mayoritas peselancar maya?
Terbenturlah mata pada daftar blog favorite dengan rangking tinggi. Kalau tidak salah tangga ke 3 diduduki oleh seorang ibu. Blognya  bernama bundadontworry.
Wahhh!! dari judulnya saja sudah kreatif. Meluncurlah saya kesana. Berenang menikmati pandangan-pandangan bijak seorang ibu yang kaya pengalaman.

Di sisi kanan nampaklah logo Komunitas Emak Bloger (KEB) yang pink lembut itu. Ibu Lili pemilik blog yang cerdas pasti selektif dalam memilih satu kumpulan yang cocok dengan kepribadian dan pandangannya.
Bukankah orang  tak sejiwa hanya sebentar  bertahan dalam satu komunitas?
Bertandanglah saya ke Facebook dan blog-blog berlogo KEB dan disana menemukan apa yang disebut "Berbagi". Pas! dengan yang saya cari dan saya mau.

KEB Berani Tampil

Saat mendaftar, KEB sedang repot-repotnya mempersiapkan pesta ultahnya yang terheboh di Jakarta.
Sebagai orang baru, saya hanya duduk di pojokkan menyaksikan kesibukan mereka.
Status-status FB nya benar-benar terlihat kerjasamanya, semua sibuk! Tapi mereka sempat rame-rame mengucapkan selamat datang pada saya. Waaw banget deh, pokoknya!

Tau diri doong, sebagai orang baru, yang blognya masih sepi postingan, sepi pengunjung. Satu hari cuma 10 orang,Mak! Jangan harep ada komentar, apalagi follower, ada yang baca saja sudah bagus!
Ehh...tiba-tiba salah seorang panitia yang inbox, saya ditawari jadi pragawati!

-Mak...mau ya, jadi peragawati" *Panggilan Mak nya akrab sekali, bikin nyesss hati.
-Maaf Mak, apa tidak ada yang lain? saya sudah tua lhoo!
-Nggak apa-apa Mak, komunitas kita beragam umur!

Saya lupa siapa nama sahabat saya itu. Pokoknya terimakasih banget sudah merengkuh, mengusir rasa canggung saya. Dan...meski akhirnya saya tidak hadir ada acara itu karna masih merasa anak baru, takut salah gaya, saya bisa melihat keakraban dan saling sayang di antara anggotanya.
Kalau nggak begitu, nggak akan mungkin anggotanya mbela-belain datang jauh-jauh dari daerah.

Apalagi setelah melihat Mak Mira sebagai Mak Pon (Maksudnya "Founder") Mak Julia sebagai Mak Min (Admin), dan Mak Arin sebagai Srikandinya KEB di wawancarai Net TV. Bangga luar biasa menjadi bagian dari mereka yang kreatif, pandai, melek tehnologi, dan hangat ini.

Kekeluargaan

Sekarang pertemuan dengan pengurus KEB sudah sering pada moment-moment tertentu. Wajah Mak Mira, Mak Shinta, Mak Lidya, bisa ditatap langsung dan bisa dinikmati keramahan dan kekeluargaannya. Seperti sahabat lama yang baru jumpa, mereka mengenalkan anak-anaknya dan menyruh mereka bersalaman, Hmmm sejuuk!!


Rasa kagum juga hadir disaat copy darat atau pun dalam status FB, anggota saling ihlas berbagi apa saja yang mereka tau dan mereka mampu. Dari masalah komputer sampe masalah dapur.
Bagi saya itu seperti virus ganas yang cepat menular. Menghinggapi satu persatu, siapa saja yang baru masuk ke dalam dunia KEB, keren, kan?

Seperti acara Arisan Ilmu yang saya hadiri baru-baru ini. Emak yang ahli di bidang bloging dan sering dapat Job Riview membagikan ilmunya dengan gratis,tis! Anggota ihlas  mengisi kesenangan dengan   berbagi kue sederhana.


Dok: Mak Mira


Sumber Inspirasi

Berkumpulnya emak-emak satu dalam kebutuhan dan satu cita-cita, tentu melahirkan tulisan-tulisan menarik. Mudah mencari informasi, dan positif dalam bersaing karya lewat Give Away (GA). Huruf-huruf hasil pemikiran dan sudut pandang berbeda adalah simpanan kekayaan KEB. Dari sana inspirasi terpancing! Saya makin giat menulis, dan sedikit demi sedikit pupus rasa tidak percaya diri dalam menampilkan karya. Alhamdulillah blog saya pun jadi mendapat ratusan pengunjung.

S a r a n :

Pernah saya dapati 3 kejadian yang mengusik ketenangan KEB. Saat muncul postingan  yang membuahkan perbedaan pandang tentang masalah jilbab, tarif Job Riview, masalah ASI, dan perbandingan  wanita bekerja dengan ibu rumah tangga murni.
Kelihatan sekali masing-masing mempertahankan cara fikirnya sendiri, tanpa memperhatikan kebutuhan dan keadaan orang lain. Sekedar keluar unek-unek boleh saja, tapi iringilah dengan pandangan netral agar tak menyesakkan pembaca yang tak sefaham.

K r i t i k
Pernah juga sih, ngenes dua kali! Saat kopdar ketemu dengan anggota yang hanya memberi ujung jari saat bersalaman tanpa senyum. Satu orang lagi yang saya temui, seperti takut ditanya ia langsung menghindar. Tapi jumlah yang sumringah, tawa lepas seperti foto di atas jumlahnya lebiiiih banyak. So kejadian yang nggak ngenakin bisa terhapus dengan sendirinya.
Hari ini orang lain jadi bahan ujian kita, bukan tidak mungkin hari lain kitalah yg jadi bahan ujian orang lain, ya kan?


Selamat ultah KEB ku...
Dirimu makin cantik dengan hiasan keakraban dan kecerdasan
Engkau riuh...gegap gempita...tak pernah sepi!
Tapi engkau juga tempat yang paliing lengang untuk istirahat
Selagi status-status garang berterbangan di luar sana!
Selagi gambar-gambar sampah dan pemikiran sampah membludak di luar sana!
Salam penuh cinta...










Tuesday, 13 January 2015

Ayam Saus Nanas





Karna bukan ahli masak...jadi saya kepingin sedekah resep yang anak-anak saya suka saja.
Salah satunya ayam berbalut terigu campur saus nanas ini.
Di awal bikin, anak-anak lansung suka. Tapi, nggak sempurna kalau terlalu lancar sukses. Anak-anak complain, "Nanas dan kuahnya banyakin doong,Ma!"
Lidah mereka benar! Ayam ini terasa segarnya, dan hilang amis daging setelah saya tambahkan.
Jadi, banyaknya Nanas tergantung selera saja yaa...

Demikian juga untuk paprika yang bisa mempercantik tampilan dan memancing liur. Bagi yang suka pedas ganti saja dengan cabe besar hijau dan merah. Lebih murah dan lebih mantep!
Makanya saya tampilkan lagi resep yang pernah saya posting dahulu, karna koment anak-anak yang sangat membantu.


**Jangan lupa, Kalau mau dibawa piknik atau untuk sedekah buat orang, atau untuk prasmanan, sausnya di bagi 2 sebelum diaduk bersama daging. Sebagian diaduk bersama ayam, sebagian lagi buat disiram saat siap santap.
Kenapa begitu? Sebab jika lama didiamkan, saus jadi berkurang. Makan dengan masih ada kuah saus rasanya lebih... Jreeenng!!

Bahan :

1/2 Kg daging ayam ( Fillet)
1 buah nanas yang kecil
1 butir telur
4 sdm terigu






Untuk rendaman:

3 sendok makan cuka
2 sdt garam
1 sdt lada halus
sedikit air putih



Bumbu :

1/2 cabe Paprika merah
1/2 cabe Paprika hijau
1/2 potong bawang bombay
1 batang daun bawang
1 botol saus tomat yang ukuran kecil
2 sdm kecap manis
Lada halus, garam dan gula pasir.

Cara Membuat:

Lumuri dulu daging ayam yang sudah di fillet bersama cuka, garam dan lada halus, selama 1/2 jam.


Setelah itu bilas lalu tiriskan.
Beri 1 telur kocok, dan taburi 4 sendok  makan munjung terigu lalu adu rata. Siap digoreng






Tumis paprika/cabe besar bersama bawang bombay. Setelah harum, masukkan potongan Nanas dan saus tomat. Aduk-aduk sebentar lalu masukkan gorengan ayam. Beri gula dan garam, kecap, lada halus.
Gula dan garam sesuai selera. Paling enak kalau asin, manis, pedas, dan asam nanasnya seimbang.





Bila hendak dibawa jauh, baiknya saus dipisah , lalu siram jelang makan...





Monday, 12 January 2015

Saat Ambil Darah

"Banyaklah menanam... buah ranumnya akan jatuh tepat di tangan saat kau lapar"


Bapak saya harus periksa darah lagi untuk mengetahui penyakitnya. Kemarin saja susah membujuk beliau ke klinik, setelah berhasil , susah pula saat pengambilan darah. Berkali-kali ditusuk jarum pada lengannya. Untung beliau mau sabar.

Beberapa hari kemudian dokter minta cek lab lagi beberapa item, karna trombosit bapak turun. Hasil lab akan meyakinkan dokter, bapak terkena Demam Berdarah atau tidak?
Wahh... kami mikir bagaimana cara membujuk jilid 2?

Menjelang magrib datanglah jemaah bapak, seorang ibu dan seorang bapak, mereka mau tau keadaan bapak dan jam istirahatnya, agar rombongan yang rencana datang ba'da magrib tidak mengganggu istirahat bapak. Tanpa terasa persoalan cek darah keluar begitu saja dari mulut.

Masya Allah...ibu itu langsung memberi informasi ada anak sahabatnya yang bekerja di RS. Kramat Jati. Ia bisa datang langsung kerumah mengambil darah bapak.
Alhamdulillaaaah...syukur tak terkira kami panjatkan.

Senin pagi petugas itu datang, kehadirannya membuat bikin bapak bahagia, ia adalah murid bapak di SMA duluuu sekali. Pengambilan begitu mudah! urat bapak yang dibilang suster terdahulu sangat sulit dicari ternyata hanya sekali tusukan langsung lancar keluar.

Ada lagi yang bikin bahagia...
Pemeriksaan yang biasanya dikenakan biaya sampai 900.000 ribu, hari itu ia cuma minta 50 000! Dan ia bersedia mengurus kartu Askes Bapak .Kami sampai bingung, dengan apa membalasnya?

Saat menyerahkan hasil lab, nyatanya trombosit bapak sudah normal dan tak ada yang perlu di khawatirkan. Sebelum pamit, ia tak mau menerima bayaran lebih dari kami, hanya minta doa bapak, agar niatnya pergi berhaji tahun depan bisa terlaksana.

Hari ini dapat pemandangan indah,  2 orang yang sama-sama senang memudahkan orang lain. Yang satu sedang melakukan, yang satu sedang menikmati hasil. Ada doa guru, ada keihlasan murid.

Bukti bahwa Allah itu pemalu dan tak mau berhutang pada hambaNya.

Sunday, 11 January 2015

Naik Eretan


Ada masa kita tak bisa berbuat walau ingin, walau punya waktu dan kesempatan.
Seperti akhir-akhir ini banyak yang saya ingin tulis, tapi mengurusi rumah, mengurus sakit Bapak di Jakarta, dan memenuhi undangan sahabat, lumayan bikin lelah. Sedikit naik spaneng kalau liat rumah berantakan dan lantai ngeres berdebu.
Waktu lowong ada sih...cuma untuk istirahat saja, sambil memandang PR yang sedang menanti disentuh. Nggak suka, nggak betah, tapi belajar menomor dua kan mereka.

Kasih hak badan dulu! kumpul tenaga sambil melakukan yang ringan-ringan menyenangkan.
Cuma nikmati teh manis dingin, sambil liat-liat hasil jepretan tadi sewaktu naik "Eretan" menyebrangi sungai ciliwung.

Ke rumah sahabat saya di Kompleks Cibalagung-Bogor Selatan sebetulnya bisa naik angkot sekali lagi. Tapi serba tanggung, harus jalan kaki jauh setelah itu. Lebih enak lewat jalan pintas ini yang lama  diributkan warga kompleks dan penghuni bantaran sungai. jadi belum bisa berharap  akan berdiri jembatan disini. Mungkin orang kompleks memikirkan keamanan yaa..

Seribu perak sekali nyebrang. Liat sungai yang sebetulnya indah jika tak ada sampah dan pemukiman padat, kotor, semerawut...































































































Saturday, 10 January 2015

Malam Di Stasiun Bogor




Parkiran Motor 2 lantai




Gerbong khusus wanita tetap nyaman meski sepi




Waktunya mandi...




Disain dan warna bangku yang saya suka.



Dua kereta bergerak



Kalau siang hari begini...
Dimana lagi stasiun berlatar belakang gunung?