Tuesday, 27 January 2015

Cerpen Remaja : "Wajah Itu..."

Pagi merayap, matahari belum sempurna muncul. Dingin udara luar kubebaskan masuk lewati horden putih jahitan ibu yang cuma ukuran setengah jendela kamar. Warna hijau pekat bukit di seberang jadi terlihat langsung.  Amat kontras dengan warna horden. Semburat jingga pagi sisa sedikit, ... tipis-tipis saja tapi berlapis. Sesekali suara gesekan pohon bambu menyentuh atap genteng rumah tua ini.

"Silahkan masuk pak! silahkan...waah akhirnya sampai juga"

Kedengaran suara Bapak dari ruang tamu, Wah! tidak seperti biasanya pagi-pagi begini sudah ada tamu.

"Bagaimana? Tidak susahkan mencari rumah saya?" Tanya bapak dengan nada gembira
"Alhamdulillah ... dimudahkan perjalanannya!" Jawab tamu bersuara berat.

Seperti biasa,  bapak akan keruang belakang sebentar untuk mengingatkan tugasku. Sejak meninggalnya ibu 4 tahun yang lalu, aku banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Kami hanya 2 orang di rumah, Bang Ari yang kuliah di Yogya hanya sesekali bermalam saat libur.

Kubuatkan teh manis, dan beberapa roti kuisi coklat sisa kami sarapan tadi. Obrolan bapak dengan tamu kedengarannya seru. Suara tawa menggema dirumah kami yang hari-hari biasa sepi.

Ruang makan dan ruang tamu terpisah hanya dengan 1 tirai bermotif pohon bambu. Sesekali angin datang lembut mengayun, membuat celah. Saat menyeberangi tirai untuk mengambil baki di lemari, selintas terlihat siapa tamu bapak.posisi kursinya tepat  menghadap ke ruang tempatku. 
Dddekk!! wajah tamu itu tak asing! Wajah yang tak akan pernah aku lupa.


****
Segera kuambil keputusan, membiarkan hidangan yang siap antar itu tergeletak diam di atas meja makan. Biarlah! toh kalau lama menunggu, akhirnya bapak sendiri yang akan mengantarnya. Bapak bukan seperti bapak lain yang tak pernah pegang sapu.

Kakiku cepat langkah meninggalkan rumah. Bale tempat kumpul kami di belakang sebetulnya enak jadi sasaran.Tapi tidak kali ini! Aku harus berusaha sejauh mungkin dari orang yang ada di ruang tamu itu! Tak terbayangkan seandainya  bapak menyuruhku bersalaman saat mengantar teh...tidak! tidak!

Rumput masih basah, gesekan kakiku begitu cepat. Kiri kanan pohon talas bergoyang tersentuh,  ada bulir embun di dedaunan Talas. Kesegaran di sekeliling menyegarkan lagi peristiwa itu.

****

 Gilang dan aku bersahabat baik sejak kami kelas 1 SMA. Meski pilihan jurusan kami berbeda di tahun kedua, kami tetap dekat. Teman curiga kami berpacaran, padahal saling tau rumah pun,tidak!
Aku aman bersahabat dengan Gilang, sebab kutau  ia tak mungkin jatuh cinta denganku. Seperti apa wanita idamannya dan kapan ia jatuh cinta aku sudah tau. Rahasia seperti bara dalam tangannya, dan mendingin bila telah sampai dalam genggamanku. Seperti saat ia bercerita tentang orang tuanya yang super ketat dalam memperhatikan pergaulan anak-anaknya.

Gilang baik, tapi ia juga membawa masalah sebenarnya. Aku jadi hafal dengan tatapan teman perempuan yang iri ingin ada di posisiku. Sangat tidak enak, dan rasanya  ingin teriak, "Silahkaaaan, siapa yang melarang?"

Jalan setapak masih kususuri, di balik lereng bukit kecil ada gubuk yang kubuat bersama Bang Ari sejak dulu. Ukurannya pas-pasan, cukup untuk duduk-duduk dan berbaring sambil membaca buku. Sesekali mata lelah kami lepas dari buku, memandang punggung bukit hijau dengan sedikit taburan bunga liar warna putih dan kuning.

Kaki-kaki bisa mencumbu wajah danau yang tak jauh dari bibir gubuk.Tapi kali ini aku tak melakukannya. Satu persatu kulempar kerikil hampir ketengah. bersama kemarahan, kesedihan dan penyesalan.

Menyesal, kenapa harus minta tolong Gilang menemaniku waktu itu  mencari bahan tugas pelajaran seni ke tempat penampung rongsokan. Di pinggir jalan raya, kami tenggelam di atara timbunan barang . Mata mencari sambil merangkai ide. Gilang tipe anak patuh, tapi kadang kocak dan iseng,  sesekali melontarkan ide gilanya yang bikin aku tertawa lepas.

Kami asik mengorek dan memilih. Ide telah kudapat, membuat bunga dari kemasan plastik sekaligus pot bunga dari kotak yang nanti akan kutempeli  bros kecil yang penitinya sudah lepas, kancing, boneka kecil, pin, atau apa saja yang berhasil kami kumpulkan.

Tanpa kami sadari, sebuah mobil gagah berhenti di seberang jalan .
"Gilang...Gilang!!"  Panggilan bernada marah jelas terdengar.
"Ngapain kamu di sini? Pulang!"

Kening Gilang  berkerut, perlahan jadi warna kecewa. Sedikit kata dan permohonan maaf tak terdengar utuh. ia menghampiri mobil, didalamnya seorang bapak berwajah mirip. Tegas bicara dan membuka pintu.

Aku tak sempat lagi mencerna kata-kata Gilang. Semua terjadi cepat,  ia nampak berusaha menjelaskan sesuatu dari seberang dan kemudian menghilang. Sementara ku sibuk memikirkan kata-kata si bapak yang tidak keras, tapi meluncur membuat sakit telinga.

"Kok mau-muanya sih, disuruh antar ketempat begini?" suaranya makin mengecil terhalang jendela kaca yang perlahan menutup.

****

Bayangan pohon makin tinggi, matahari perlahan naik. Sebentar lagi mungkin bapak akan muncul dari kelokan. Kata-kata sudah kusiapkan bila bapak bertanya. Aku terbiasa bercerita apapun pada bapak sejak ibu masih ada.
Bapak bukan saja sabar dalam hidup, tapi juga sabar jadi pendengar.

Ternyata kantor percetakan tempat bapak bekerja  sering menerima orderan dari kantor ayah Gilang.
Karna pesanan mendadak dan kejar waktu, ia berusaha menemui bapak langsung saat hari libur.

"Jadi kamu ihlas kan,Rin? Kejadian itu jangan membuatmu terluka, apalagi dendam. Hari ini orang lain jadi bahan ujian kita, bukan tak mungkin di hari lain kita yang jadi bahan ujian orang lain" Itu ujung nasehat bapak setelah kuceritakan semua. Matanya seperti berharap aku mengerti akan arti sabar.

Walau sudah kutau orang tua kami berteman,tetap saja ku jatah pembicaraan dengan Gilang. Berusaha sekuat mungkin tak menceritakan kedatangan bapaknya kerumahku.Lebih suka menghindar di sekolah jika kutangkap gelagatnya ingin menghampiri. Aku bersyukur, lulus hingga akhir tak menampakkan kekagumanku yang mengarah ke...cinta. Akh, harus ku ejek diriku sendiri atas rasa itu.
Dan aku bersyukur, bisa menutup rapat kegembiraanku, waktu Rina cerita ada coretan puisi cinta untukku di lembaran akhir buku Gilang yang ia pinjam.

Kubiarkan pula teman-teman yang  heran atas perubahan kami. Seperti kubiarkan orang berpendapat, wanita dan pria tak bisa bersahabat karib. Sebab wanita mencari kenyamanan, sementara pria mencari kesempatan.

"Da, aku mah siapa atuh!" Begitu tulisan batin yang kuciptakan sendiri diam-diam...









4 comments:

  1. Sebetu;nya Gilang jatuh cinta ya mbak :)

    ReplyDelete
  2. Ceritanya begitu,Mak...hehe, ini lagi bikin cerpen karna tugas. Jd alurnya belum baik :)

    ReplyDelete
  3. ayuuk dilanjut, ntar gantian aku diajarin juga hehee

    ReplyDelete
  4. Hehehe...bukannya terbalik,Mak? Saya belum bisa lho, harusnya bikin cerpen dengan bahasa remaja sekarang. Tapi saya bisanya cuma bahasa remaja zaman "Mas Boy dan Emon" *Hadeehh!

    ReplyDelete